Jika Abu Bakar dikenal sebagai pemegang kelembutan, Umar sebagai pemegang ketegasan, maka Hudzaifah adalah pemegang rahasia Rasulullah ﷺ. Satu rahasia yang tidak diberikan kepada sahabat lain, bahkan kepada Abu Bakar dan Umar sekalipun.
Rasulullah ﷺ menitipkan kepadanya daftar nama orang-orang munafik di Madinah. Sebuah amanah yang sangat berat, yang membuatnya dikenal dengan gelar: Shahibus Sirri Rasulillah ﷺ - Pemegang Rahasia Rasulullah.
Jika Az-Zahrawain akan menjadi awan pelindung di Padang Mahsyar, maka amanah yang dipegang Hudzaifah adalah penjaga kemurnian barisan kaum Muslimin di dunia.
~ Siapakah Hudzaifah bin Al-Yaman?
Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Absi adalah sahabat dari kalangan Anshar. Ayahnya, Husail bin Jabir yang bergelar Al-Yaman, juga seo…
Kita hari ini mengenal Surah Al-Ahzab sebagai surah ke-33 dengan 73 ayat. Kita membacanya dalam 15 menit selesai. Padahal, di zaman Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar, surah ini panjangnya seperti Surah Al-Baqarah, bahkan lebih panjang.
Sebagian besar ayatnya telah Allah angkat lafazhnya dari mushaf, namun hukum dan pahalanya tetap kekal abadi hingga hari kiamat. Inilah rahasia besar tentang penjagaan Al-Qur'an yang hampir tidak pernah dijelaskan di majelis umum.
~ Kisah Surah Al-Ahzab yang Hilang
Surah Al-Ahzab adalah surah Madaniyah yang turun saat Perang Khandaq. Nama Al-Ahzab sendiri artinya Pasukan Sekutu, karena di dalamnya Allah menceritakan bagaimana bersekutunya seluruh musuh Islam untuk mengepung Madinah.
Namun ada hakikat lain yang hanya diketahui oleh para Huffazh generasi pertama.
Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, sahabat yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai Qari'ul Qur'an terbaik, berkata kepada Zirr bin Hubaisy:
كَمْ تَقْرَءُونَ سُورَةَ الْأَحْزَابِ؟ قَالَ: ثَلَاثًا وَسَبْعِينَ آيَةً. قَالَ: قَطُّ، لَقَدْ رَأَيْتُهَا وَإِنَّهَا لَتُعَادِلُ سُورَةَ الْبَقَرَةِ، وَلَقَدْ قَرَأْنَا فِيهَا: الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya: "Berapa ayat kalian baca Surah Al-Ahzab? Zirr menjawab: 73 ayat. Ubay berkata: Demi Allah, dulu ia sebanding dengan Surah Al-Baqarah panjangnya. Dan sungguh dahulu kami membaca di dalamnya ayat: 'Lelaki tua dan perempuan tua apabila berzina maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'"
(HR. Imam Ahmad No. 21245, An-Nasa'i dalam Sunan Kubra No. 7150, dishahihkan Ibnu Hibban)
Ini bukan berarti Al-Qur'an kita kurang. Justru inilah bentuk penjagaan Allah yang paling sempurna.
~ Dalil Shahih Tentang Nasakh Tilawah
Para ulama membagi Nasakh (penghapusan) menjadi 3 jenis, dan kisah Al-Ahzab adalah contoh paling nyata:
1. Nasakh Tilawah dan Hukumnya (Bacaan dan Hukumnya Dihapus)
2. Nasakh Tilawah Saja, Hukumnya Tetap (Bacaannya Dihapus, Hukumnya Kekal)
3. Nasakh Hukumnya Saja, Tilawahnya Tetap (Hukumnya Dihapus, Bacaannya Tetap)
Ayat Rajam termasuk jenis kedua. Lafazhnya diangkat oleh Allah dari mushaf agar tidak dibaca lagi sebagai Al-Qur'an, tetapi hukum rajam bagi pezina muhshan (yang sudah menikah) tetap wajib dan kekal, telah dipraktekkan Rasulullah ﷺ dan ijma' para sahabat.
Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: "Dahulu Surah Al-Ahzab dibaca 200 ayat di zaman Nabi ﷺ, setelah itu ketika mushaf Utsman ditulis, yang tersisa hanya yang ada sekarang."
(HR. Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam Fadhail Al-Qur'an)
Dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berdiri di atas mimbar dan berkata: "Jangan sampai kalian berkata 'Kami tidak menemukan ayat rajam di Kitabullah', karena Rasulullah ﷺ telah merajam dan kami pun merajam setelah beliau."
~ Hikmah Dibalik Hilangnya Sebagian Surah Al-Ahzab
1. Bukti Bahwa Al-Qur'an Dijaga Langsung Oleh Allah, Bukan Oleh Manusia.
Jika Al-Qur'an dijaga manusia, tentu manusia akan berusaha mempertahankan semua ayat agar terlihat banyak. Tetapi Allah menunjukkan kuasa-Nya: "Inna Nahnu Nazzalnadz Dzikra wa Inna Lahu La Hafizhun - Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr dan Kami yang akan menjaganya." (Al-Hijr: 9). Allah hapus sebagian lafazhnya sesuai kehendak-Nya, dan Allah jaga sisanya sesuai janji-Nya. Yang tersisa 73 ayat hari ini, itulah yang Allah kehendaki kekal hingga kiamat.
2. Ujian Keimanan: Apakah Kita Taat Pada Lafazh atau Pada Pemilik Lafazh?
Allah ingin menguji, apakah kita beriman kepada Al-Qur'an karena tulisannya, atau karena yang menurunkannya adalah Allah. Ketika ayat rajam lafazhnya diangkat, apakah hukumnya ikut berhenti? Tidak. Kaum mukminin tetap melaksanakan hukum rajam karena Rasulullah ﷺ melakukannya. Ini mengajarkan bahwa ketaatan kita bukan pada kertas mushaf, tetapi pada Allah dan Rasul-Nya.
3. Keringanan dan Kasih Sayang Allah Kepada Umat Ini.
Andai Surah Al-Ahzab tetap sepanjang Al-Baqarah, maka beban hafalan dan bacaan bagi umat yang ummi akan sangat berat. Allah angkat sebagian besarnya sebagai keringanan, namun Allah sisakan intisarinya: kisah ketaatan istri-istri Nabi, kisah Perang Ahzab, dan hukum hijab. Yang paling penting untuk umat akhir zaman justru yang disisakan.
4. Bahaya Besar Menganggap Mushaf Hari Ini Tidak Lengkap.
Inilah fitnah yang menjerat sebagian kelompok menyimpang. Mereka berkata "Al-Qur'an syiah lebih lengkap". Padahal para sahabat sendiri yang menyaksikan penghapusan itu, mereka pula yang sepakat atas mushaf Utsman yang ada di tangan kita hari ini. Ubay bin Ka'ab yang meriwayatkan Al-Ahzab pernah sepanjang Al-Baqarah, dia pula yang ikut dalam panitia penulisan mushaf Utsman dan menyetujui 73 ayat saja. Artinya, penghapusan itu adalah wahyu, bukan penghilangan oleh manusia.
Jangan bersedih karena Al-Ahzab yang kita baca hari ini pendek. Bersyukurlah, karena 73 ayat yang tersisa itu adalah yang Allah pilih untuk kita. Di dalamnya ada ayat tentang shalawat: "Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan nabi..." ayat yang tidak akan pernah dihapus hingga kiamat, sebagai jaminan bahwa nama Rasulullah ﷺ akan terus disebut.
Jagalah yang tersisa, maka Allah akan jaga kita sebagaimana Allah menjaga kitab-Nya.
Wallahu A'lam.
Sumber: Musnad Imam Ahmad No. 21245, Shahih Muslim - Kitab Al-Hudud, Fadhail Al-Qur'an karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam No. 153, Al-Itqan fi Ulumil Qur'an karya Imam As-Suyuthi Bab An-Nasakh.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar