}

SAAT ISRA MI'RAJ, RASULULLAH BERHENTI KARENA MENCIUM BAU KUBURAN INI

 Temukan 16 ide Batu batu indah dan lukisan batu | gambar yang indah, wallpaper bunga indah, wallpaper bunga, dan lainnya

Malam itu bukan malam biasa. Rasulullah ﷺ sedang diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Kecepatan melebihi cahaya.

Tiba-tiba di tengah kegelapan, beliau mencium sebuah aroma. Bukan wangi bunga surga. Tapi wangi dari dalam tanah. Wangi yang sangat kuat, menusuk, wangi misik murni.

Rasulullah bertanya kepada Jibril: "Wahai Jibril, wangi apa yang sangat harum ini?"

Jibril menjawab: "Itu adalah wangi dari kuburan Masyithah, tukang sisir anak Fir'aun, dan anak-anaknya."

Padahal Masyithah telah wafat 3000 tahun sebelum malam itu. Tapi bau jasadnya masih hidup.


~ PROLOG : WANITA MISKIN DI TENGAH ISTANA TERMEGAH DI DUNIA

Siapa Masyithah ? 
Ia bukan ratu. 
Ia bukan putri. 
Ia hanyalah seorang budak wanita. Tugasnya hanya satu: menyisir rambut putri Fir'aun.

Di istana yang penuh dengan emas, ia adalah wanita paling miskin. Tidak ada yang mengenalnya. Tapi di langit, namanya sangat terkenal.

Karena di dalam istana yang semua orang menyembah Fir'aun, ia sendirian menyembah Allah.

~ BAB 1: SATU KATA YANG MEMBONGKAR RAHASIANYA SELAMA BERTAHUN-TAHUN

Suatu hari, saat ia menyisir rambut putri Fir'aun, sisir itu terjatuh dari tangannya.

Secara spontan ia berkata: "Bismillah."

Putri Fir'aun mendengarnya. Ia bertanya : "Apakah ayahku yang kau maksud?"

Masyithah menjawab dengan suara yang gemetar tapi tegas: "Bukan. Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah."

Putri itu melaporkan kepada Fir'aun. 
Fir'aun murka. Ia memanggil Masyithah.

Fir'aun berkata: "Apakah kau punya Tuhan selain aku?"

Masyithah menjawab: "Ya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."

Itu adalah kalimat termahal yang pernah diucapkan seorang budak wanita di muka bumi.

~ BAB 2 : KUALI TEMBAGA YANG MENDIDIH DAN BAYI YANG BERBICARA

Fir'aun tidak langsung membunuhnya. Ia ingin menyiksanya secara perlahan.

Ia memerintahkan untuk didatangkan sebuah kuali besar dari tembaga, diisi minyak dan air, lalu dipanaskan sampai mendidih.

Kemudian ia datangkan anak-anak Masyithah satu per satu. Empat orang anak, yang paling besar masih remaja, yang paling kecil masih bayi yang sedang ia susui.

Di depan mata Masyithah, anak pertama dilemparkan ke dalam kuali. Tulangnya terlepas dari dagingnya. Wafat syahid.

Anak kedua, anak ketiga, sama.

Tinggallah ia dan bayi yang ada di gendongannya. Tangannya gemetar. Hatinya hampir luruh. Ia adalah seorang ibu.

Di saat imannya hampir goyah, bayi yang belum bisa berbicara itu, dengan izin Allah, berkata :

"Yaa Ummah, iqtaḥimii fa inna 'adzaabad dunya ahwanu min 'adzaabil aakhirah."

"Wahai Ibuku, terjunlah. Sungguh adzab dunia ini lebih ringan daripada adzab akhirat."

Mendengar itu, Masyithah memejamkan mata, memeluk bayinya, dan terjun bersama ke dalam kuali mendidih itu.

Mati syahid bersama anak-anaknya dalam satu hari.

~ BAB 3 : MENGAPA TULANGNYA WANGI 3000 TAHUN ?

Jasad mereka dibuang. Tidak dimakamkan dengan layak. Bahkan tulang-belulangnya berserakan.

Tapi Allah tidak membiarkan begitu saja.

Allah perintahkan tanah untuk menjaga tulang mereka. Allah simpan wanginya.

3000 tahun berlalu....

Fir'aun dan istananya hancur menjadi debu. Piramidanya menjadi batu bisu. Kerajaannya lenyap ditelan lautan.

Tapi tulang Masyithah tetap wangi. Sampai Rasulullah menciumnya di malam Isra.

Sampai hari ini, di Mesir, para ulama masih menunjukkan lembah tempat kuali itu dulu diletakkan. Tanahnya masih berbau berbeda dari tanah sekitarnya.

Mengapa ? Karena saat hidup, ia menjaga satu kalimat : "Bismillah".

Saat semua orang di istana berkata "Bismi Fir'aun" [dengan nama Fir'aun], ia sendirian berkata "Bismillah".

Maka Allah jaga kalimat itu kembali dengan penjagaan abadi: tulang yang tidak hancur, dan wangi yang tidak hilang selama ribuan tahun.

Allah berfirman :

«يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ»

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." [QS. Ibrahim: 27]

---

PENUTUP

Masyithah tidak menjaga skincare. Tidak menjaga followers. Ia hanya menjaga satu kalimat Tauhid di dalam istana kekafiran.

Dan Allah balas dengan wangi yang abadi selama 3000 tahun.

Kita hari ini hidup bebas mengucap Bismillah. Tidak ada kuali mendidih di depan kita.

Lalu apa alasan kita masih malu menjaga kalimat itu ?

Wallahu a'lam.

*** 

Referensi Ringkas :
HR. Ahmad No. 2821, Ath-Thabrani - Hadits Isra tentang wangi kubur Masyithah - Hasan
Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir - Kisah Masyithah binti Fir'aun
QS. Ibrahim: 27

Share:

Kenapa banyak kemungkaran dalam acara amalan bid'ah

 62 ide Batu indah | akik, batu akik, batu permata

Ada dua hal negatif viral secara bersamaan minggu ini, satu kericuhan acara Maulid Nabi di Jakarta yang mengganggu warga setempat karena menyalakan kembang api padahal sudah tengah malam, satunya dari acara haulan seorang habib di Solo, yang sampah dari acara tersebut memenuhi jalan jalan kota Solo, 
Dan keduanya amalan bid'ah, bukan amalan Sunnah. 

Jadi ingat ada teman bertanya kenapa sering terjadi berita viral kemungkaran dalam acara Maulid Nabi? 

Saya jawab "Ya karena Maulid nabi adalah amalan bid'ah, tidak pernah diamalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, tidak pernah diamalkan para sahabat Nabi, itu kenapa disebut amalan bid'ah, dan bahkan tidak juga pernah diamalkan para imam madzhab padahal mereka ulama terbaik dimuka bumi yang pernah hidup, kitab mereka menjadi sumber hukum Islam sampai hari ini,
 
Ya karena Maulid nabi adalah amalan bid'ah te tu tidak ada panduan untuk tata laksana perayaannya, jika kita ingin mengetahui bagaimana shalat yang benar ada ribuan kitab ulama menjelaskan shalat, atau kita ingin mengetahui puasa yang benar seperti apa maka akan ribuan ulama menulis tata cara puasa sesuai sunnahnya, atau juga misal kita ingin mengetahui wudhu yang benar sesuai sunnah akan ada ribuan kitab ulama menjelaskan wudhu yang benar dan seterusnya. 

Sementara jika kita ingin mengetahui bagaimana tata cara perayaan Maulid nabi yang benar sesuka sunnahnya, maka tidak ada satupun kitab yang membahas ini, 

Alias tata caranya liar, suka suka yang melaksanakan, mau pakai baca Quran dulu baru ceramah, atau ceramah dulu baru ada bacaan Quran, kemudian diakhiri doa,  atau juga makan bersama dulu baru ceramah, atau misal pawai obor baru ceramah dan seterusnya, ukurannya cuma yang penting baik menurut yang melaksanakannya, akhirnya saking liarnya ada sebagian melaksanakan perayaan Maulid nabi dengan konser musik, joget pargoy, dan seterusnya, karena menurut pelakunya "ini Khan baik apa salahnya? ".

Sebenarnya kalau mau jujur amalan bid'ah sudah menunjukkan kesesatan amalan tersebut dengan sendirinya, tanpa kita sebutkan amalannya sesat... Allahua'lam

------------

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

Sumber Referensi Rumaysho. Com

By: Siswo Kusyudhanto

Share:

Syafa’at Beberapa Nabi yang Ditolak oleh Allah

 3 golongan yang syafaat tidak bisa menebusnya, padahal syafaat itu sangat berguna di akhirat nanti ketika amalan kita tak ada yang bisa kita andalkan misalkan syafaat langsung dri Allah, syafaat melal

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 :

Apa benar, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memohonkan ampun untuk ibunya, lalu Allah melarangnya. Berarti itukan syafaat, kenapa bisa ditolak?
_____

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Syafa’at secara bahasa berasal dari kata as-Syaf’u [الشفع] yang artinya genap. Allah berfirman,

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ . وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Demi waktu fajar, demi 10 malam, demi yang genap dan yang ganjil. 
(📖QS. al-Fajr: 1-3)

Disebut Syafa’at karena dia menggenapkan hak tunggal Allah dalam mengampuni hamba-Nya.

Ilustrasinya, 👇

Satu-satunya Dzat yang berhak mengeluarkan hamba dari neraka menuju surga hanyalah Allah. Namun terkadang Allah memberikan kesempatan bagi sebagian hamba-Nya yang soleh untuk menyelamatkan keluarganya atau temannya atau muridnya, sesuai yang Allah kehendaki. Sehingga, seolah sang hamba menggenapkan hak tunggal Allah dalam menyelamatkan manusia dari neraka.

Sehingga ketika ada orang yang hendak menyelamatkan keluarganya, agar diampuni oleh Allah, berarti dia sedang memberikan syafaat kepadanya.

Ada beberapa nabi yang berusaha menyelamatkan keluarganya yang mati kafir, namun permohonan mereka ditolak oleh Allah. Diantaranya, 👇

➡️[1] Permohonan ampunan nabi Nuh – ‘alaihis salam – untuk putranya.

Allah berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ . قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. 
(📖QS. Hud: 45-46).

Nuh sangat berharap anaknya selamat ketika peristiwa banjir itu. Namun anaknya lebih memilih untuk kafir, tidak mau mengikuti bapaknya. Nabi Nuh ‘alaihis salam sangat berharap anaknya diselamatkan, namun Allah memutuskan anaknya ditenggelamkan.

➡️[2] Permohonan ampunan Nabi Ibrahim – ‘alaihis salam – untuk ayahnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ ، فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِى فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ . فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ ، إِنَّكَ وَعَدْتَنِى أَنْ لاَ تُخْزِيَنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، فَأَىُّ خِزْىٍ أَخْزَى مِنْ أَبِى الأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّى حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ، ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ ، فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ

Ibrahim bertemu ayahnya Azar di hari kiamat. Di wajahnya Azar ada kotoran dan berdebu. Ibrahim mengatakan kepada Azar,

“Bukankah aku telah katakan kepadamu, jangan mengingkariku!”

“Mulai hari ini, saya tidak akan mengingkarimu..” jawab ayahnya.

Lalu Ibrahim mengatakan,

“Wahai Rabku, Engkau telah memberi janji kepadaku, bahwa Engkau tidak akan membuatku sedih di hari kiamat. Kesedihan mana lagi yang lebih berat, dibandingkan kesedihan karena ayahnya dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Kemudian Allah menjawab,

“Sesungguhnya Aku haramkan surga bagi orang kafir.” 
(📚HR. Bukhari 3350).

Ibrahim sangat berharap ayahnya masuk islam. Namun ayahnya tetap berpihak pada agama paganis, sehingga dia mati kafir. Ibrahim mencintai ayahnya, dan berharap ayahnya bisa diampuni. Namun Allah menolak harapan Ibrahim untuk membela ayahnya, karena dia mati kafir.

Allah menceritakan harapan Ibrahim,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. 
(📚QS. al-Mumtahanah: 4)

Termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri pernah meminta izin untuk memohonkan ampunan bagi ibunya, namun Allah tidak mengizinkannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ziarah ke makam ibunya, lalu beliau menangis, hingga menangis pula orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda,

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى

“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan.” 
(📚HR. Muslim 108)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena ibunya tidak boleh didoakan agar diampuni. Artinya ibunya mati dalam kondisi kafir. Dan setiap mukmin dilarang memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir 
(📚Syarh Shahih Muslim, 3/402).

Allah berfirman,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” 
(📖QS. At Taubah: 113)

Sehingga kata kunci untuk bisa mendapatkan syafaat para nabi kembali kepada tauhid. Siapa yang tauhidnya benar, dia akan ditolong oleh Allah denga syafaat beliau.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

Siapa orang yang akan berbahagia karena mendapatkan Syafaat anda di hari kiamat?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang meng-ikrarkan ‘Laa ilaaha illallaah ikhlas dari dalam hatinya.’ 
(📚HR. Bukhari 6570).

Mari kita berjuang untuk menjadi ahli tauhid, semoga kita mendapat syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang soleh di saat kita membutuhkan pertolongan dari Allah.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 
(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/33231-syafaat-beberapa-nabi-yang-ditolak-oleh-allah.html

Share:

Apakah Boleh Mengatakan Allah Bertempat di Arsy?

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert ...

Pertanyaan:

Izin bertanya ustadz, jika Allah ta’ala ada di atas Arsy apakah berarti Allah ta’ala bertempat di Arsy? Apa benar demikian? Bagaimana dengan perkataan “Allah ada tanpa tempat”? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Pertama, akidah bahwa Allah ta’ala ada di atas Arsy-Nya yang mulia adalah hal yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara tegas dan lugas. Di enam tempat di dalam al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia (Allah) istiwa di atas ‘Arsy.” (QS. al-A’raf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, al-Furqan: 59, as-Sajdah: 4, dan al-Hadid: 4)

Allah ta’ala juga berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Kemudian ar-Rahman (yaitu Allah) beristiwa di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Dan dalil ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya. Demikian juga dalil dari as-Sunnah. Di antaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا قَضَى االلهُ الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إنَّ رَحْمَتي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menetapkan takdir seluruh makhluk, Allah menulis (di Lauhul Mahfudz) ketika berada di atas Arsy suatu perkataan yaitu: sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari no.7453, Muslim no.2751)

Ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang diyakini oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para salafus shalih, dan para imam Ahlussunnah, dan tidak ada khilafiyah di antara mereka dalam masalah ini. Imam adz-Dzahabi dalam kitab al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar menukil perkataan Ishaq bin Rahuwaih (wafat 238H), bahwa beliau berkata:

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy’, ini adalah ijma para ulama yaitu bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, dan Allah mengetahui segala sesuatu hingga di bawah bumi yang ketujuh.” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar karya adz-Dzahabi, no. 179)

Qutaibah bin Sa’id (wafat 240H) mengatakan:

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله: (الرحمن على العرش استوى)

“Ini adalah pendapat para imam Islam, imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, yaitu bahwa kami mengetahui Rabb kami ada di langit ketujuh, di atas Arsy, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5).” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, no. 470)

Ibnu Bathah (wafat 387H) mengatakan:

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين، وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه، فوق سماواته بائن من خلقه، وعلمه محيط بجميع خلقه، لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية

“Kaum muslimin dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in serta para ulama kaum mu’minin bersepakat bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy, di atas langit-langit dan terbedakan dengan makhluk-Nya. Adapun ilmu Allah meliputi seluruh makhluk. Tidak ada yang menolak dan mengingkari keyakinan ini kecuali orang-orang yang terpengaruh mazhab hululiyah.” (Al-Ibanah al-Kubra, 7/136)

Kedua, istiwa artinya tinggi dan menetap di atas sesuatu. Dalam al-Mu’jam al-Muhith disebutkan,

اسْتَوَى على كذا، أو فوقه: علا وصَعد

“Istiwa di atas sesuatu artinya: tinggi dan naik (ke atas sesuatu).”

Dalam ash-Shihhah fil Lughah disebutkan,

استوى على ظهر دابته، أي علا واستقر

“Istiwa di atas hewan tunggangan, artinya: tinggi dan menetap (di atas hewan tunggangan).”

Maka Allah istiwa di atas Arsy maknanya Allah Maha Tinggi berada di atas Arsy-Nya.

Ketiga, adapun perkataan “Allah bertempat di atas Arsy” ini tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak ada nash yang menyatakan Allah memiliki sifat al-makan (tempat). Tidak pula dinukil dari para salafus shalih bahwa mereka mengatakan “Allah bertempat di atas Arsy” atau yang semakna dengannya.

Sehingga sifat ini tidak bisa kita tetapkan dan juga tidak langsung kita ingkari. Dalam menanggapi kalimat ini, perlu diperjelas terlebih dahulu apa makna “tempat” yang dimaksudkan. Jika “tempat” yang dimaksud adalah tempat sebagaimana yang ada pada makhluk, yang membatasi sesuatu yang ada di dalamnya, maka Allah tidak bertempat. Namun jika “tempat” di sini maksudnya adalah Arsy, maka kita wajib menetapkan bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy, tidak boleh diingkari.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

إن أراد بنفي المكان : المكان المحيط بالله – عز وجل – فهذا النفي صحيح ، فإن الله تعالى لا يحيط به شيء من مخلوقاته ، وهو أعظم وأجل من أن يحيط به شيء ، كيف لا ( والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه ) ؟ .

“Jika yang dimaksud dengan “tempat” adalah tempat yang meliputi Allah azza wa jalla, maka pengingkaran ini benar (yaitu bahwa Allah tidak bertempat). Karena Allah ta’ala tidak diliputi oleh satu pun dari makhluk-Nya. Bahkan Allah lebih agung dan lebih mulia untuk bisa diliputi oleh suatu makhluk. Bagaimana tidak? Bukanlah dalam hadits disebutkan: ‘Bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya di hari Kiamat. Langit semuanya dilipat di tangan kanan-Nya?’”

وإن أراد بنفي المكان : نفي أن يكون الله تعالى في العلو ، فهذا النفي غير صحيح ، بل هو باطل بدلالة الكتاب والسنة ، وإجماع السلف والعقل والفطرة

“Namun jika yang dimaksud “Allah tidak bertempat” adalah Allah tidak Maha Tinggi (di atas Arsy), maka ini keliru. Bahkan ini adalah kebatilan yang telah dibantah oleh al-Qur’an, as-Sunnah, ijma salaf, akal sehat, dan fitrah yang lurus.” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/196-197)

Ibnul Qayyim dalam syair Nuniyah-nya mengatakan:

والرب فوق العرش والكرسي لا * يخفى عليه خواطر الإنسان

لا تحصروه في مكان إذ تقو * لوا ربنا حقا بكل مكان

نزهتموه بجهلكم عن عرشه * وحصرتموه في مكان ثان

لا تعدموه بقولكم لا داخل * فينا ولا هو خارج الأكوان

Rabb berada di atas ‘Arsy dan Kursi, namun tidak ada yang samar bagi-Nya termasuk apa yang ada di benak manusia.

Janganlah kalian batasi Allah dengan suatu tempat, dengan berkata “Allah ada di mana-mana.“

Kalian berusaha mengingkari Allah di atas Arsy dengan kejahilan kalian, justru kalian telah membatasi Allah pada tempat yang lainnya.

Dan janganlah kalian meniadakan-Nya dengan mengucapkan “Allah tidak berada di dalam (alam) bersama kita, dan Dia juga tidak berada di luar alam.” (Nuniyah Ibnul Qayyim, hal. 295)

Perhatikan, di sini beliau menetapkan Allah di atas Arsy namun menafikan pernyataan bahwa Allah dibatasi tempat, yaitu tempat dalam konsep makhluk.

Keempat, Allah ta’ala istiwa di atas Arsy tidak berarti Allah butuh kepada Arsy untuk menetap. Karena beberapa poin berikut: 

1. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy bukanlah bermakna Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy. Allah berada di atas ‘Arsy namun tidak berarti Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy sehingga Allah butuh kepada ‘Arsy.

2. Allah itu al-Ghaniy, tidak butuh kepada makhluk-Nya termasuk ‘Arsy. Justru ‘Arsy yang butuh kepada Allah. Karena semua makhluk itu butuh kepada Allah agar ia tetap eksis, termasuk juga ‘Arsy. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41)

3. Menetapnya A di atas B, tidak melazimkan bahwa A pasti butuh pada B. Buktinya langit ada di atas bumi, namun langit tidak butuh pada bumi. Padahal langit dan bumi adalah makhluk Allah. Maka bagaimana lagi perkaranya pada Allah ‘Azza Wa Jalla yang qaadirun ‘ala kulli syai’, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah yaf’alu maa yuriid, Maha Kuasa untuk melakukan apa yang Ia kehendaki? Maka lebih mungkin lagi bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy tanpa butuh kepada ‘Arsy.

4. Istiwa Allah tentu tidak serupa dengan istiwa makhluk. Jangan digambarkan bahwa Allah ta’ala menetap di atas ‘Arsy dalam keadaan duduk, atau berbaring, atau bersila, atau semacamnya sebagaimana jika makhluk ber-istiwa di atas sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

Walhasil, perkataan “Allah ta’ala bertempat di atas Arsy” tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak pula dinukil dari para salafus shalih. Oleh karena itu hendaknya perkataan seperti ini dihindari. Sudah cukup bagi kita untuk mengatakan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy atau Allah ta’ala Maha Tinggi di langit atau Allah ta’ala Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

*

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Share:

Apakah Microsleep Membatalkan Wudhu?

Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Microsleep adalah tidur yang tidak menyeluruh dan tidak sama seperti tidur biasa manusia di malam hari. Microsleep umumnya berlangsung singkat beberapa detik sampai 2 menit akibat lelah dan mengantuk. Sebagian otak ada yang “tertidur” dan ada yang masih aktif, bahkan microsleep bisa terjadi saat mata masih terbuka. Hal ini terjadi misalnya ketika menyetir mobil.

Bisa disimpulkan bawa microsleep merupakan “tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh”. Apakah tidur seperti ini membatalkan wudhu? Pendapat terkuat adalah TIDAK membatalkan wudhu karena termasuk “naumun yasir/ naumun qalil” yaitu tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh.

Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik yang menjelaskan bahwa para Sahabat menunggu shalat sampai kepala mereka terkantuk-kantuk (mau jatuh), kemudian shalat tanpa mengulang wudhu.

Anas bin Malik berkata,

ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻌِﺸﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳَﻠَّﻢَ ﺣﺘﻰ ﺗﺨﻔِﻖَ ﺭﺅﻭﺳﻬﻢ ﺛﻢ ﻳُﺼﻠُّﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺘﻮﺿﺆﻭﻥ

“Sesungguhnya para shahabat radhiallahu anhu menunggu pelaksanaan shalat Isya pada masa Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam sampai kepalanya terkantuk-kantuk, kemudian mereka shalat tanpa berwudu.”[1]

Al-Mawardi menjelaskan,

: ﺃﻥ ﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﻧﺎﻗﺾٌ ﻟﻠﻮﺿﻮﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﻋﺪ ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻢ

“Tidur itu membatalkan wudhu kecuali tidur yang sedikit ketika duduk atau berdiri.” [2]

Demikian juga penjelasan syaikh Al-‘Ustaimin,

ﻭﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﺍﻟﻨَّﺎﻗﺾ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ : ﻛُﻞُّ ﻧﻮﻡ ﺇﻻ ﻳﺴﻴﺮ ﻧﻮﻡ ﻣﻦ ﻗﺎﺋﻢ، ﺃﻭ ﻗﺎﻋﺪ

“Tidur membatalkan wudhu menurut pendapat mazhab (hanabilah), semua jenis tidur kecuali tidur yang sedikit ketika berdiri dan duduk.” [3]

Patokan tidur sedikit atau banyak adalah apakah sudah hilang kesadaran menyeluruh atau tidak sebagaimana kita tidur nyenyak di malam atau siang hari.

Catatan kaki:

[1] HR. Muslim, no. 376. Dalam riwayat Al-Bazzar (dikatakan bahwa) ‘mereka berbaring’

[2] Al-Inshaf 2/20

[3] Syarhul Mumti’ Ala Zaadil Mustaqni’

Source; muslimorid

Share:

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah)

 Arab Saudi Beli Pasir Dari Negara Lain, Padahal 95 Persen ...

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah) adalah salah satu tanda besar kiamat dalam Islam. Allah SWT akan mengutus angin seharum kasturi dan selembut sutra dari arah Yaman atau Syam untuk mencabut nyawa seluruh orang beriman—bahkan yang imannya sekecil biji sawi—sehingga hanya tersisa manusia terburuk di bumi saat kiamat terjadi

👉 Waktu Kejadian: Angin ini datang setelah terbunuhnya Dajjal oleh Nabi Isa AS, musnahnya Ya'juj dan Ma'juj, serta terbitnya matahari dari barat

👉 Tujuan: Sebagai bentuk kasih sayang Allah (kemuliaan) untuk mengambil ruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mengalami kedahsyatan kiamat.

👉 Karakteristik: Angin ini berhembus lembut, terasa nyaman, dan membawa aroma harum, masuk ke bawah ketiak dan merenggut nyawa orang mukmin.

👉 Akibat: Tidak ada lagi orang yang beriman atau menyebut nama Allah di muka bumi. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia kafir yang buruk perilakunya, dan kepada merekalah kiamat terjadi

Peristiwa ini menandai berakhirnya masa-masa kedamaian setelah turunnya Nabi Isa dan dimulainya fase kehancuran total bagi umat manusia.

 

**** 

Share:

TAHAJJUD, MENGHAPUS DOSA-DOSAMU

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Tahajjud adalah jam-jam rahmat ketika dunia tertidur, tapi langit terbuka.

Di sepertiga malam, Allah memanggil hamba-Nya yang ingin diampuni.

Walau lelah dan mengantuk, bangunlah, karena di sana terhapus dosa-dosamu.

Air wudhu di malam hari, menjadi saksi atas keikhlasanmu mendekat kepada Allah.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang bangun untuk shalat malam, kecuali karena Allah ingin menghapus dosanya.”

Tahajjud bukan untuk mereka yang kuat, tapi untuk mereka yang ingin dikuatkan oleh Allah.

Jangan biarkan kantuk menunda taubatmu yang bisa jadi esok tak sempat.

Setiap sujud di keheningan malam, sedang membersihkan noda dalam hatimu.

Ketika engkau memaksa diri untuk tahajjud, sesungguhnya Allah sedang memudahkan langkahmu menuju ampunan.

Maka paksakanlah, karena setiap rakaat tahajjud adalah langkah menuju surga-Nya. 

(HR. Imam Tirmidzi & Ahmad )

Share:

IMAM SYAFI’I TABARRUK KE KUBURNYA IMAM ABU HANIFAH SETIAP HARI?

 Edisi Bantahan 

Kereta padang pasir — Mimbar Rakyat

Ada sebuah riwayat yang tertuang dalam tarikh baghdadi tentang Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk pembenaran bolehnya tabarruk ke kuburan orang yang telah mati. 

Berkata Imam Syafii rahimahullah, 

 إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم، يعني زائراً، فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين، وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده، فما تبعد عني حتى تقضى. تاريخ بغداد  (1/123)

"Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku datang ke kuburannya SETIAP HARI, maka apabila aku punya hajat aku sholat dua rakaat dan datang ke kuburannya lantas aku minta kepada Allah di sana, tidak lama aku keluar dan terkabul hajat" Tarikh Baghdadi 1/123. 

Hikayat ini tidak shahih dan penuh kedustaan menurut banyak ulama, diantaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

" والحكاية المنقولة عن الشافعي أنه كان يقصد الدعاء عند قبر أبي حنيفة من الكذب الظاهر " انتهى." إغاثة اللهفان " (1/246)

Hikayat yang dinukil dari Imam Syafii, bahwasanya dia pergi berdoa disisi kubur Imam Abu Hanifah diantara dusta yang jelas. (Ighatsatul Lahfan 1/246). 

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dan ulama lainnya, bahwa riwayat itu tidak shahih, kalau seandainya tabarruk kepada orang mati itu diperbolehkan, maka kubur para sahabat di Mesir tempat tinggal Imam Syafii dan di Baghdad tempat Imam Abu Hanifah itu banyak, itu lebih utama, namun tidak ada riwayat Imam Syafi’i rahimahullah tabarruk ke kuburnya para sahabat. 

Dan yang lebih mengherankan lagi, Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah ada di Baghdad, sedangkan Imam Syafii rahimahullah tinggal di Mesir, apa Imam Syafii terbang atau pakai pesawat jet? 

Ada lagi yang ngeyel, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad. Boleh jadi ketika tinggal di Baghdad bertabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah. 

Betul, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad, bahkan dua kali tinggal disana, namun sibuk belajar dan sibuk mengajar, serta menulis kitab. Tidak sibuk setiap hari mengunjungi kubur Imam Abu Hanifahrahimahullah untuk tabarruk.

Kedatangan pertama (sekitar 184 H), diundang oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan belajar dari Muhammad bin Hasan al-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dan periode kedua (sekitar 195 H) untuk mengajarkan ilmu dan menulis kitab.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

RIWAYAT TANPA SANAD CACAT

 Edisi Bantahan

Misteri Batu Al Naslaa: Keajaiban ...

Riwayat Ibnu Hibban yang bertabarruk ke kuburnya Ali Ridho memang tidak ada sanadnya, sebagaimana diakui sendiri oleh orang yang saya Screenshot.

Sebelum membahas pentingnya sanad, terlebih dahulu dibahas, apa itu sanad.

Sanad dari segi bahasa, 

المعتمد، وسمي كذلك؛ لأن الحديث يستند إليه، ويعتمد عليه.

Al Mu'tamad, dinamakan demikian karena sesungguhnya hadits itu disandarkan kepadanya dan bergantung padanya. 

Sedangkan dari segi istilah sanad itu,

سلسلة الرجال الموصلة للمتن. 
كتاب تيسير مصطلح الحديث
[محمود الطحان]"

Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits) yang menyampaikannya pada matan (hadits). (Kitab Taisir Mustalah al-Hadits adalah kitab karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan). Sumber : https://shamela.ws/book/8681/15

Mempelajari dan mengetahui sanad sangatlah penting, karena sanad itu bagian dari agama. Dan riwayat tanpa sanad adalah cacat.

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Sesungguhnya sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim].

Berkata Al-Hakim al-Naisaburi rahimahumullah,

فلو لا الإسناد وطلب هذه الطائفة له وكثرة مواظبهم على حفظه,لدرس منار الإسلام ولتمكن الإلحاد والبدع منه.وبوضع الأحاديث وقلب الأسانيد.فإن الأخبار إذا تعرت عن وجود الأسانيد فيها,كانت بترا

Kalaulah sanad ini tidak ada dan usaha sebagian ummat untuk mencarinya serta konsistensi mereka dalam menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, dan membuka peluang bagi orang-orang mulhid dan pelaku bid’ah untuk memalsukan hadis serta mengubah sanadnya, karena riwayat tanpa sanad adalah riwayat yang cacat (terputus)." (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadis).

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

مثل الذي يطلب أمر دينه بلا إسناد كمثل الذي يرتقي السطح بلا سلم

Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Fathul Mughits].
 
Dan berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah 

بيننا وبين القوم القوائم (يعني الاسناد).

Yang membedakan antara kita dengan kaum lain (ahlul bid'ah dan yang menyerupai mereka) adalah sanad.(Muqaddimah Shahih Muslim). Sumber : https://shamela.ws/book/8754/8

Dalam Syarah Shahih Muslim,  Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, 

أَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ 

Sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia kehendaki. (Syarah Shahih Muslim).

Dahulu sebelum terjadi fitnah, para ulama tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah timbul berbagai fitnah dengan maraknya pemahaman menyimpang dan berbagai bid’ah, maka mereka menanyakan tentang sanad. 

Berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah,

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis mereka. (Muqaddimah Shahih Muslim).

Sekali lagi, sanad sangatlah penting, dan ini merupakan senjatanya orang-orang mukmin. Riwayat tanpa sanad, itu tertolak dan cacat, sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh kang Kuncoro dan sekawanannya. 

Berkata Sofyan Ats-Tsauri rahimahumullah,

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]"

AFM 

Share:

AZAN DUA KALI DI SHALAT JUM’AT

 Edisi Bantahan 
 
Kisah Dua Sahabat di Padang Gurun ...

Mengenai perayaan maulid, tawasul dan tabarruk kepada kuburan sudah banyak dibahas oleh ustadz-ustadz salafi, silahkan merujuk ke tulisan-tulisan mereka di website-website mereka, di medsos atau di ceramah-ceramah mereka yang tersebar di youtube, tv dan radio sunnah dan media lainnya, saya tidak perlu lagi membahasnya. 

Yang saya akan bahas adalah poin tentang perkataan, "Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak."

Mengenai sebagian salafi atau pondok-pondok pesantren salafi yang di waktu shalat jumat hanya azan satu kali tidak azan dua kali, karena mereka mengikuti amalan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, dan amalan para sahabat di masa Abu Bakar dan Umar. Apa dalilnya? Perhatikan dalil di bawah ini.

Berkata Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu,

إن الأذان يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام يوم الجمعة على المنبر في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان في خلافة عثمان رضي الله عنه وكثروا أَمَرَ عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فإذا به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك

“Azan pada hari Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di mimbar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika tiba masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dan jumlah jemaah semakin banyak, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga di Zaura’ (sebuah tempat di pasar). Dan sejak saat itu, hal tersebut terus dilakukan.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud azan ketiga, yakni azan dua kali dan sekali iqamat. Karena iqamat juga diartikan adzan.

Berkata Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

"Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau. (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan azan dua kali diwaktu shalat jumat, apakah salafi ahlussunnah membid'ahkannya? Tentulah tidak, karena salafi ahlussunnah selalu berlandaskan dalil dalam berpendapat. 

Di dalam beragama seseorang diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin. Azan satu kali di hari jumat adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan  Umar radhiyallahu anhuma, sedangkan azan dua kali di shalat jumat adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang diperintahkan oleh Utsman Bin Affan radhiyallahu anhu dan para sahabat sepakat tentang amalan ini.

Oleh karena itu kedua amalan ini (azan satu kali atau azan dua kali di shalat jumat) boleh diamalkan karena itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah khulafaur rasyidin. 

Berkata Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu, 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!

Beliau bersabda: ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dan fatwa ulama-ulama salafi ahlussunnah di Saudi juga demikian. Dan praktek azan dua kali di hari jumat diamalkan sampai sekarang di masjidil haram dan masjid Nabawi. 

Maka tidak benar, salafi ahlussunnah tidak mengamalkan amalan azan dua kali di shalat jumat, wong di Saudi saja yang dikatakan orang pusatnya salafi (yang mereka katakan pusatnya wahabi) mengamalkan sunnah khulafaur rasyidin ini. Dan Al Lajnah Ad Daimah (MUInya Saudi) dan ulama kibar Saudi telah memfatwakannya.

Al Lajnah Ad Daimah (MUI nya Saudi) ditanya,

هل الأذان الأول يوم الجمعة بدعة؟

Apakah adzan pertama pada hari Jum’at itu bid’ah?”

Mereka menjawab,

ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضو ا عليها بالنواجذ ” . الحديث . والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس ؛ أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الأول – الآن – ، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين .
والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجه وأبو داود واللفظ له عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ، فأذن به على الزوراء ، فثبت الأمر على ذلك . وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً .. وبالله التوفيق .
اللجنة الدائمة
Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Peganglah oleh kalian sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin setelahku yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Al Hadits). Adzan pada hari Jum’at pada awalnya dilakukan ketika imam sudah naik mimbar, ini terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu, ketika masa kekhilafahan Utsman dan penduduk sudah banyak, Utsman memerintahkan adzan pertama pada hari Jumat -hingga sekarang- dan itu bukanlah bid’ah sebab itu merupakan bagian dari perintah mengikuti sunnah al khulafa ar rasyidin. Dasar hal ini adalah riwayat dari Al Bukhari, An Nasa’i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, dan ini lafazh darinya, dari Ibnu Syihab: telah mengabarkan aku As Saib bin Yazid, bahwa pada hari Jumat adzan pertama kali dilakukan saat imam duduk di atas mimbar, ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman manusia semakin banyak, dia memerintahkan adzan ketiga pada hari Jum’at. Maka, dilakukan adzan di Zaura’ dan telah tetaplah perintah itu. Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari, bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat. Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan adzan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti. Wabillahit tawfiq. (Al Lajnah Ad Daimah).

Berkata Syeikh Shalih Fauzan hafidzahullah, 

الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان ٣/٣٧."

Adzan pertama adalah sunnah khulafaurrasyidin yang telah diperintahkan oleh Utsman ra di masa kepemimpinannya. Hal itu dilakukan ketika penduduk semakin banyak dan rumah-rumah semakin berjauhan, maka dibutuhkan orang yang mengingatkan bahwa waktu shalat Jumat hampir tiba, hingga menjadi sunnah di masa kita sekarang. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,"Peganglah sunnahku dan sunnah khualfa' rasyidin. Dan Ustman termasuk khulafa' rasyidin, Beliau telah melakukannya dan disetujui oleh semua shahabat saat itu, dari muhajirin dan anshar. Maka jadilah sunnah yang tetap.

والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار

Kami memandang masalah ini luas. Mereka yang adzan satu kali tetap berpegang pada Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan yang adzan dua kali, juga mengikuti Utsman bin Affan dan semua shahabat muhajiriin dan anshar." (Al-Muntaqa min Fatawa al-Shaykh Salih al-Fawzan).

AFM

Copas dari berbagai sumber.

Share:

DUA SEBAB KESESATAN

 Edisi Bantahan
 
Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Salafi itu punya metode atau istilah orang slogan dalam beragama, "Kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafushshaleh."

Jangan dipotong hanya slogan kembali kepada alquran dan assunnah. Kenapa demikian? Simaklah pembahasan dibawah ini.

PERTAMA, Sebab tersesatnya manusia atau suatu kelompok, dikarenakan mereka tidak mengikuti petunjuk dalil alquran dan assunnah. Apa dalilnya? Perhatikan hadits di bawah ini,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى.  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٰ

Maka jika datang dariku petunjuk kepada kalian,  maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit ...(QS. Thaha 123).

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah, tentang ayat,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Thaha 123).

"أن كل من اتبع القرآن والسنة، وعمل بما فيهما، فقد سلم من الضلال بلا شك""كتاب صيد الخاطر"

Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti alquran dan assunnah dan beramal dengan apa yang ada pada keduanya, maka sungguh dia telah selamat dari kesesatan tanpa ragu lagi. (Shaidul Khatir).

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:

وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم 

Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.

Berkata As Syaikh Rabi hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

KEDUA, banyak diantara manusia atau kelompok (jamaah) yang menyeru dan mendakwahkan untuk kembali kepada alquran dan as sunnah, namun mereka memahami alquran dan as sunnah dengan akal mereka, perasaan mereka, hawa nafsu mereka atau dengan cara cocokologi. Maka mereka tersesat dari jalan yang benar.

Memahami dalil dan mengamalkan dalil, mesti dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh, pemahaman tiga generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabi’in dan tabiuttabi'in) agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. 

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. QS. (An-Nisa: 115)

Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di belahan yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين

Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. (An-Nisa: 115)

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nash syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nisa 15).

Berkata Al-Imam Abu 'Amr Al-Auza'i rahimahullah: 

" عليك باثار السلف وان رفضك الناس، واياك واراء الرجال وان زخرفوه لك بالقول " (الشريعة : 63 )

"Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan ilmu yang diwariskan oleh para salaf terbaik ummat ini (salafush sholih) meskipun orang-orang menentangmu, dan berhati-hatilah dari pemikiran-pemikiran para tokoh (yang menyimpang) meskipun mereka menghias untukmu dengan kata-kata indah."  (Asy-Syari'ah  63).

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :

أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ} 

Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢

“Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.

“Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556).

Berkata Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah :

أصول الدعوة السلفية قائمة على ثلاث دعائم : القرءان الكريم والسنة الصحيحة وفهمها علي منهج السلف الصالح من الصحابة والتابعين وأتباعهم . وسـبـب ضـَلال الفـرق كـلّـهَا قَـديما وحـَـديثا هُـو عـدم التّـمـسك بالدعـامة الثالثة. مجلة الاصالة العدد ٢٣

"Pokok-pokok dakwah salafiyah tegak di atas tiga pilar :

- ALQURAN ALKARIM, 
- SUNNAH YANG SHAHIH 
- DAN MEMAHAMI KEDUANYA ATAS MANHAJ SALAFUSHSHALEH DARI SAHABAT, TABI'IN DAN DAN YANG MENGIKUTI MEREKA.

Dan sebab kesesatan dari seluruh kelompok-kelompok yang ada, dahulu dan sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan penyangga yang ketiga.". [majalah al ashalah edisi ke- 23].

Salah satu contoh kasus (terlalu panjang lebar kalau banyak kasus yang mau diangkat), seseorang atau kelompok (jamaah) yang memahami alquran dan as sunnah bukan dengan pemahaman yang benar, misalkan ada sebuah ayat dalam alquran dalam surah Thaha ayat 14:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Sebagian orang-orang shufi dan para pemimpinnya menafsirkan dan memahami ayat ini, bahwa kalau sudah ingat Allah atau istilah jawa sudah ILING, tidak perlu lagi shalat, yang masih shalat itu masih tingkatkan syariat, tingkatan paling rendah menurut mereka.

Nah bagaimana pemahaman dan pengamalan para salafushshaleh tentang ayat ini. Apakah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan para sahabatnya berhenti shalat yang lima waktu maupun yang sunnah karena sudah ingat Allah? 

Tentu tidak, mereka tetap melaksanakan shalat yang lima waktu dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, ketika mukim atau perjalanan, ada air atau tidak ada air, bisa tayamum kalau tidak ada sebagai pengganti wudhu.

Inilah perlunya kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh agar tidak tersesat dari jalan yang benar dan jalan yang lurus.

AFM 

Copas dari berbagai sumber

Share:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Cari