}

TURUNNYA SURAH DI IRINGI 70.000 MALAIKAT

Ini 5 Pantai Pasir Putih di Malang yang Wajib Kamu Kunjungi!

TURUNNYA SURAH DI IRINGI 70 RB MALAIKAT

📌 Jawabannya adalah Surah Al-An'am.

Kita hari ini mengenal Surah Al-An'am sebagai surah ke-6 dengan 165 ayat. Kita membacanya terbata-bata karena panjang. Padahal, surah ini adalah satu-satunya surah di dalam Al-Qur'an yang turun sekaligus satu surah penuh dalam satu malam, tidak berangsur-angsur seperti surah lain.

Dan saat ia turun, langit Makkah bergetar. Rasulullah ﷺ sampai menahan untanya karena beratnya wahyu. Dan yang mengiringi turunnya bukan 1 atau 2 malaikat, tetapi 70.000 Malaikat yang semuanya bertasbih dan bertahmid mengagungkan Allah.

~ Kisah Turunnya Surah Al-An'am

Surah Al-An'am adalah surah Makkiyah, turun sebelum Rasulullah ﷺ hijrah. Dinamakan Al-An'am yang artinya Binatang Ternak, karena di dalamnya banyak dibahas tentang haramnya binatang ternak yang diharamkan oleh orang musyrik dengan mengatasnamakan Allah.

Namun ada kemuliaan yang tidak dimiliki surah lain.

Para ulama sirah mencatat, surah ini turun sekaligus di waktu malam, saat Rasulullah ﷺ dalam perjalanan. Saking dahsyatnya wahyu yang turun, Rasulullah ﷺ hampir terjatuh dari untanya Al-Qashwa.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Jabir bin Abdillah berkata:

نَزَلَتْ سُورَةُ الْأَنْعَامِ جُمْلَةً وَاحِدَةً، يُشَيِّعُهَا سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَهُمْ زَجَلٌ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّحْمِيدِ

Artinya: "Surah Al-An'am turun sekaligus (satu surah penuh), yang mengiringinya adalah 70.000 malaikat yang bersuara gemuruh dengan tasbih dan tahmid."
(HR. Ahmad dalam Musnad No. 22106, Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' dan dihasankan oleh Ibnu Hajar)

Bayangkan. Satu surah turun, 70.000 malaikat turun bersamanya. Tidak ada surah lain yang turun dengan pengawalan semegah ini.

Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Surah Al-An'am adalah surah yang paling mulia, karena ia turun dengan membawa 70.000 malaikat."

Ini bukan kebetulan. Allah sengaja mengiringinya dengan pasukan malaikat sebanyak itu untuk menunjukkan betapa agungnya isi surah ini.

~ Dalil Shahih Tentang Keagungan Surah Al-An'am

Mengapa harus 70.000 malaikat? Karena isi Surah Al-An'am adalah Tauhid Murni.

Para ulama membagi isi surah ini menjadi 3 inti tauhid yang paling dibenci oleh Iblis:

1. Tauhid Rububiyah: Membantah kesyirikan kaum musyrikin yang menyembah berhala, bintang, dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.

2. Tauhid Uluhiyah: Penegasan bahwa yang berhak disembah hanya Allah saja.

3. Tauhid Asma' wa Sifat: Di dalamnya ada nama-nama Allah yang agung.

Maka tidak heran jika iblis berteriak paling keras saat surah ini turun.

Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Surah Al-An'am adalah termasuk surah-surah yang paling mulia di sisi Allah."

Dan Rasulullah ﷺ sendiri mengabarkan keutamaan ayat kuncinya. Di akhir Surah Al-An'am, Allah turunkan 3 ayat wasiat terakhir yang Rasulullah ﷺ sebut sebagai wasiat yang tidak pernah diubah oleh Nabi manapun:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ... 

(Al-An'am: 151-153)

Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Barangsiapa ingin melihat wasiat Rasulullah ﷺ yang beliau beri cap stempel di atasnya, maka bacalah tiga ayat di akhir Surah Al-An'am." (HR. Tirmidzi)

~ Hikmah Dibalik 70.000 Malaikat Yang Mengiringi Al-An'am

1. Bukti Bahwa Dosa Syirik Adalah Dosa Paling Besar.

Surah Al-An'am turun untuk menghancurkan syirik sampai ke akarnya. Allah kirim 70.000 malaikat sebagai isyarat bahwa perkara tauhid ini adalah perkara langit, bukan perkara sepele di bumi. Jika 1 malaikat saja Jibril turun sudah membuat Rasulullah ﷺ bergetar, apalagi 70.000 malaikat sekaligus. Ini menunjukkan betapa murkanya Allah kepada kesyirikan.

2. Allah Ingin Kita Memperhatikan Surah Ini Lebih Dari Surah Lain.

Surah lain turun ayat demi ayat, agar mudah dihafal. Tapi Al-An'am diturunkan sekaligus agar para sahabat langsung merasakan keagungan dan kehebatannya. Ini adalah alarm dari langit: "Wahai umat Muhammad, perhatikan surah ini! Jangan sampai kalian jatuh dalam kesyirikan seperti kaum musyrikin dahulu." Di dalamnya Allah bongkar semua tipu daya syaitan dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu.

3. Obat Paling Ampuh Untuk Hati Yang Gelisah dan Was-was.

Ulama salaf jika mereka merasa imannya turun, atau banyak was-was dan ketakutan kepada selain Allah, mereka membaca Surah Al-An'am. Mengapa? Karena di dalam surah ini ada ayat yang paling menenangkan:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ 

(Al-An'am: 18) - Dialah Yang Maha Berkuasa di atas hamba-hamba-Nya.

Jika Allah sudah di atas segalanya, untuk apa kita takut kepada makhluk?

Dan ayat: 

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ

(Al-An'am: 17) - Jika Allah menimpakan mudharat kepadamu, maka tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Dia.

Ayat ini yang membuat 70.000 malaikat bertasbih, karena isinya adalah kekuasaan mutlak milik Allah.

4. Kemuliaan Orang Yang Membaca dan Mengamalkannya.

Asma binti Yazid radhiyallahu 'anha berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa membaca awal Surah Al-An'am (3 ayat pertama), maka Allah wakilkan 40.000 malaikat yang mencatat untuknya kebaikan sebanyak itu hingga hari kiamat."
(HR. Abu Daud, At-Tirmidzi - hadits dhaif tapi maknanya didukung oleh keumuman hadits 70.000 malaikat)

Lihatlah, surah yang turunnya diiringi 70.000 malaikat, maka pembacanya pun akan diiringi oleh malaikat. Surah yang turun dengan tasbih, maka pembacanya akan bertasbih bersamanya.

Jangan remehkan Surah Al-An'am. Jika Surah Al-Ahzab yang panjangnya pernah seperti Al-Baqarah mengajarkan kita tentang ketaatan, maka Surah Al-An'am yang turun dengan 70.000 malaikat ini mengajarkan kita tentang pondasi segalanya: Tauhid.

Jagalah tauhidmu, maka 70.000 malaikat yang dulu mengiringi surah ini akan menjaga langkahmu.

Wallahu A'lam.

Sumber: Musnad Imam Ahmad No. 22106, Al-Mu'jam Al-Kabir Ath-Thabarani No. 12180, Dalailun Nubuwwah Al-Baihaqi 7/86, Tafsir Ibnu Katsir - Muqadimmah Surah Al-An'am, Al-Itqan fi Ulumil Qur'an karya Imam As-Suyuthi.
Share:

APA ITU AZ ZAHRAWAIN

Pantai Pasir Putih Sabang Keuneukai: Pantai dengan Pemandangan Memukau di Pulau Weh - Safari Wisata International

📌 Jawabannya adalah Surah Al-Baqarah dan Surah Ali Imran.

Ini adalah dua surah terpanjang dan termulia dalam Al-Qur'an yang dijuluki Rasulullah ﷺ dengan satu nama indah: Az-Zahrawain artinya Dua Bunga yang Bersinar Terang.

Kelak di Padang Mahsyar, di hari yang sangat panas, di mana matahari didekatkan sejengkal di atas kepala, manusia tenggelam dalam keringatnya sendiri-sendiri sesuai amalnya, dua surah inilah yang akan datang membela pembacanya. Bukan sekadar pahala, tapi ia akan datang menjelma menjadi awan pelindung yang menaungi.

Jika ada surah yang menjadi pelindung di alam kubur, maka Az-Zahrawain adalah pelindung di hari kiamat.

~ Apa itu Az-Zahrawain?

Az-Zahrawain (الزهراوين) secara bahasa artinya Dua Yang Cemerlang, Dua Yang Bersinar, Dua Bunga. Dinamakan demikian karena cahaya hidayah, pahala, dan keberkahannya sangat terang, baik di dunia maupun di akhirat.

Dua surah itu adalah:

1. Surah Al-Baqarah [Surah ke-2, 286 ayat]
2. Surah Ali Imran [Surah ke-3, 200 ayat]

Rasulullah ﷺ secara khusus menggandengkan keduanya dalam banyak hadits. Karena keduanya adalah surah Madaniyah yang berisi fondasi keimanan, hukum syariat, kisah Bani Israil, dan keteguhan menghadapi musuh Allah. Siapa yang menguasainya di dunia, maka akan dikuasai dan dilindunginya di akhirat.

~ Dalil Hadits Shahih dan Keutamaannya

Inilah hadits agung yang membuat para sahabat berlomba-lomba menghafal dan mengamalkan dua surah ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا

Artinya: "Bacalah Az-Zahrawain, yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seperti dua awan, atau seperti dua naungan, atau seperti dua kelompok burung yang berbaris membentangkan sayapnya, keduanya akan membela para pembacanya."
(HR. Muslim No. 804)

Dalam riwayat lain, Imam Ahmad meriwayatkan:

Kedua surah ini akan datang dan berdebat di hadapan Allah ﷻ, membela orang yang di dunia rajin membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya. Ia akan berkata: "Ya Rabb, orang ini dulu begadang untuk membacaku, haus dan lelah mengamalkanku, maka belalah ia hari ini."

Dan di dalam Surah Al-Baqarah sendiri terdapat permata yang paling agung:

Ayatul Kursi (Al-Baqarah: 255) - ayat paling agung dalam Al-Qur'an, pelindung dari syaitan.

Dan Dua ayat terakhir Al-Baqarah (285-286) - Rasulullah ﷺ bersabda, siapa yang membacanya di malam hari, maka ia akan dicukupkan baginya dari segala keburukan.

Dan di dalam Ali Imran terdapat ayat (190-200) yang jika dibaca sambil merenungi ciptaan Allah, akan membuat Rasulullah ﷺ menangis semalam suntuk.

~ Hikmah Dibalik Kisah Az-Zahrawain

1. Al-Qur'an Tidak Hanya Dicatat Sebagai Pahala, Tapi Akan Menjelma Menjadi Pembela.

Di dunia, Al-Baqarah dan Ali Imran mungkin hanya terlihat sebagai tulisan di mushaf. Tapi di akhirat ia hidup. Ia akan menjadi pengacara terhebat untuk kita di hari tidak ada pengacara yang mampu menolong. Jika di dunia kita membelanya dengan membacanya, di akhirat ia akan membela kita.

2. Keberkahan Membacanya, Kerugian Meninggalkannya.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang Al-Baqarah:

اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

"Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah penyesalan, dan tukang sihir tidak akan mampu menghadapinya."
(HR. Muslim)

Rumah yang dibacakan Al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan selama 3 hari. Lantas bagaimana dengan hati yang diisi Al-Baqarah dan Ali Imran setiap hari?

3. Surah Perjuangan dan Keteguhan.

Mengapa dua surah ini yang menjadi awan? Karena isinya bukan ringan. Al-Baqarah mengajarkan tentang ketaatan total kepada Allah (kisah perintah menyembelih sapi), dan Ali Imran mengajarkan tentang keteguhan di medan perang (Perang Uhud). Keduanya mengajarkan Islam itu berat, butuh pengorbanan. Siapa yang sabar memikulnya di dunia, akan mendapatkan naungannya di akhirat.

4. Bandingkan Dhirar dan Zahrawain - Dua Bangunan di Akhirat.

Masjid Dhirar dibangun untuk memecah belah, maka ia dibakar. Az-Zahrawain dibaca untuk menyatukan hati dengan Allah, maka ia menjadi awan pelindung. Begitulah amal, ada yang di dunia terlihat hebat tapi dilaknat, ada yang di dunia terlihat lelah membacanya setiap malam, tapi kelak ia adalah penyelamat.

Jangan hanya mengejar naungan pohon atau gedung di dunia dari panasnya matahari. Kejarlah naungan abadi dari Az-Zahrawain yang akan menaungi kita di hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah.

Mulailah hari ini. Tidak harus langsung hafal 286 ayat. Bacalah 5 ayat sehari dengan istiqomah. Jadikan Al-Baqarah dan Ali Imran sebagai wirid harianmu.

Wallahu A'lam.

Sumber: Shahih Muslim Kitab Shalatul Musafirin No. 804, Tafsir Ibnu Katsir - Muqaddimah Surah Al-Baqarah & Ali Imran, Riyadus Shalihin Bab Keutamaan Al-Qur'an.

Share:

Siapakah Hudzaifah bin Al-Yaman?

 7 Rekomendasi Destinasi Pantai Pasir Putih di Indonesia | AstraOtoshop.com

Jika Abu Bakar dikenal sebagai pemegang kelembutan, Umar sebagai pemegang ketegasan, maka Hudzaifah adalah pemegang rahasia Rasulullah ﷺ. Satu rahasia yang tidak diberikan kepada sahabat lain, bahkan kepada Abu Bakar dan Umar sekalipun.

Rasulullah ﷺ menitipkan kepadanya daftar nama orang-orang munafik di Madinah. Sebuah amanah yang sangat berat, yang membuatnya dikenal dengan gelar: Shahibus Sirri Rasulillah ﷺ - Pemegang Rahasia Rasulullah.

Jika Az-Zahrawain akan menjadi awan pelindung di Padang Mahsyar, maka amanah yang dipegang Hudzaifah adalah penjaga kemurnian barisan kaum Muslimin di dunia.

~ Siapakah Hudzaifah bin Al-Yaman?

Hudzaifah bin Al-Yaman Al-Absi adalah sahabat dari kalangan Anshar. Ayahnya, Husail bin Jabir yang bergelar Al-Yaman, juga seo…
Kita hari ini mengenal Surah Al-Ahzab sebagai surah ke-33 dengan 73 ayat. Kita membacanya dalam 15 menit selesai. Padahal, di zaman Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar, surah ini panjangnya seperti Surah Al-Baqarah, bahkan lebih panjang.

Sebagian besar ayatnya telah Allah angkat lafazhnya dari mushaf, namun hukum dan pahalanya tetap kekal abadi hingga hari kiamat. Inilah rahasia besar tentang penjagaan Al-Qur'an yang hampir tidak pernah dijelaskan di majelis umum.

~ Kisah Surah Al-Ahzab yang Hilang

Surah Al-Ahzab adalah surah Madaniyah yang turun saat Perang Khandaq. Nama Al-Ahzab sendiri artinya Pasukan Sekutu, karena di dalamnya Allah menceritakan bagaimana bersekutunya seluruh musuh Islam untuk mengepung Madinah.

Namun ada hakikat lain yang hanya diketahui oleh para Huffazh generasi pertama.

Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, sahabat yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai Qari'ul Qur'an terbaik, berkata kepada Zirr bin Hubaisy:

كَمْ تَقْرَءُونَ سُورَةَ الْأَحْزَابِ؟ قَالَ: ثَلَاثًا وَسَبْعِينَ آيَةً. قَالَ: قَطُّ، لَقَدْ رَأَيْتُهَا وَإِنَّهَا لَتُعَادِلُ سُورَةَ الْبَقَرَةِ، وَلَقَدْ قَرَأْنَا فِيهَا: الشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوهُمَا الْبَتَّةَ نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: "Berapa ayat kalian baca Surah Al-Ahzab? Zirr menjawab: 73 ayat. Ubay berkata: Demi Allah, dulu ia sebanding dengan Surah Al-Baqarah panjangnya. Dan sungguh dahulu kami membaca di dalamnya ayat: 'Lelaki tua dan perempuan tua apabila berzina maka rajamlah keduanya sebagai hukuman dari Allah, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'"
(HR. Imam Ahmad No. 21245, An-Nasa'i dalam Sunan Kubra No. 7150, dishahihkan Ibnu Hibban)

Ini bukan berarti Al-Qur'an kita kurang. Justru inilah bentuk penjagaan Allah yang paling sempurna.

~ Dalil Shahih Tentang Nasakh Tilawah

Para ulama membagi Nasakh (penghapusan) menjadi 3 jenis, dan kisah Al-Ahzab adalah contoh paling nyata:

1. Nasakh Tilawah dan Hukumnya (Bacaan dan Hukumnya Dihapus)

2. Nasakh Tilawah Saja, Hukumnya Tetap (Bacaannya Dihapus, Hukumnya Kekal)

3. Nasakh Hukumnya Saja, Tilawahnya Tetap (Hukumnya Dihapus, Bacaannya Tetap)

Ayat Rajam termasuk jenis kedua. Lafazhnya diangkat oleh Allah dari mushaf agar tidak dibaca lagi sebagai Al-Qur'an, tetapi hukum rajam bagi pezina muhshan (yang sudah menikah) tetap wajib dan kekal, telah dipraktekkan Rasulullah ﷺ dan ijma' para sahabat.

Aisyah radhiyallahu 'anha juga berkata: "Dahulu Surah Al-Ahzab dibaca 200 ayat di zaman Nabi ﷺ, setelah itu ketika mushaf Utsman ditulis, yang tersisa hanya yang ada sekarang."
(HR. Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam dalam Fadhail Al-Qur'an)

Dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berdiri di atas mimbar dan berkata: "Jangan sampai kalian berkata 'Kami tidak menemukan ayat rajam di Kitabullah', karena Rasulullah ﷺ telah merajam dan kami pun merajam setelah beliau."

~ Hikmah Dibalik Hilangnya Sebagian Surah Al-Ahzab

1. Bukti Bahwa Al-Qur'an Dijaga Langsung Oleh Allah, Bukan Oleh Manusia.

Jika Al-Qur'an dijaga manusia, tentu manusia akan berusaha mempertahankan semua ayat agar terlihat banyak. Tetapi Allah menunjukkan kuasa-Nya: "Inna Nahnu Nazzalnadz Dzikra wa Inna Lahu La Hafizhun - Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr dan Kami yang akan menjaganya." (Al-Hijr: 9). Allah hapus sebagian lafazhnya sesuai kehendak-Nya, dan Allah jaga sisanya sesuai janji-Nya. Yang tersisa 73 ayat hari ini, itulah yang Allah kehendaki kekal hingga kiamat.

2. Ujian Keimanan: Apakah Kita Taat Pada Lafazh atau Pada Pemilik Lafazh?

Allah ingin menguji, apakah kita beriman kepada Al-Qur'an karena tulisannya, atau karena yang menurunkannya adalah Allah. Ketika ayat rajam lafazhnya diangkat, apakah hukumnya ikut berhenti? Tidak. Kaum mukminin tetap melaksanakan hukum rajam karena Rasulullah ﷺ melakukannya. Ini mengajarkan bahwa ketaatan kita bukan pada kertas mushaf, tetapi pada Allah dan Rasul-Nya.

3. Keringanan dan Kasih Sayang Allah Kepada Umat Ini.

Andai Surah Al-Ahzab tetap sepanjang Al-Baqarah, maka beban hafalan dan bacaan bagi umat yang ummi akan sangat berat. Allah angkat sebagian besarnya sebagai keringanan, namun Allah sisakan intisarinya: kisah ketaatan istri-istri Nabi, kisah Perang Ahzab, dan hukum hijab. Yang paling penting untuk umat akhir zaman justru yang disisakan.

4. Bahaya Besar Menganggap Mushaf Hari Ini Tidak Lengkap.

Inilah fitnah yang menjerat sebagian kelompok menyimpang. Mereka berkata "Al-Qur'an syiah lebih lengkap". Padahal para sahabat sendiri yang menyaksikan penghapusan itu, mereka pula yang sepakat atas mushaf Utsman yang ada di tangan kita hari ini. Ubay bin Ka'ab yang meriwayatkan Al-Ahzab pernah sepanjang Al-Baqarah, dia pula yang ikut dalam panitia penulisan mushaf Utsman dan menyetujui 73 ayat saja. Artinya, penghapusan itu adalah wahyu, bukan penghilangan oleh manusia.

Jangan bersedih karena Al-Ahzab yang kita baca hari ini pendek. Bersyukurlah, karena 73 ayat yang tersisa itu adalah yang Allah pilih untuk kita. Di dalamnya ada ayat tentang shalawat: "Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan nabi..." ayat yang tidak akan pernah dihapus hingga kiamat, sebagai jaminan bahwa nama Rasulullah ﷺ akan terus disebut.

Jagalah yang tersisa, maka Allah akan jaga kita sebagaimana Allah menjaga kitab-Nya.

Wallahu A'lam.

Sumber: Musnad Imam Ahmad No. 21245, Shahih Muslim - Kitab Al-Hudud, Fadhail Al-Qur'an karya Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam No. 153, Al-Itqan fi Ulumil Qur'an karya Imam As-Suyuthi Bab An-Nasakh.

Share:

SAAT ISRA MI'RAJ, RASULULLAH BERHENTI KARENA MENCIUM BAU KUBURAN INI

 Temukan 16 ide Batu batu indah dan lukisan batu | gambar yang indah, wallpaper bunga indah, wallpaper bunga, dan lainnya

Malam itu bukan malam biasa. Rasulullah ﷺ sedang diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Kecepatan melebihi cahaya.

Tiba-tiba di tengah kegelapan, beliau mencium sebuah aroma. Bukan wangi bunga surga. Tapi wangi dari dalam tanah. Wangi yang sangat kuat, menusuk, wangi misik murni.

Rasulullah bertanya kepada Jibril: "Wahai Jibril, wangi apa yang sangat harum ini?"

Jibril menjawab: "Itu adalah wangi dari kuburan Masyithah, tukang sisir anak Fir'aun, dan anak-anaknya."

Padahal Masyithah telah wafat 3000 tahun sebelum malam itu. Tapi bau jasadnya masih hidup.


~ PROLOG : WANITA MISKIN DI TENGAH ISTANA TERMEGAH DI DUNIA

Siapa Masyithah ? 
Ia bukan ratu. 
Ia bukan putri. 
Ia hanyalah seorang budak wanita. Tugasnya hanya satu: menyisir rambut putri Fir'aun.

Di istana yang penuh dengan emas, ia adalah wanita paling miskin. Tidak ada yang mengenalnya. Tapi di langit, namanya sangat terkenal.

Karena di dalam istana yang semua orang menyembah Fir'aun, ia sendirian menyembah Allah.

~ BAB 1: SATU KATA YANG MEMBONGKAR RAHASIANYA SELAMA BERTAHUN-TAHUN

Suatu hari, saat ia menyisir rambut putri Fir'aun, sisir itu terjatuh dari tangannya.

Secara spontan ia berkata: "Bismillah."

Putri Fir'aun mendengarnya. Ia bertanya : "Apakah ayahku yang kau maksud?"

Masyithah menjawab dengan suara yang gemetar tapi tegas: "Bukan. Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah."

Putri itu melaporkan kepada Fir'aun. 
Fir'aun murka. Ia memanggil Masyithah.

Fir'aun berkata: "Apakah kau punya Tuhan selain aku?"

Masyithah menjawab: "Ya. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah."

Itu adalah kalimat termahal yang pernah diucapkan seorang budak wanita di muka bumi.

~ BAB 2 : KUALI TEMBAGA YANG MENDIDIH DAN BAYI YANG BERBICARA

Fir'aun tidak langsung membunuhnya. Ia ingin menyiksanya secara perlahan.

Ia memerintahkan untuk didatangkan sebuah kuali besar dari tembaga, diisi minyak dan air, lalu dipanaskan sampai mendidih.

Kemudian ia datangkan anak-anak Masyithah satu per satu. Empat orang anak, yang paling besar masih remaja, yang paling kecil masih bayi yang sedang ia susui.

Di depan mata Masyithah, anak pertama dilemparkan ke dalam kuali. Tulangnya terlepas dari dagingnya. Wafat syahid.

Anak kedua, anak ketiga, sama.

Tinggallah ia dan bayi yang ada di gendongannya. Tangannya gemetar. Hatinya hampir luruh. Ia adalah seorang ibu.

Di saat imannya hampir goyah, bayi yang belum bisa berbicara itu, dengan izin Allah, berkata :

"Yaa Ummah, iqtaḥimii fa inna 'adzaabad dunya ahwanu min 'adzaabil aakhirah."

"Wahai Ibuku, terjunlah. Sungguh adzab dunia ini lebih ringan daripada adzab akhirat."

Mendengar itu, Masyithah memejamkan mata, memeluk bayinya, dan terjun bersama ke dalam kuali mendidih itu.

Mati syahid bersama anak-anaknya dalam satu hari.

~ BAB 3 : MENGAPA TULANGNYA WANGI 3000 TAHUN ?

Jasad mereka dibuang. Tidak dimakamkan dengan layak. Bahkan tulang-belulangnya berserakan.

Tapi Allah tidak membiarkan begitu saja.

Allah perintahkan tanah untuk menjaga tulang mereka. Allah simpan wanginya.

3000 tahun berlalu....

Fir'aun dan istananya hancur menjadi debu. Piramidanya menjadi batu bisu. Kerajaannya lenyap ditelan lautan.

Tapi tulang Masyithah tetap wangi. Sampai Rasulullah menciumnya di malam Isra.

Sampai hari ini, di Mesir, para ulama masih menunjukkan lembah tempat kuali itu dulu diletakkan. Tanahnya masih berbau berbeda dari tanah sekitarnya.

Mengapa ? Karena saat hidup, ia menjaga satu kalimat : "Bismillah".

Saat semua orang di istana berkata "Bismi Fir'aun" [dengan nama Fir'aun], ia sendirian berkata "Bismillah".

Maka Allah jaga kalimat itu kembali dengan penjagaan abadi: tulang yang tidak hancur, dan wangi yang tidak hilang selama ribuan tahun.

Allah berfirman :

«يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ»

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." [QS. Ibrahim: 27]

---

PENUTUP

Masyithah tidak menjaga skincare. Tidak menjaga followers. Ia hanya menjaga satu kalimat Tauhid di dalam istana kekafiran.

Dan Allah balas dengan wangi yang abadi selama 3000 tahun.

Kita hari ini hidup bebas mengucap Bismillah. Tidak ada kuali mendidih di depan kita.

Lalu apa alasan kita masih malu menjaga kalimat itu ?

Wallahu a'lam.

*** 

Referensi Ringkas :
HR. Ahmad No. 2821, Ath-Thabrani - Hadits Isra tentang wangi kubur Masyithah - Hasan
Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir - Kisah Masyithah binti Fir'aun
QS. Ibrahim: 27

Share:

Kenapa banyak kemungkaran dalam acara amalan bid'ah

 62 ide Batu indah | akik, batu akik, batu permata

Ada dua hal negatif viral secara bersamaan minggu ini, satu kericuhan acara Maulid Nabi di Jakarta yang mengganggu warga setempat karena menyalakan kembang api padahal sudah tengah malam, satunya dari acara haulan seorang habib di Solo, yang sampah dari acara tersebut memenuhi jalan jalan kota Solo, 
Dan keduanya amalan bid'ah, bukan amalan Sunnah. 

Jadi ingat ada teman bertanya kenapa sering terjadi berita viral kemungkaran dalam acara Maulid Nabi? 

Saya jawab "Ya karena Maulid nabi adalah amalan bid'ah, tidak pernah diamalkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, tidak pernah diamalkan para sahabat Nabi, itu kenapa disebut amalan bid'ah, dan bahkan tidak juga pernah diamalkan para imam madzhab padahal mereka ulama terbaik dimuka bumi yang pernah hidup, kitab mereka menjadi sumber hukum Islam sampai hari ini,
 
Ya karena Maulid nabi adalah amalan bid'ah te tu tidak ada panduan untuk tata laksana perayaannya, jika kita ingin mengetahui bagaimana shalat yang benar ada ribuan kitab ulama menjelaskan shalat, atau kita ingin mengetahui puasa yang benar seperti apa maka akan ribuan ulama menulis tata cara puasa sesuai sunnahnya, atau juga misal kita ingin mengetahui wudhu yang benar sesuai sunnah akan ada ribuan kitab ulama menjelaskan wudhu yang benar dan seterusnya. 

Sementara jika kita ingin mengetahui bagaimana tata cara perayaan Maulid nabi yang benar sesuka sunnahnya, maka tidak ada satupun kitab yang membahas ini, 

Alias tata caranya liar, suka suka yang melaksanakan, mau pakai baca Quran dulu baru ceramah, atau ceramah dulu baru ada bacaan Quran, kemudian diakhiri doa,  atau juga makan bersama dulu baru ceramah, atau misal pawai obor baru ceramah dan seterusnya, ukurannya cuma yang penting baik menurut yang melaksanakannya, akhirnya saking liarnya ada sebagian melaksanakan perayaan Maulid nabi dengan konser musik, joget pargoy, dan seterusnya, karena menurut pelakunya "ini Khan baik apa salahnya? ".

Sebenarnya kalau mau jujur amalan bid'ah sudah menunjukkan kesesatan amalan tersebut dengan sendirinya, tanpa kita sebutkan amalannya sesat... Allahua'lam

------------

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan kelihatan begitu marah, seolah-olah beliau adalah seorang panglima yang meneriaki pasukan ‘Hati-hati dengan serangan musuh di waktu pagi dan waktu sore’. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini. [Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya]. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)

Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)

Diriwayatkan dari Al ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasehat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan,

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا

“Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasehat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud dan Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

Sumber Referensi Rumaysho. Com

By: Siswo Kusyudhanto

Share:

Syafa’at Beberapa Nabi yang Ditolak oleh Allah

 3 golongan yang syafaat tidak bisa menebusnya, padahal syafaat itu sangat berguna di akhirat nanti ketika amalan kita tak ada yang bisa kita andalkan misalkan syafaat langsung dri Allah, syafaat melal

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻 :

Apa benar, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memohonkan ampun untuk ibunya, lalu Allah melarangnya. Berarti itukan syafaat, kenapa bisa ditolak?
_____

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯 :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Syafa’at secara bahasa berasal dari kata as-Syaf’u [الشفع] yang artinya genap. Allah berfirman,

وَالْفَجْرِ . وَلَيَالٍ عَشْرٍ . وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ

Demi waktu fajar, demi 10 malam, demi yang genap dan yang ganjil. 
(📖QS. al-Fajr: 1-3)

Disebut Syafa’at karena dia menggenapkan hak tunggal Allah dalam mengampuni hamba-Nya.

Ilustrasinya, 👇

Satu-satunya Dzat yang berhak mengeluarkan hamba dari neraka menuju surga hanyalah Allah. Namun terkadang Allah memberikan kesempatan bagi sebagian hamba-Nya yang soleh untuk menyelamatkan keluarganya atau temannya atau muridnya, sesuai yang Allah kehendaki. Sehingga, seolah sang hamba menggenapkan hak tunggal Allah dalam menyelamatkan manusia dari neraka.

Sehingga ketika ada orang yang hendak menyelamatkan keluarganya, agar diampuni oleh Allah, berarti dia sedang memberikan syafaat kepadanya.

Ada beberapa nabi yang berusaha menyelamatkan keluarganya yang mati kafir, namun permohonan mereka ditolak oleh Allah. Diantaranya, 👇

➡️[1] Permohonan ampunan nabi Nuh – ‘alaihis salam – untuk putranya.

Allah berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ . قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. 
(📖QS. Hud: 45-46).

Nuh sangat berharap anaknya selamat ketika peristiwa banjir itu. Namun anaknya lebih memilih untuk kafir, tidak mau mengikuti bapaknya. Nabi Nuh ‘alaihis salam sangat berharap anaknya diselamatkan, namun Allah memutuskan anaknya ditenggelamkan.

➡️[2] Permohonan ampunan Nabi Ibrahim – ‘alaihis salam – untuk ayahnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita,

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ ، فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لاَ تَعْصِنِى فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لاَ أَعْصِيكَ . فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ ، إِنَّكَ وَعَدْتَنِى أَنْ لاَ تُخْزِيَنِى يَوْمَ يُبْعَثُونَ ، فَأَىُّ خِزْىٍ أَخْزَى مِنْ أَبِى الأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّى حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ، ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ ، فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ

Ibrahim bertemu ayahnya Azar di hari kiamat. Di wajahnya Azar ada kotoran dan berdebu. Ibrahim mengatakan kepada Azar,

“Bukankah aku telah katakan kepadamu, jangan mengingkariku!”

“Mulai hari ini, saya tidak akan mengingkarimu..” jawab ayahnya.

Lalu Ibrahim mengatakan,

“Wahai Rabku, Engkau telah memberi janji kepadaku, bahwa Engkau tidak akan membuatku sedih di hari kiamat. Kesedihan mana lagi yang lebih berat, dibandingkan kesedihan karena ayahnya dijauhkan (dari rahmat Allah).”

Kemudian Allah menjawab,

“Sesungguhnya Aku haramkan surga bagi orang kafir.” 
(📚HR. Bukhari 3350).

Ibrahim sangat berharap ayahnya masuk islam. Namun ayahnya tetap berpihak pada agama paganis, sehingga dia mati kafir. Ibrahim mencintai ayahnya, dan berharap ayahnya bisa diampuni. Namun Allah menolak harapan Ibrahim untuk membela ayahnya, karena dia mati kafir.

Allah menceritakan harapan Ibrahim,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. 
(📚QS. al-Mumtahanah: 4)

Termasuk diantaranya adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri pernah meminta izin untuk memohonkan ampunan bagi ibunya, namun Allah tidak mengizinkannya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ziarah ke makam ibunya, lalu beliau menangis, hingga menangis pula orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda,

اسْتَأْذَنْتُ رَبِّى فِى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِى وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِى أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِى

“Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan.” 
(📚HR. Muslim 108)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena ibunya tidak boleh didoakan agar diampuni. Artinya ibunya mati dalam kondisi kafir. Dan setiap mukmin dilarang memintakan ampunan bagi orang yang mati dalam keadaan kafir 
(📚Syarh Shahih Muslim, 3/402).

Allah berfirman,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya)” 
(📖QS. At Taubah: 113)

Sehingga kata kunci untuk bisa mendapatkan syafaat para nabi kembali kepada tauhid. Siapa yang tauhidnya benar, dia akan ditolong oleh Allah denga syafaat beliau.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟

Siapa orang yang akan berbahagia karena mendapatkan Syafaat anda di hari kiamat?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ

Orang yang berbahagia karena mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang meng-ikrarkan ‘Laa ilaaha illallaah ikhlas dari dalam hatinya.’ 
(📚HR. Bukhari 6570).

Mari kita berjuang untuk menjadi ahli tauhid, semoga kita mendapat syafaat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang soleh di saat kita membutuhkan pertolongan dari Allah.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 
(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/33231-syafaat-beberapa-nabi-yang-ditolak-oleh-allah.html

Share:

Apakah Boleh Mengatakan Allah Bertempat di Arsy?

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert ...

Pertanyaan:

Izin bertanya ustadz, jika Allah ta’ala ada di atas Arsy apakah berarti Allah ta’ala bertempat di Arsy? Apa benar demikian? Bagaimana dengan perkataan “Allah ada tanpa tempat”? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Pertama, akidah bahwa Allah ta’ala ada di atas Arsy-Nya yang mulia adalah hal yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara tegas dan lugas. Di enam tempat di dalam al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia (Allah) istiwa di atas ‘Arsy.” (QS. al-A’raf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, al-Furqan: 59, as-Sajdah: 4, dan al-Hadid: 4)

Allah ta’ala juga berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Kemudian ar-Rahman (yaitu Allah) beristiwa di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Dan dalil ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya. Demikian juga dalil dari as-Sunnah. Di antaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا قَضَى االلهُ الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إنَّ رَحْمَتي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menetapkan takdir seluruh makhluk, Allah menulis (di Lauhul Mahfudz) ketika berada di atas Arsy suatu perkataan yaitu: sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari no.7453, Muslim no.2751)

Ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang diyakini oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para salafus shalih, dan para imam Ahlussunnah, dan tidak ada khilafiyah di antara mereka dalam masalah ini. Imam adz-Dzahabi dalam kitab al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar menukil perkataan Ishaq bin Rahuwaih (wafat 238H), bahwa beliau berkata:

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy’, ini adalah ijma para ulama yaitu bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, dan Allah mengetahui segala sesuatu hingga di bawah bumi yang ketujuh.” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar karya adz-Dzahabi, no. 179)

Qutaibah bin Sa’id (wafat 240H) mengatakan:

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله: (الرحمن على العرش استوى)

“Ini adalah pendapat para imam Islam, imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, yaitu bahwa kami mengetahui Rabb kami ada di langit ketujuh, di atas Arsy, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5).” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, no. 470)

Ibnu Bathah (wafat 387H) mengatakan:

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين، وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه، فوق سماواته بائن من خلقه، وعلمه محيط بجميع خلقه، لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية

“Kaum muslimin dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in serta para ulama kaum mu’minin bersepakat bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy, di atas langit-langit dan terbedakan dengan makhluk-Nya. Adapun ilmu Allah meliputi seluruh makhluk. Tidak ada yang menolak dan mengingkari keyakinan ini kecuali orang-orang yang terpengaruh mazhab hululiyah.” (Al-Ibanah al-Kubra, 7/136)

Kedua, istiwa artinya tinggi dan menetap di atas sesuatu. Dalam al-Mu’jam al-Muhith disebutkan,

اسْتَوَى على كذا، أو فوقه: علا وصَعد

“Istiwa di atas sesuatu artinya: tinggi dan naik (ke atas sesuatu).”

Dalam ash-Shihhah fil Lughah disebutkan,

استوى على ظهر دابته، أي علا واستقر

“Istiwa di atas hewan tunggangan, artinya: tinggi dan menetap (di atas hewan tunggangan).”

Maka Allah istiwa di atas Arsy maknanya Allah Maha Tinggi berada di atas Arsy-Nya.

Ketiga, adapun perkataan “Allah bertempat di atas Arsy” ini tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak ada nash yang menyatakan Allah memiliki sifat al-makan (tempat). Tidak pula dinukil dari para salafus shalih bahwa mereka mengatakan “Allah bertempat di atas Arsy” atau yang semakna dengannya.

Sehingga sifat ini tidak bisa kita tetapkan dan juga tidak langsung kita ingkari. Dalam menanggapi kalimat ini, perlu diperjelas terlebih dahulu apa makna “tempat” yang dimaksudkan. Jika “tempat” yang dimaksud adalah tempat sebagaimana yang ada pada makhluk, yang membatasi sesuatu yang ada di dalamnya, maka Allah tidak bertempat. Namun jika “tempat” di sini maksudnya adalah Arsy, maka kita wajib menetapkan bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy, tidak boleh diingkari.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

إن أراد بنفي المكان : المكان المحيط بالله – عز وجل – فهذا النفي صحيح ، فإن الله تعالى لا يحيط به شيء من مخلوقاته ، وهو أعظم وأجل من أن يحيط به شيء ، كيف لا ( والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه ) ؟ .

“Jika yang dimaksud dengan “tempat” adalah tempat yang meliputi Allah azza wa jalla, maka pengingkaran ini benar (yaitu bahwa Allah tidak bertempat). Karena Allah ta’ala tidak diliputi oleh satu pun dari makhluk-Nya. Bahkan Allah lebih agung dan lebih mulia untuk bisa diliputi oleh suatu makhluk. Bagaimana tidak? Bukanlah dalam hadits disebutkan: ‘Bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya di hari Kiamat. Langit semuanya dilipat di tangan kanan-Nya?’”

وإن أراد بنفي المكان : نفي أن يكون الله تعالى في العلو ، فهذا النفي غير صحيح ، بل هو باطل بدلالة الكتاب والسنة ، وإجماع السلف والعقل والفطرة

“Namun jika yang dimaksud “Allah tidak bertempat” adalah Allah tidak Maha Tinggi (di atas Arsy), maka ini keliru. Bahkan ini adalah kebatilan yang telah dibantah oleh al-Qur’an, as-Sunnah, ijma salaf, akal sehat, dan fitrah yang lurus.” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/196-197)

Ibnul Qayyim dalam syair Nuniyah-nya mengatakan:

والرب فوق العرش والكرسي لا * يخفى عليه خواطر الإنسان

لا تحصروه في مكان إذ تقو * لوا ربنا حقا بكل مكان

نزهتموه بجهلكم عن عرشه * وحصرتموه في مكان ثان

لا تعدموه بقولكم لا داخل * فينا ولا هو خارج الأكوان

Rabb berada di atas ‘Arsy dan Kursi, namun tidak ada yang samar bagi-Nya termasuk apa yang ada di benak manusia.

Janganlah kalian batasi Allah dengan suatu tempat, dengan berkata “Allah ada di mana-mana.“

Kalian berusaha mengingkari Allah di atas Arsy dengan kejahilan kalian, justru kalian telah membatasi Allah pada tempat yang lainnya.

Dan janganlah kalian meniadakan-Nya dengan mengucapkan “Allah tidak berada di dalam (alam) bersama kita, dan Dia juga tidak berada di luar alam.” (Nuniyah Ibnul Qayyim, hal. 295)

Perhatikan, di sini beliau menetapkan Allah di atas Arsy namun menafikan pernyataan bahwa Allah dibatasi tempat, yaitu tempat dalam konsep makhluk.

Keempat, Allah ta’ala istiwa di atas Arsy tidak berarti Allah butuh kepada Arsy untuk menetap. Karena beberapa poin berikut: 

1. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy bukanlah bermakna Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy. Allah berada di atas ‘Arsy namun tidak berarti Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy sehingga Allah butuh kepada ‘Arsy.

2. Allah itu al-Ghaniy, tidak butuh kepada makhluk-Nya termasuk ‘Arsy. Justru ‘Arsy yang butuh kepada Allah. Karena semua makhluk itu butuh kepada Allah agar ia tetap eksis, termasuk juga ‘Arsy. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41)

3. Menetapnya A di atas B, tidak melazimkan bahwa A pasti butuh pada B. Buktinya langit ada di atas bumi, namun langit tidak butuh pada bumi. Padahal langit dan bumi adalah makhluk Allah. Maka bagaimana lagi perkaranya pada Allah ‘Azza Wa Jalla yang qaadirun ‘ala kulli syai’, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah yaf’alu maa yuriid, Maha Kuasa untuk melakukan apa yang Ia kehendaki? Maka lebih mungkin lagi bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy tanpa butuh kepada ‘Arsy.

4. Istiwa Allah tentu tidak serupa dengan istiwa makhluk. Jangan digambarkan bahwa Allah ta’ala menetap di atas ‘Arsy dalam keadaan duduk, atau berbaring, atau bersila, atau semacamnya sebagaimana jika makhluk ber-istiwa di atas sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

Walhasil, perkataan “Allah ta’ala bertempat di atas Arsy” tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak pula dinukil dari para salafus shalih. Oleh karena itu hendaknya perkataan seperti ini dihindari. Sudah cukup bagi kita untuk mengatakan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy atau Allah ta’ala Maha Tinggi di langit atau Allah ta’ala Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

*

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Share:

Apakah Microsleep Membatalkan Wudhu?

Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Microsleep adalah tidur yang tidak menyeluruh dan tidak sama seperti tidur biasa manusia di malam hari. Microsleep umumnya berlangsung singkat beberapa detik sampai 2 menit akibat lelah dan mengantuk. Sebagian otak ada yang “tertidur” dan ada yang masih aktif, bahkan microsleep bisa terjadi saat mata masih terbuka. Hal ini terjadi misalnya ketika menyetir mobil.

Bisa disimpulkan bawa microsleep merupakan “tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh”. Apakah tidur seperti ini membatalkan wudhu? Pendapat terkuat adalah TIDAK membatalkan wudhu karena termasuk “naumun yasir/ naumun qalil” yaitu tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh.

Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik yang menjelaskan bahwa para Sahabat menunggu shalat sampai kepala mereka terkantuk-kantuk (mau jatuh), kemudian shalat tanpa mengulang wudhu.

Anas bin Malik berkata,

ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻌِﺸﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳَﻠَّﻢَ ﺣﺘﻰ ﺗﺨﻔِﻖَ ﺭﺅﻭﺳﻬﻢ ﺛﻢ ﻳُﺼﻠُّﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺘﻮﺿﺆﻭﻥ

“Sesungguhnya para shahabat radhiallahu anhu menunggu pelaksanaan shalat Isya pada masa Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam sampai kepalanya terkantuk-kantuk, kemudian mereka shalat tanpa berwudu.”[1]

Al-Mawardi menjelaskan,

: ﺃﻥ ﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﻧﺎﻗﺾٌ ﻟﻠﻮﺿﻮﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﻋﺪ ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻢ

“Tidur itu membatalkan wudhu kecuali tidur yang sedikit ketika duduk atau berdiri.” [2]

Demikian juga penjelasan syaikh Al-‘Ustaimin,

ﻭﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﺍﻟﻨَّﺎﻗﺾ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ : ﻛُﻞُّ ﻧﻮﻡ ﺇﻻ ﻳﺴﻴﺮ ﻧﻮﻡ ﻣﻦ ﻗﺎﺋﻢ، ﺃﻭ ﻗﺎﻋﺪ

“Tidur membatalkan wudhu menurut pendapat mazhab (hanabilah), semua jenis tidur kecuali tidur yang sedikit ketika berdiri dan duduk.” [3]

Patokan tidur sedikit atau banyak adalah apakah sudah hilang kesadaran menyeluruh atau tidak sebagaimana kita tidur nyenyak di malam atau siang hari.

Catatan kaki:

[1] HR. Muslim, no. 376. Dalam riwayat Al-Bazzar (dikatakan bahwa) ‘mereka berbaring’

[2] Al-Inshaf 2/20

[3] Syarhul Mumti’ Ala Zaadil Mustaqni’

Source; muslimorid

Share:

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah)

 Arab Saudi Beli Pasir Dari Negara Lain, Padahal 95 Persen ...

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah) adalah salah satu tanda besar kiamat dalam Islam. Allah SWT akan mengutus angin seharum kasturi dan selembut sutra dari arah Yaman atau Syam untuk mencabut nyawa seluruh orang beriman—bahkan yang imannya sekecil biji sawi—sehingga hanya tersisa manusia terburuk di bumi saat kiamat terjadi

👉 Waktu Kejadian: Angin ini datang setelah terbunuhnya Dajjal oleh Nabi Isa AS, musnahnya Ya'juj dan Ma'juj, serta terbitnya matahari dari barat

👉 Tujuan: Sebagai bentuk kasih sayang Allah (kemuliaan) untuk mengambil ruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mengalami kedahsyatan kiamat.

👉 Karakteristik: Angin ini berhembus lembut, terasa nyaman, dan membawa aroma harum, masuk ke bawah ketiak dan merenggut nyawa orang mukmin.

👉 Akibat: Tidak ada lagi orang yang beriman atau menyebut nama Allah di muka bumi. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia kafir yang buruk perilakunya, dan kepada merekalah kiamat terjadi

Peristiwa ini menandai berakhirnya masa-masa kedamaian setelah turunnya Nabi Isa dan dimulainya fase kehancuran total bagi umat manusia.

 

**** 

Share:

TAHAJJUD, MENGHAPUS DOSA-DOSAMU

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Tahajjud adalah jam-jam rahmat ketika dunia tertidur, tapi langit terbuka.

Di sepertiga malam, Allah memanggil hamba-Nya yang ingin diampuni.

Walau lelah dan mengantuk, bangunlah, karena di sana terhapus dosa-dosamu.

Air wudhu di malam hari, menjadi saksi atas keikhlasanmu mendekat kepada Allah.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang bangun untuk shalat malam, kecuali karena Allah ingin menghapus dosanya.”

Tahajjud bukan untuk mereka yang kuat, tapi untuk mereka yang ingin dikuatkan oleh Allah.

Jangan biarkan kantuk menunda taubatmu yang bisa jadi esok tak sempat.

Setiap sujud di keheningan malam, sedang membersihkan noda dalam hatimu.

Ketika engkau memaksa diri untuk tahajjud, sesungguhnya Allah sedang memudahkan langkahmu menuju ampunan.

Maka paksakanlah, karena setiap rakaat tahajjud adalah langkah menuju surga-Nya. 

(HR. Imam Tirmidzi & Ahmad )

Share:

IMAM SYAFI’I TABARRUK KE KUBURNYA IMAM ABU HANIFAH SETIAP HARI?

 Edisi Bantahan 

Kereta padang pasir — Mimbar Rakyat

Ada sebuah riwayat yang tertuang dalam tarikh baghdadi tentang Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk pembenaran bolehnya tabarruk ke kuburan orang yang telah mati. 

Berkata Imam Syafii rahimahullah, 

 إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم، يعني زائراً، فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين، وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده، فما تبعد عني حتى تقضى. تاريخ بغداد  (1/123)

"Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku datang ke kuburannya SETIAP HARI, maka apabila aku punya hajat aku sholat dua rakaat dan datang ke kuburannya lantas aku minta kepada Allah di sana, tidak lama aku keluar dan terkabul hajat" Tarikh Baghdadi 1/123. 

Hikayat ini tidak shahih dan penuh kedustaan menurut banyak ulama, diantaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

" والحكاية المنقولة عن الشافعي أنه كان يقصد الدعاء عند قبر أبي حنيفة من الكذب الظاهر " انتهى." إغاثة اللهفان " (1/246)

Hikayat yang dinukil dari Imam Syafii, bahwasanya dia pergi berdoa disisi kubur Imam Abu Hanifah diantara dusta yang jelas. (Ighatsatul Lahfan 1/246). 

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dan ulama lainnya, bahwa riwayat itu tidak shahih, kalau seandainya tabarruk kepada orang mati itu diperbolehkan, maka kubur para sahabat di Mesir tempat tinggal Imam Syafii dan di Baghdad tempat Imam Abu Hanifah itu banyak, itu lebih utama, namun tidak ada riwayat Imam Syafi’i rahimahullah tabarruk ke kuburnya para sahabat. 

Dan yang lebih mengherankan lagi, Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah ada di Baghdad, sedangkan Imam Syafii rahimahullah tinggal di Mesir, apa Imam Syafii terbang atau pakai pesawat jet? 

Ada lagi yang ngeyel, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad. Boleh jadi ketika tinggal di Baghdad bertabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah. 

Betul, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad, bahkan dua kali tinggal disana, namun sibuk belajar dan sibuk mengajar, serta menulis kitab. Tidak sibuk setiap hari mengunjungi kubur Imam Abu Hanifahrahimahullah untuk tabarruk.

Kedatangan pertama (sekitar 184 H), diundang oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan belajar dari Muhammad bin Hasan al-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dan periode kedua (sekitar 195 H) untuk mengajarkan ilmu dan menulis kitab.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

RIWAYAT TANPA SANAD CACAT

 Edisi Bantahan

Misteri Batu Al Naslaa: Keajaiban ...

Riwayat Ibnu Hibban yang bertabarruk ke kuburnya Ali Ridho memang tidak ada sanadnya, sebagaimana diakui sendiri oleh orang yang saya Screenshot.

Sebelum membahas pentingnya sanad, terlebih dahulu dibahas, apa itu sanad.

Sanad dari segi bahasa, 

المعتمد، وسمي كذلك؛ لأن الحديث يستند إليه، ويعتمد عليه.

Al Mu'tamad, dinamakan demikian karena sesungguhnya hadits itu disandarkan kepadanya dan bergantung padanya. 

Sedangkan dari segi istilah sanad itu,

سلسلة الرجال الموصلة للمتن. 
كتاب تيسير مصطلح الحديث
[محمود الطحان]"

Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits) yang menyampaikannya pada matan (hadits). (Kitab Taisir Mustalah al-Hadits adalah kitab karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan). Sumber : https://shamela.ws/book/8681/15

Mempelajari dan mengetahui sanad sangatlah penting, karena sanad itu bagian dari agama. Dan riwayat tanpa sanad adalah cacat.

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Sesungguhnya sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim].

Berkata Al-Hakim al-Naisaburi rahimahumullah,

فلو لا الإسناد وطلب هذه الطائفة له وكثرة مواظبهم على حفظه,لدرس منار الإسلام ولتمكن الإلحاد والبدع منه.وبوضع الأحاديث وقلب الأسانيد.فإن الأخبار إذا تعرت عن وجود الأسانيد فيها,كانت بترا

Kalaulah sanad ini tidak ada dan usaha sebagian ummat untuk mencarinya serta konsistensi mereka dalam menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, dan membuka peluang bagi orang-orang mulhid dan pelaku bid’ah untuk memalsukan hadis serta mengubah sanadnya, karena riwayat tanpa sanad adalah riwayat yang cacat (terputus)." (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadis).

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

مثل الذي يطلب أمر دينه بلا إسناد كمثل الذي يرتقي السطح بلا سلم

Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Fathul Mughits].
 
Dan berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah 

بيننا وبين القوم القوائم (يعني الاسناد).

Yang membedakan antara kita dengan kaum lain (ahlul bid'ah dan yang menyerupai mereka) adalah sanad.(Muqaddimah Shahih Muslim). Sumber : https://shamela.ws/book/8754/8

Dalam Syarah Shahih Muslim,  Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, 

أَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ 

Sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia kehendaki. (Syarah Shahih Muslim).

Dahulu sebelum terjadi fitnah, para ulama tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah timbul berbagai fitnah dengan maraknya pemahaman menyimpang dan berbagai bid’ah, maka mereka menanyakan tentang sanad. 

Berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah,

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis mereka. (Muqaddimah Shahih Muslim).

Sekali lagi, sanad sangatlah penting, dan ini merupakan senjatanya orang-orang mukmin. Riwayat tanpa sanad, itu tertolak dan cacat, sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh kang Kuncoro dan sekawanannya. 

Berkata Sofyan Ats-Tsauri rahimahumullah,

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]"

AFM 

Share:

AZAN DUA KALI DI SHALAT JUM’AT

 Edisi Bantahan 
 
Kisah Dua Sahabat di Padang Gurun ...

Mengenai perayaan maulid, tawasul dan tabarruk kepada kuburan sudah banyak dibahas oleh ustadz-ustadz salafi, silahkan merujuk ke tulisan-tulisan mereka di website-website mereka, di medsos atau di ceramah-ceramah mereka yang tersebar di youtube, tv dan radio sunnah dan media lainnya, saya tidak perlu lagi membahasnya. 

Yang saya akan bahas adalah poin tentang perkataan, "Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak."

Mengenai sebagian salafi atau pondok-pondok pesantren salafi yang di waktu shalat jumat hanya azan satu kali tidak azan dua kali, karena mereka mengikuti amalan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, dan amalan para sahabat di masa Abu Bakar dan Umar. Apa dalilnya? Perhatikan dalil di bawah ini.

Berkata Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu,

إن الأذان يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام يوم الجمعة على المنبر في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان في خلافة عثمان رضي الله عنه وكثروا أَمَرَ عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فإذا به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك

“Azan pada hari Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di mimbar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika tiba masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dan jumlah jemaah semakin banyak, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga di Zaura’ (sebuah tempat di pasar). Dan sejak saat itu, hal tersebut terus dilakukan.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud azan ketiga, yakni azan dua kali dan sekali iqamat. Karena iqamat juga diartikan adzan.

Berkata Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

"Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau. (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan azan dua kali diwaktu shalat jumat, apakah salafi ahlussunnah membid'ahkannya? Tentulah tidak, karena salafi ahlussunnah selalu berlandaskan dalil dalam berpendapat. 

Di dalam beragama seseorang diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin. Azan satu kali di hari jumat adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan  Umar radhiyallahu anhuma, sedangkan azan dua kali di shalat jumat adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang diperintahkan oleh Utsman Bin Affan radhiyallahu anhu dan para sahabat sepakat tentang amalan ini.

Oleh karena itu kedua amalan ini (azan satu kali atau azan dua kali di shalat jumat) boleh diamalkan karena itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah khulafaur rasyidin. 

Berkata Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu, 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!

Beliau bersabda: ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dan fatwa ulama-ulama salafi ahlussunnah di Saudi juga demikian. Dan praktek azan dua kali di hari jumat diamalkan sampai sekarang di masjidil haram dan masjid Nabawi. 

Maka tidak benar, salafi ahlussunnah tidak mengamalkan amalan azan dua kali di shalat jumat, wong di Saudi saja yang dikatakan orang pusatnya salafi (yang mereka katakan pusatnya wahabi) mengamalkan sunnah khulafaur rasyidin ini. Dan Al Lajnah Ad Daimah (MUInya Saudi) dan ulama kibar Saudi telah memfatwakannya.

Al Lajnah Ad Daimah (MUI nya Saudi) ditanya,

هل الأذان الأول يوم الجمعة بدعة؟

Apakah adzan pertama pada hari Jum’at itu bid’ah?”

Mereka menjawab,

ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضو ا عليها بالنواجذ ” . الحديث . والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس ؛ أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الأول – الآن – ، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين .
والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجه وأبو داود واللفظ له عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ، فأذن به على الزوراء ، فثبت الأمر على ذلك . وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً .. وبالله التوفيق .
اللجنة الدائمة
Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Peganglah oleh kalian sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin setelahku yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Al Hadits). Adzan pada hari Jum’at pada awalnya dilakukan ketika imam sudah naik mimbar, ini terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu, ketika masa kekhilafahan Utsman dan penduduk sudah banyak, Utsman memerintahkan adzan pertama pada hari Jumat -hingga sekarang- dan itu bukanlah bid’ah sebab itu merupakan bagian dari perintah mengikuti sunnah al khulafa ar rasyidin. Dasar hal ini adalah riwayat dari Al Bukhari, An Nasa’i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, dan ini lafazh darinya, dari Ibnu Syihab: telah mengabarkan aku As Saib bin Yazid, bahwa pada hari Jumat adzan pertama kali dilakukan saat imam duduk di atas mimbar, ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman manusia semakin banyak, dia memerintahkan adzan ketiga pada hari Jum’at. Maka, dilakukan adzan di Zaura’ dan telah tetaplah perintah itu. Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari, bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat. Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan adzan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti. Wabillahit tawfiq. (Al Lajnah Ad Daimah).

Berkata Syeikh Shalih Fauzan hafidzahullah, 

الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان ٣/٣٧."

Adzan pertama adalah sunnah khulafaurrasyidin yang telah diperintahkan oleh Utsman ra di masa kepemimpinannya. Hal itu dilakukan ketika penduduk semakin banyak dan rumah-rumah semakin berjauhan, maka dibutuhkan orang yang mengingatkan bahwa waktu shalat Jumat hampir tiba, hingga menjadi sunnah di masa kita sekarang. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,"Peganglah sunnahku dan sunnah khualfa' rasyidin. Dan Ustman termasuk khulafa' rasyidin, Beliau telah melakukannya dan disetujui oleh semua shahabat saat itu, dari muhajirin dan anshar. Maka jadilah sunnah yang tetap.

والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار

Kami memandang masalah ini luas. Mereka yang adzan satu kali tetap berpegang pada Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan yang adzan dua kali, juga mengikuti Utsman bin Affan dan semua shahabat muhajiriin dan anshar." (Al-Muntaqa min Fatawa al-Shaykh Salih al-Fawzan).

AFM

Copas dari berbagai sumber.

Share:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Arsip Blog

Cari