}

Apakah Boleh Mengatakan Allah Bertempat di Arsy?

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert ...

Pertanyaan:

Izin bertanya ustadz, jika Allah ta’ala ada di atas Arsy apakah berarti Allah ta’ala bertempat di Arsy? Apa benar demikian? Bagaimana dengan perkataan “Allah ada tanpa tempat”? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’ wal mursalin Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Pertama, akidah bahwa Allah ta’ala ada di atas Arsy-Nya yang mulia adalah hal yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah secara tegas dan lugas. Di enam tempat di dalam al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia (Allah) istiwa di atas ‘Arsy.” (QS. al-A’raf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’d: 2, al-Furqan: 59, as-Sajdah: 4, dan al-Hadid: 4)

Allah ta’ala juga berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Kemudian ar-Rahman (yaitu Allah) beristiwa di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)

Dan dalil ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya. Demikian juga dalil dari as-Sunnah. Di antaranya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَمَّا قَضَى االلهُ الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إنَّ رَحْمَتي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menetapkan takdir seluruh makhluk, Allah menulis (di Lauhul Mahfudz) ketika berada di atas Arsy suatu perkataan yaitu: sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari no.7453, Muslim no.2751)

Ini adalah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, yang diyakini oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para salafus shalih, dan para imam Ahlussunnah, dan tidak ada khilafiyah di antara mereka dalam masalah ini. Imam adz-Dzahabi dalam kitab al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar menukil perkataan Ishaq bin Rahuwaih (wafat 238H), bahwa beliau berkata:

قال الله تعالى {الرحمن على العرش استوى} إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة

“Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy’, ini adalah ijma para ulama yaitu bahwa Allah ber-istiwa di atas Arsy, dan Allah mengetahui segala sesuatu hingga di bawah bumi yang ketujuh.” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar karya adz-Dzahabi, no. 179)

Qutaibah bin Sa’id (wafat 240H) mengatakan:

هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله: (الرحمن على العرش استوى)

“Ini adalah pendapat para imam Islam, imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, yaitu bahwa kami mengetahui Rabb kami ada di langit ketujuh, di atas Arsy, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): ‘Ar-Rahman ber-istiwa di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5).” (Al-‘Uluw li ‘Aliyyil Ghaffar, no. 470)

Ibnu Bathah (wafat 387H) mengatakan:

أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين، وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه، فوق سماواته بائن من خلقه، وعلمه محيط بجميع خلقه، لا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية

“Kaum muslimin dari kalangan sahabat Nabi dan tabi’in serta para ulama kaum mu’minin bersepakat bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta’ala berada di atas Arsy, di atas langit-langit dan terbedakan dengan makhluk-Nya. Adapun ilmu Allah meliputi seluruh makhluk. Tidak ada yang menolak dan mengingkari keyakinan ini kecuali orang-orang yang terpengaruh mazhab hululiyah.” (Al-Ibanah al-Kubra, 7/136)

Kedua, istiwa artinya tinggi dan menetap di atas sesuatu. Dalam al-Mu’jam al-Muhith disebutkan,

اسْتَوَى على كذا، أو فوقه: علا وصَعد

“Istiwa di atas sesuatu artinya: tinggi dan naik (ke atas sesuatu).”

Dalam ash-Shihhah fil Lughah disebutkan,

استوى على ظهر دابته، أي علا واستقر

“Istiwa di atas hewan tunggangan, artinya: tinggi dan menetap (di atas hewan tunggangan).”

Maka Allah istiwa di atas Arsy maknanya Allah Maha Tinggi berada di atas Arsy-Nya.

Ketiga, adapun perkataan “Allah bertempat di atas Arsy” ini tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak ada nash yang menyatakan Allah memiliki sifat al-makan (tempat). Tidak pula dinukil dari para salafus shalih bahwa mereka mengatakan “Allah bertempat di atas Arsy” atau yang semakna dengannya.

Sehingga sifat ini tidak bisa kita tetapkan dan juga tidak langsung kita ingkari. Dalam menanggapi kalimat ini, perlu diperjelas terlebih dahulu apa makna “tempat” yang dimaksudkan. Jika “tempat” yang dimaksud adalah tempat sebagaimana yang ada pada makhluk, yang membatasi sesuatu yang ada di dalamnya, maka Allah tidak bertempat. Namun jika “tempat” di sini maksudnya adalah Arsy, maka kita wajib menetapkan bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy, tidak boleh diingkari.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:

إن أراد بنفي المكان : المكان المحيط بالله – عز وجل – فهذا النفي صحيح ، فإن الله تعالى لا يحيط به شيء من مخلوقاته ، وهو أعظم وأجل من أن يحيط به شيء ، كيف لا ( والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات مطويات بيمينه ) ؟ .

“Jika yang dimaksud dengan “tempat” adalah tempat yang meliputi Allah azza wa jalla, maka pengingkaran ini benar (yaitu bahwa Allah tidak bertempat). Karena Allah ta’ala tidak diliputi oleh satu pun dari makhluk-Nya. Bahkan Allah lebih agung dan lebih mulia untuk bisa diliputi oleh suatu makhluk. Bagaimana tidak? Bukanlah dalam hadits disebutkan: ‘Bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya di hari Kiamat. Langit semuanya dilipat di tangan kanan-Nya?’”

وإن أراد بنفي المكان : نفي أن يكون الله تعالى في العلو ، فهذا النفي غير صحيح ، بل هو باطل بدلالة الكتاب والسنة ، وإجماع السلف والعقل والفطرة

“Namun jika yang dimaksud “Allah tidak bertempat” adalah Allah tidak Maha Tinggi (di atas Arsy), maka ini keliru. Bahkan ini adalah kebatilan yang telah dibantah oleh al-Qur’an, as-Sunnah, ijma salaf, akal sehat, dan fitrah yang lurus.” (Majmu’ Fatawa war Rasail, 1/196-197)

Ibnul Qayyim dalam syair Nuniyah-nya mengatakan:

والرب فوق العرش والكرسي لا * يخفى عليه خواطر الإنسان

لا تحصروه في مكان إذ تقو * لوا ربنا حقا بكل مكان

نزهتموه بجهلكم عن عرشه * وحصرتموه في مكان ثان

لا تعدموه بقولكم لا داخل * فينا ولا هو خارج الأكوان

Rabb berada di atas ‘Arsy dan Kursi, namun tidak ada yang samar bagi-Nya termasuk apa yang ada di benak manusia.

Janganlah kalian batasi Allah dengan suatu tempat, dengan berkata “Allah ada di mana-mana.“

Kalian berusaha mengingkari Allah di atas Arsy dengan kejahilan kalian, justru kalian telah membatasi Allah pada tempat yang lainnya.

Dan janganlah kalian meniadakan-Nya dengan mengucapkan “Allah tidak berada di dalam (alam) bersama kita, dan Dia juga tidak berada di luar alam.” (Nuniyah Ibnul Qayyim, hal. 295)

Perhatikan, di sini beliau menetapkan Allah di atas Arsy namun menafikan pernyataan bahwa Allah dibatasi tempat, yaitu tempat dalam konsep makhluk.

Keempat, Allah ta’ala istiwa di atas Arsy tidak berarti Allah butuh kepada Arsy untuk menetap. Karena beberapa poin berikut: 

1. Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy bukanlah bermakna Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy. Allah berada di atas ‘Arsy namun tidak berarti Allah diangkat dan dibawa oleh ‘Arsy sehingga Allah butuh kepada ‘Arsy.

2. Allah itu al-Ghaniy, tidak butuh kepada makhluk-Nya termasuk ‘Arsy. Justru ‘Arsy yang butuh kepada Allah. Karena semua makhluk itu butuh kepada Allah agar ia tetap eksis, termasuk juga ‘Arsy. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 41)

3. Menetapnya A di atas B, tidak melazimkan bahwa A pasti butuh pada B. Buktinya langit ada di atas bumi, namun langit tidak butuh pada bumi. Padahal langit dan bumi adalah makhluk Allah. Maka bagaimana lagi perkaranya pada Allah ‘Azza Wa Jalla yang qaadirun ‘ala kulli syai’, Maha Kuasa atas segala sesuatu, Allah yaf’alu maa yuriid, Maha Kuasa untuk melakukan apa yang Ia kehendaki? Maka lebih mungkin lagi bahwa Allah istiwa di atas ‘Arsy tanpa butuh kepada ‘Arsy.

4. Istiwa Allah tentu tidak serupa dengan istiwa makhluk. Jangan digambarkan bahwa Allah ta’ala menetap di atas ‘Arsy dalam keadaan duduk, atau berbaring, atau bersila, atau semacamnya sebagaimana jika makhluk ber-istiwa di atas sesuatu. Allah ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11)

Walhasil, perkataan “Allah ta’ala bertempat di atas Arsy” tidak terdapat sama sekali dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Tidak pula dinukil dari para salafus shalih. Oleh karena itu hendaknya perkataan seperti ini dihindari. Sudah cukup bagi kita untuk mengatakan apa yang ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah bahwa Allah ta’ala istiwa di atas Arsy atau Allah ta’ala Maha Tinggi di langit atau Allah ta’ala Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. 

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

*

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Share:

Apakah Microsleep Membatalkan Wudhu?

Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Microsleep adalah tidur yang tidak menyeluruh dan tidak sama seperti tidur biasa manusia di malam hari. Microsleep umumnya berlangsung singkat beberapa detik sampai 2 menit akibat lelah dan mengantuk. Sebagian otak ada yang “tertidur” dan ada yang masih aktif, bahkan microsleep bisa terjadi saat mata masih terbuka. Hal ini terjadi misalnya ketika menyetir mobil.

Bisa disimpulkan bawa microsleep merupakan “tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh”. Apakah tidur seperti ini membatalkan wudhu? Pendapat terkuat adalah TIDAK membatalkan wudhu karena termasuk “naumun yasir/ naumun qalil” yaitu tidur yang sebentar dan tidak menyeluruh.

Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik yang menjelaskan bahwa para Sahabat menunggu shalat sampai kepala mereka terkantuk-kantuk (mau jatuh), kemudian shalat tanpa mengulang wudhu.

Anas bin Malik berkata,

ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﺘﻈﺮﻭﻥ ﺍﻟﻌِﺸﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭﺳَﻠَّﻢَ ﺣﺘﻰ ﺗﺨﻔِﻖَ ﺭﺅﻭﺳﻬﻢ ﺛﻢ ﻳُﺼﻠُّﻮﻥ ﻭﻻ ﻳﺘﻮﺿﺆﻭﻥ

“Sesungguhnya para shahabat radhiallahu anhu menunggu pelaksanaan shalat Isya pada masa Rasulullah sallalahu alaihi wa sallam sampai kepalanya terkantuk-kantuk, kemudian mereka shalat tanpa berwudu.”[1]

Al-Mawardi menjelaskan,

: ﺃﻥ ﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﻧﺎﻗﺾٌ ﻟﻠﻮﺿﻮﺀ ﺇﻻ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺍﻟﻴﺴﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﻋﺪ ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻢ

“Tidur itu membatalkan wudhu kecuali tidur yang sedikit ketika duduk atau berdiri.” [2]

Demikian juga penjelasan syaikh Al-‘Ustaimin,

ﻭﺍﻟﻨَّﻮﻡ ﺍﻟﻨَّﺎﻗﺾ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ : ﻛُﻞُّ ﻧﻮﻡ ﺇﻻ ﻳﺴﻴﺮ ﻧﻮﻡ ﻣﻦ ﻗﺎﺋﻢ، ﺃﻭ ﻗﺎﻋﺪ

“Tidur membatalkan wudhu menurut pendapat mazhab (hanabilah), semua jenis tidur kecuali tidur yang sedikit ketika berdiri dan duduk.” [3]

Patokan tidur sedikit atau banyak adalah apakah sudah hilang kesadaran menyeluruh atau tidak sebagaimana kita tidur nyenyak di malam atau siang hari.

Catatan kaki:

[1] HR. Muslim, no. 376. Dalam riwayat Al-Bazzar (dikatakan bahwa) ‘mereka berbaring’

[2] Al-Inshaf 2/20

[3] Syarhul Mumti’ Ala Zaadil Mustaqni’

Source; muslimorid

Share:

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah)

 Arab Saudi Beli Pasir Dari Negara Lain, Padahal 95 Persen ...

Kisah angin lembut (Rih Thayyibah) adalah salah satu tanda besar kiamat dalam Islam. Allah SWT akan mengutus angin seharum kasturi dan selembut sutra dari arah Yaman atau Syam untuk mencabut nyawa seluruh orang beriman—bahkan yang imannya sekecil biji sawi—sehingga hanya tersisa manusia terburuk di bumi saat kiamat terjadi

👉 Waktu Kejadian: Angin ini datang setelah terbunuhnya Dajjal oleh Nabi Isa AS, musnahnya Ya'juj dan Ma'juj, serta terbitnya matahari dari barat

👉 Tujuan: Sebagai bentuk kasih sayang Allah (kemuliaan) untuk mengambil ruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mengalami kedahsyatan kiamat.

👉 Karakteristik: Angin ini berhembus lembut, terasa nyaman, dan membawa aroma harum, masuk ke bawah ketiak dan merenggut nyawa orang mukmin.

👉 Akibat: Tidak ada lagi orang yang beriman atau menyebut nama Allah di muka bumi. Yang tersisa hanyalah manusia-manusia kafir yang buruk perilakunya, dan kepada merekalah kiamat terjadi

Peristiwa ini menandai berakhirnya masa-masa kedamaian setelah turunnya Nabi Isa dan dimulainya fase kehancuran total bagi umat manusia.

 

**** 

Share:

TAHAJJUD, MENGHAPUS DOSA-DOSAMU

 Mengenal Gurun Arab atau Arabian Desert yang Ada di Arab Saudi

Tahajjud adalah jam-jam rahmat ketika dunia tertidur, tapi langit terbuka.

Di sepertiga malam, Allah memanggil hamba-Nya yang ingin diampuni.

Walau lelah dan mengantuk, bangunlah, karena di sana terhapus dosa-dosamu.

Air wudhu di malam hari, menjadi saksi atas keikhlasanmu mendekat kepada Allah.

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang bangun untuk shalat malam, kecuali karena Allah ingin menghapus dosanya.”

Tahajjud bukan untuk mereka yang kuat, tapi untuk mereka yang ingin dikuatkan oleh Allah.

Jangan biarkan kantuk menunda taubatmu yang bisa jadi esok tak sempat.

Setiap sujud di keheningan malam, sedang membersihkan noda dalam hatimu.

Ketika engkau memaksa diri untuk tahajjud, sesungguhnya Allah sedang memudahkan langkahmu menuju ampunan.

Maka paksakanlah, karena setiap rakaat tahajjud adalah langkah menuju surga-Nya. 

(HR. Imam Tirmidzi & Ahmad )

Share:

IMAM SYAFI’I TABARRUK KE KUBURNYA IMAM ABU HANIFAH SETIAP HARI?

 Edisi Bantahan 

Kereta padang pasir — Mimbar Rakyat

Ada sebuah riwayat yang tertuang dalam tarikh baghdadi tentang Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk pembenaran bolehnya tabarruk ke kuburan orang yang telah mati. 

Berkata Imam Syafii rahimahullah, 

 إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم، يعني زائراً، فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين، وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده، فما تبعد عني حتى تقضى. تاريخ بغداد  (1/123)

"Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku datang ke kuburannya SETIAP HARI, maka apabila aku punya hajat aku sholat dua rakaat dan datang ke kuburannya lantas aku minta kepada Allah di sana, tidak lama aku keluar dan terkabul hajat" Tarikh Baghdadi 1/123. 

Hikayat ini tidak shahih dan penuh kedustaan menurut banyak ulama, diantaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

" والحكاية المنقولة عن الشافعي أنه كان يقصد الدعاء عند قبر أبي حنيفة من الكذب الظاهر " انتهى." إغاثة اللهفان " (1/246)

Hikayat yang dinukil dari Imam Syafii, bahwasanya dia pergi berdoa disisi kubur Imam Abu Hanifah diantara dusta yang jelas. (Ighatsatul Lahfan 1/246). 

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dan ulama lainnya, bahwa riwayat itu tidak shahih, kalau seandainya tabarruk kepada orang mati itu diperbolehkan, maka kubur para sahabat di Mesir tempat tinggal Imam Syafii dan di Baghdad tempat Imam Abu Hanifah itu banyak, itu lebih utama, namun tidak ada riwayat Imam Syafi’i rahimahullah tabarruk ke kuburnya para sahabat. 

Dan yang lebih mengherankan lagi, Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah ada di Baghdad, sedangkan Imam Syafii rahimahullah tinggal di Mesir, apa Imam Syafii terbang atau pakai pesawat jet? 

Ada lagi yang ngeyel, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad. Boleh jadi ketika tinggal di Baghdad bertabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah. 

Betul, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad, bahkan dua kali tinggal disana, namun sibuk belajar dan sibuk mengajar, serta menulis kitab. Tidak sibuk setiap hari mengunjungi kubur Imam Abu Hanifahrahimahullah untuk tabarruk.

Kedatangan pertama (sekitar 184 H), diundang oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan belajar dari Muhammad bin Hasan al-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dan periode kedua (sekitar 195 H) untuk mengajarkan ilmu dan menulis kitab.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

RIWAYAT TANPA SANAD CACAT

 Edisi Bantahan

Misteri Batu Al Naslaa: Keajaiban ...

Riwayat Ibnu Hibban yang bertabarruk ke kuburnya Ali Ridho memang tidak ada sanadnya, sebagaimana diakui sendiri oleh orang yang saya Screenshot.

Sebelum membahas pentingnya sanad, terlebih dahulu dibahas, apa itu sanad.

Sanad dari segi bahasa, 

المعتمد، وسمي كذلك؛ لأن الحديث يستند إليه، ويعتمد عليه.

Al Mu'tamad, dinamakan demikian karena sesungguhnya hadits itu disandarkan kepadanya dan bergantung padanya. 

Sedangkan dari segi istilah sanad itu,

سلسلة الرجال الموصلة للمتن. 
كتاب تيسير مصطلح الحديث
[محمود الطحان]"

Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits) yang menyampaikannya pada matan (hadits). (Kitab Taisir Mustalah al-Hadits adalah kitab karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan). Sumber : https://shamela.ws/book/8681/15

Mempelajari dan mengetahui sanad sangatlah penting, karena sanad itu bagian dari agama. Dan riwayat tanpa sanad adalah cacat.

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Sesungguhnya sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim].

Berkata Al-Hakim al-Naisaburi rahimahumullah,

فلو لا الإسناد وطلب هذه الطائفة له وكثرة مواظبهم على حفظه,لدرس منار الإسلام ولتمكن الإلحاد والبدع منه.وبوضع الأحاديث وقلب الأسانيد.فإن الأخبار إذا تعرت عن وجود الأسانيد فيها,كانت بترا

Kalaulah sanad ini tidak ada dan usaha sebagian ummat untuk mencarinya serta konsistensi mereka dalam menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, dan membuka peluang bagi orang-orang mulhid dan pelaku bid’ah untuk memalsukan hadis serta mengubah sanadnya, karena riwayat tanpa sanad adalah riwayat yang cacat (terputus)." (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadis).

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

مثل الذي يطلب أمر دينه بلا إسناد كمثل الذي يرتقي السطح بلا سلم

Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Fathul Mughits].
 
Dan berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah 

بيننا وبين القوم القوائم (يعني الاسناد).

Yang membedakan antara kita dengan kaum lain (ahlul bid'ah dan yang menyerupai mereka) adalah sanad.(Muqaddimah Shahih Muslim). Sumber : https://shamela.ws/book/8754/8

Dalam Syarah Shahih Muslim,  Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, 

أَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ 

Sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia kehendaki. (Syarah Shahih Muslim).

Dahulu sebelum terjadi fitnah, para ulama tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah timbul berbagai fitnah dengan maraknya pemahaman menyimpang dan berbagai bid’ah, maka mereka menanyakan tentang sanad. 

Berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah,

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis mereka. (Muqaddimah Shahih Muslim).

Sekali lagi, sanad sangatlah penting, dan ini merupakan senjatanya orang-orang mukmin. Riwayat tanpa sanad, itu tertolak dan cacat, sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh kang Kuncoro dan sekawanannya. 

Berkata Sofyan Ats-Tsauri rahimahumullah,

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]"

AFM 

Share:

AZAN DUA KALI DI SHALAT JUM’AT

 Edisi Bantahan 
 
Kisah Dua Sahabat di Padang Gurun ...

Mengenai perayaan maulid, tawasul dan tabarruk kepada kuburan sudah banyak dibahas oleh ustadz-ustadz salafi, silahkan merujuk ke tulisan-tulisan mereka di website-website mereka, di medsos atau di ceramah-ceramah mereka yang tersebar di youtube, tv dan radio sunnah dan media lainnya, saya tidak perlu lagi membahasnya. 

Yang saya akan bahas adalah poin tentang perkataan, "Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak."

Mengenai sebagian salafi atau pondok-pondok pesantren salafi yang di waktu shalat jumat hanya azan satu kali tidak azan dua kali, karena mereka mengikuti amalan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, dan amalan para sahabat di masa Abu Bakar dan Umar. Apa dalilnya? Perhatikan dalil di bawah ini.

Berkata Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu,

إن الأذان يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام يوم الجمعة على المنبر في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان في خلافة عثمان رضي الله عنه وكثروا أَمَرَ عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فإذا به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك

“Azan pada hari Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di mimbar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika tiba masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dan jumlah jemaah semakin banyak, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga di Zaura’ (sebuah tempat di pasar). Dan sejak saat itu, hal tersebut terus dilakukan.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud azan ketiga, yakni azan dua kali dan sekali iqamat. Karena iqamat juga diartikan adzan.

Berkata Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

"Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau. (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan azan dua kali diwaktu shalat jumat, apakah salafi ahlussunnah membid'ahkannya? Tentulah tidak, karena salafi ahlussunnah selalu berlandaskan dalil dalam berpendapat. 

Di dalam beragama seseorang diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin. Azan satu kali di hari jumat adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan  Umar radhiyallahu anhuma, sedangkan azan dua kali di shalat jumat adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang diperintahkan oleh Utsman Bin Affan radhiyallahu anhu dan para sahabat sepakat tentang amalan ini.

Oleh karena itu kedua amalan ini (azan satu kali atau azan dua kali di shalat jumat) boleh diamalkan karena itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah khulafaur rasyidin. 

Berkata Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu, 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!

Beliau bersabda: ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dan fatwa ulama-ulama salafi ahlussunnah di Saudi juga demikian. Dan praktek azan dua kali di hari jumat diamalkan sampai sekarang di masjidil haram dan masjid Nabawi. 

Maka tidak benar, salafi ahlussunnah tidak mengamalkan amalan azan dua kali di shalat jumat, wong di Saudi saja yang dikatakan orang pusatnya salafi (yang mereka katakan pusatnya wahabi) mengamalkan sunnah khulafaur rasyidin ini. Dan Al Lajnah Ad Daimah (MUInya Saudi) dan ulama kibar Saudi telah memfatwakannya.

Al Lajnah Ad Daimah (MUI nya Saudi) ditanya,

هل الأذان الأول يوم الجمعة بدعة؟

Apakah adzan pertama pada hari Jum’at itu bid’ah?”

Mereka menjawab,

ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضو ا عليها بالنواجذ ” . الحديث . والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس ؛ أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الأول – الآن – ، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين .
والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجه وأبو داود واللفظ له عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ، فأذن به على الزوراء ، فثبت الأمر على ذلك . وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً .. وبالله التوفيق .
اللجنة الدائمة
Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Peganglah oleh kalian sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin setelahku yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Al Hadits). Adzan pada hari Jum’at pada awalnya dilakukan ketika imam sudah naik mimbar, ini terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu, ketika masa kekhilafahan Utsman dan penduduk sudah banyak, Utsman memerintahkan adzan pertama pada hari Jumat -hingga sekarang- dan itu bukanlah bid’ah sebab itu merupakan bagian dari perintah mengikuti sunnah al khulafa ar rasyidin. Dasar hal ini adalah riwayat dari Al Bukhari, An Nasa’i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, dan ini lafazh darinya, dari Ibnu Syihab: telah mengabarkan aku As Saib bin Yazid, bahwa pada hari Jumat adzan pertama kali dilakukan saat imam duduk di atas mimbar, ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman manusia semakin banyak, dia memerintahkan adzan ketiga pada hari Jum’at. Maka, dilakukan adzan di Zaura’ dan telah tetaplah perintah itu. Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari, bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat. Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan adzan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti. Wabillahit tawfiq. (Al Lajnah Ad Daimah).

Berkata Syeikh Shalih Fauzan hafidzahullah, 

الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان ٣/٣٧."

Adzan pertama adalah sunnah khulafaurrasyidin yang telah diperintahkan oleh Utsman ra di masa kepemimpinannya. Hal itu dilakukan ketika penduduk semakin banyak dan rumah-rumah semakin berjauhan, maka dibutuhkan orang yang mengingatkan bahwa waktu shalat Jumat hampir tiba, hingga menjadi sunnah di masa kita sekarang. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,"Peganglah sunnahku dan sunnah khualfa' rasyidin. Dan Ustman termasuk khulafa' rasyidin, Beliau telah melakukannya dan disetujui oleh semua shahabat saat itu, dari muhajirin dan anshar. Maka jadilah sunnah yang tetap.

والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار

Kami memandang masalah ini luas. Mereka yang adzan satu kali tetap berpegang pada Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan yang adzan dua kali, juga mengikuti Utsman bin Affan dan semua shahabat muhajiriin dan anshar." (Al-Muntaqa min Fatawa al-Shaykh Salih al-Fawzan).

AFM

Copas dari berbagai sumber.

Share:

DUA SEBAB KESESATAN

 Edisi Bantahan
 
Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Salafi itu punya metode atau istilah orang slogan dalam beragama, "Kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafushshaleh."

Jangan dipotong hanya slogan kembali kepada alquran dan assunnah. Kenapa demikian? Simaklah pembahasan dibawah ini.

PERTAMA, Sebab tersesatnya manusia atau suatu kelompok, dikarenakan mereka tidak mengikuti petunjuk dalil alquran dan assunnah. Apa dalilnya? Perhatikan hadits di bawah ini,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى.  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٰ

Maka jika datang dariku petunjuk kepada kalian,  maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit ...(QS. Thaha 123).

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah, tentang ayat,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Thaha 123).

"أن كل من اتبع القرآن والسنة، وعمل بما فيهما، فقد سلم من الضلال بلا شك""كتاب صيد الخاطر"

Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti alquran dan assunnah dan beramal dengan apa yang ada pada keduanya, maka sungguh dia telah selamat dari kesesatan tanpa ragu lagi. (Shaidul Khatir).

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:

وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم 

Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.

Berkata As Syaikh Rabi hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

KEDUA, banyak diantara manusia atau kelompok (jamaah) yang menyeru dan mendakwahkan untuk kembali kepada alquran dan as sunnah, namun mereka memahami alquran dan as sunnah dengan akal mereka, perasaan mereka, hawa nafsu mereka atau dengan cara cocokologi. Maka mereka tersesat dari jalan yang benar.

Memahami dalil dan mengamalkan dalil, mesti dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh, pemahaman tiga generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabi’in dan tabiuttabi'in) agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. 

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. QS. (An-Nisa: 115)

Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di belahan yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين

Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. (An-Nisa: 115)

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nash syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nisa 15).

Berkata Al-Imam Abu 'Amr Al-Auza'i rahimahullah: 

" عليك باثار السلف وان رفضك الناس، واياك واراء الرجال وان زخرفوه لك بالقول " (الشريعة : 63 )

"Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan ilmu yang diwariskan oleh para salaf terbaik ummat ini (salafush sholih) meskipun orang-orang menentangmu, dan berhati-hatilah dari pemikiran-pemikiran para tokoh (yang menyimpang) meskipun mereka menghias untukmu dengan kata-kata indah."  (Asy-Syari'ah  63).

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :

أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ} 

Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢

“Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.

“Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556).

Berkata Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah :

أصول الدعوة السلفية قائمة على ثلاث دعائم : القرءان الكريم والسنة الصحيحة وفهمها علي منهج السلف الصالح من الصحابة والتابعين وأتباعهم . وسـبـب ضـَلال الفـرق كـلّـهَا قَـديما وحـَـديثا هُـو عـدم التّـمـسك بالدعـامة الثالثة. مجلة الاصالة العدد ٢٣

"Pokok-pokok dakwah salafiyah tegak di atas tiga pilar :

- ALQURAN ALKARIM, 
- SUNNAH YANG SHAHIH 
- DAN MEMAHAMI KEDUANYA ATAS MANHAJ SALAFUSHSHALEH DARI SAHABAT, TABI'IN DAN DAN YANG MENGIKUTI MEREKA.

Dan sebab kesesatan dari seluruh kelompok-kelompok yang ada, dahulu dan sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan penyangga yang ketiga.". [majalah al ashalah edisi ke- 23].

Salah satu contoh kasus (terlalu panjang lebar kalau banyak kasus yang mau diangkat), seseorang atau kelompok (jamaah) yang memahami alquran dan as sunnah bukan dengan pemahaman yang benar, misalkan ada sebuah ayat dalam alquran dalam surah Thaha ayat 14:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Sebagian orang-orang shufi dan para pemimpinnya menafsirkan dan memahami ayat ini, bahwa kalau sudah ingat Allah atau istilah jawa sudah ILING, tidak perlu lagi shalat, yang masih shalat itu masih tingkatkan syariat, tingkatan paling rendah menurut mereka.

Nah bagaimana pemahaman dan pengamalan para salafushshaleh tentang ayat ini. Apakah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan para sahabatnya berhenti shalat yang lima waktu maupun yang sunnah karena sudah ingat Allah? 

Tentu tidak, mereka tetap melaksanakan shalat yang lima waktu dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, ketika mukim atau perjalanan, ada air atau tidak ada air, bisa tayamum kalau tidak ada sebagai pengganti wudhu.

Inilah perlunya kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh agar tidak tersesat dari jalan yang benar dan jalan yang lurus.

AFM 

Copas dari berbagai sumber

Share:

SUMBER FITNAH DAN TANDUK SYETAN DARI NAJD SAUDI ARABIA ?

Padang Pasir, Arab Saudi ...

Fitnah terhadap dakwah Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah dari zaman awal Syekh berdakwah, sampai sekarang ini terus dihembuskan dan dilestarikan oleh orang-orang yang benci dan memusuhi dakwahnya. Dimana inti dakwahnya, Syaikh mengajak kepada tauhid dan sunnah dan menjauhi kesyirikan dan bid’ah. 

Diantaranya tuduhan dan fitnahannya, bahwa akan timbul fitnah dan tanduk setan dari Najd Arab Saudi, tempat kelahiran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah. Mereka pun mengutip dalil hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا وفِي يَمَنِنَا . قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا وفِي يَمَنِنَا ، قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.

“Ya Allah berkahilah kepada kami negara Syam dan Yaman kami. Mereka mengatakan, di NAJD kami? Nabi Mangatakan, “Ya Allah berkahi kepada kami negara Syam dan Yaman kami. Mereka mengatakan, “Di negara Najd kami? Beliau mengatakan, “Disana ada gempa dan fitnah. Dari sana akan keluar tanduk setan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى المَشْرِقِ فَقَالَ: هاَ إِنَّ الفِتْنَةَ هَا هُنَا ، إِنَّ الفِتْنَةَ هَا هُنَا ، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ 

“Saya melihat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menunjuk ke arah timur dan mengatakan, sesungguhnya fitnah dari arah sini, sesungguhnya fitnah dari sini. Yaitu saat muncul tanduk setan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Padahal yang dimaksud Najd di dalil di atas, bukan Najd Arab Saudi, tetapi wilayah yang ada di pedalaman Irak. Dan Irak ini termasuk wilayah masyrik, kawasan bagian timur dunia Arab yang secara harafiah berarti "tempat matahari terbit", mencakup negara-negara seperti Irak, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, dan Semenanjung Arab.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah :

نجد من جهة المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامةِ

Najd Itu berada disebelah timur. Siapapun yang berada di Madinah, maka najdnya adalah pedalaman IRAK dan sekitarnya. Itulah sebelah timur Madinah. Asal kata Najd adalah tanah yang meninggi, berbeda dengar ghaur yang berarti tanah yang rendah. Seluruh Tihamah merupakah Ghaur dan Mekkah termasuk bagian Tihamah. (Fathul Bari).

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ولا ريب أن من هؤلاء ظهرت الردة وغيرها من الكفر، من جهة مسيلمة الكذاب وأتباعه وطليحة الأسدي وأتباعه، وسجاح وأتباعها، حتى قاتلهم أبو بكر الصديق ومن معه من المؤمنين، حتى قتل من قتل، وعاد إلى الإسلام من عاد مؤمنا أو منافقا

Tidak diragukan lagi bahwa disana muncul kemurtadan dan hal-hal lain yang termasuk kekufuran, diantaranya Musailamah al Kadzab dan para pengikutnya, Thalihah al Asadiy dan para pengikutnya, Sujah dan para pengikutnya hingga mereka diperangi oleh abu Bakar as Shiddiq dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Ada yang terbunuh dan ada yang kembali sebagai mukmin maupun Munafiq. (Bayan Talbis Jahmiyah 1/17-24).

Perkataan ulama di atas, sesuai  dengan dalil-dalil yang jelas, yang menunjukkan bahwa fitnah akan datang dari arah timur itu adalah dari wilayah Irak.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال: إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

“Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dan juga IRAK kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].

Berkata Ibnu Umar radhiyallahu anhuma :

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشير بيده يؤم العراق ها إن الفتنة ههنا إن الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان

Aku pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah IRAK. (Beliau bersabda) : “Di sinilah, fitnah akan muncul, fitnah akan muncul dari sini”. Beliau mengatakannya tiga kali. “Yaitu, tempat munculnya tanduk setan" [HR. Ahmad, 2/143]. Shahih sesuai syarat Al-Bukhaariy dan Muslim.

Yusair bin ‘Amru rahimahullah, ia berkata : Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu :

هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا؟، قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ: " يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ "

“Apakah engkau pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Khawaarij ?”. Sahl berkata : “Aku pernah mendengar beliau bersabda sambil mengarahkan tangannya ke ‘IRAK : “Akan keluar darinya satu kaum yang membaca Al-Qur’aan namun tidak melebihi/melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya” [HR. Al-Bukhaariy].

Berkata Al-Khaththaabiy rahimahullah :

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

“Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya sahara/gurun IRAK dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Dalil-dalil dan penjelasan ulama di atas sangatlah jelas, bahwa fitnah akan muncul dari arah timur yang di Najd pedalaman Irak. 

Masih percayakah dengan tuduhan dan fitnahan bahwa najd itu di Arab Saudi, tempat kelahiran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, setelah jelas dalil dan perkataan ulama? 

Hanya pengikut hawa nafsu yang tidak menerima dalil yang sahih, yang sangat jelas dan terang benderang. 

Saking tidak terima dalil dan perkataan ulama, mereka sodorkan dalil gambar peta dengan panah-panah, kota Madinah ke Najd. Emangnya gambar peta dalil agama? Wis sekarepmu bae lah. Sing penting hujjah telah disampaikan. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

ALLAH ADA DI MANA MANA ?

 4 Padang Pasir di Indonesia yang Mirip ...

* Pertanyaan “Di mana Allah?” lalu dijawab dengan 
* “Sesungguhnya Allah sangat dekat” 
* perlu dijelaskan secara rinci dan lurus sesuai Al Qur'an dan Sunnah 
* agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam akidah.

1️⃣ Akidah Ahlus Sunnah: 
* Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy
* Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa Allah ﷻ berada di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.
📖 Dalil Al-Qur’an


﴿الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
Artinya:
* “(Allah) Yang Maha Pengasih, beristiwa’ di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)
﴿أَأَمِنتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾
Artinya:
* “Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit…?”
(QS. Al-Mulk: 16)

📖 Dalil Hadits
* Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang budak wanita:
«أَيْنَ اللَّهُ؟»
Ia menjawab: «فِي السَّمَاءِ»
Beliau bersabda: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»
Artinya:
* Rasulullah ﷺ bertanya: “Di mana Allah?”
* Dia menjawab: “Di atas langit.”
* Beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena ia seorang mukmin.”
(HR. Muslim no. 537)
➡️ Ini dalil sangat jelas bahwa pertanyaan “di mana Allah?” adalah pertanyaan yang benar, dan jawabannya adalah Allah di atas langit.

2️⃣ Lalu Apa Makna “Allah Maha Dekat”?
* Kedekatan Allah bukan berarti Allah menyatu, berada di mana-mana, atau turun zat-Nya ke makhluk.
* Ini adalah kedekatan ilmu, pengawasan, pertolongan, dan pengabulan doa.
📖 Dalil “Allah Maha Dekat”
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾
Artinya:
* “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾
Artinya:
* “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)

3️⃣ Penjelasan Ulama Ahlus Sunnah
🔹 Imam Ahmad رحمه الله
الله فوق السماء السابعة على عرشه، وعلمه في كل مكان
Artinya:
* “Allah di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat.”
🔹 Imam Ibn Katsir رحمه الله
Dalam tafsir QS. Al-Baqarah: 186:
أي قريب بعلمه من داعيه، سامع لدعائه
Artinya:
* “Maksud ‘dekat’ adalah Allah dekat dengan ilmu-Nya kepada orang yang berdoa, mendengar doa mereka.”
🔹 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله
قرب الله لا ينافي علوه، فهو قريب حقيقة، عالٍ حقيقة
Artinya:
* “Kedekatan Allah tidak menafikan ketinggian-Nya.
Allah dekat secara hakiki dan tinggi secara hakiki.”
🔹 Syaikh Ibn ‘Utsaimin رحمه الله
القرب قرب إجابة، وقرب علم، لا قرب مكان
Artinya:
* “Kedekatan Allah adalah kedekatan dalam mengabulkan dan dalam ilmu, bukan kedekatan tempat.”

4️⃣ Kesimpulan Aqidah yang Lurus
✔️ Allah tinggi di atas ‘Arsy-Nya
✔️ Allah tidak menyatu dengan makhluk
✔️ Allah dekat dengan ilmu, pendengaran, penglihatan, dan pertolongan-Nya
✔️ Mengatakan “Allah di mana-mana” adalah keliru dan menyelisihi manhaj salaf

📌 Ringkasannya:
* Allah di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya
* Namun Allah dekat dengan hamba-Nya dengan ilmu dan pengabulan doa

Wallahu a'lam

Share:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Cari