Berbagai inovasi, kreatifitas, modifikasi dan perkara baru dalam beragama terus bermunculan dan berkembang biak, padahal agama ini telah sempurna, tidak perlu lagi ditambah atau dikurangi.
Allah Ta'ala berfirman:
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا}
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam jadi agama bagi kalian, (QS. Al-Maidah: 3)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس قوله : ( اليوم أكملت لكم دينكم ) وهو الإسلام ، أخبر الله نبيه صلى الله عليه وسلم والمؤمنين أنه أكمل لهم الإيمان ، فلا يحتاجون إلى زيادة أبدا ، وقد أتمه الله فلا ينقصه أبدا ، وقد رضيه الله فلا يسخطه أبدا
Ali ibnu Abu Talhah rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu sehubungan dengan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (QS. Al-Maidah: 3); Yakni agama Islam. Allah Ta'ala memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam TIDAK MEMERLUKAN TAMBAHAN LAGI SELAMANYA. Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Dia telah rida kepadanya, maka Dia tidak akan membencinya selama-lamanya. (Tafsir Ibnu Katsir).
Berkata Imam Malik rahimahullah,
مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا
"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu BID'AH, dia melihatnya sebagai suatu KEBAIKAN, maka dia telah menuduh Muhammad menghianati risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl).
Segala sesuatu dari amalan bid'ah, tidak akan diterima amalannya. Sudah berlelah-lelah, bercapek-capek, menghabiskan waktu dan harta, ternyata tidak diterima amalannya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka dia akan tertolak.” [Hadits Riwayat Muslim ].
Berkata Imam Nawawi rahimahullah,
فيه دليل على أن العبادت من الغسل والوضوء والصوم والصلاة اذا فعلت خلاف الشرع تكون مردودة على فاعلها. شرح الأربعين للنووي.
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa semua bentuk ibadah baik mandi, wudhu, puasa, dan shalat, apabila dikerjakan tidak sesuai dengan ketetapan syariat (Islam) maka amalan ibadah itu tertolak dari pelakunya. (Syarah Arbain Lin Nawawi).
Dan berkata Imam Nawawi rahimahullah,
وهذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام ، وهو من جوامع كلمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في رد كل البدع والمخترعات
Hadits ini adalah kaedah yang amat penting dari kaedah Islam dan merupakan kalimat yang singkat namun sarat makna dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Hadits ini tegas mengatakan membantah setiap perbuatan bid'ah yang tidak ada tuntunannnya".
(Syarh Shahih Muslim).
Berkata Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied rahimahullah :
هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين وهو من جوامع الكلِم التي أوتيها المصطفى صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ كل بدعة وكل مخترع. "شرح الأربعين النووية لابن دقيق العيد"
Hadits ini merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah Agama, dan merupakan Jawaami’ul Kalim(kalimat yang ringkas dan mudah tapi padat makna) yang diberikan kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits ini pun menunjukkan dengan jelas dalam tertolaknya setiap bid’ah dan perkara-perkara baru (dalam agama). (Syarah Arbain An Nawawiyyah Libni Daqiq Al Aid).
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah :
هذا الحديث معدود من أصول الإسلام و قاعدة من قواعده، فإن معناه؛ من اخترعَ من الدين ما لايشهدُ له أصل من أصوله فلا يُلتَفَتُ إليه
“Hadits ini termasuk dari Landasan (inti ajaran) Islam dan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah ajaran Islam, karena maknanya ialah: Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam Agama Islam yang tidak memiliki asal dari Ushuulnya (pokok-pokok Islam) maka hal itu tidak diterima. (Fathul Bari).
Oleh karena itu dikatakan amal shaleh, karena amalan itu dilandasi keikhlasan karena Allah dan mengikuti sunnah, bukan penuh dengan bid'ah.
Allah Ta’ala berfirman :
{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا }
“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya sembahan kalian adalah sembahan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS. Al Kahfi: 110).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :
وَهذانِ ركُنَا العملِ المتقَبَّلِ. لاَ بُدَّ أن يكونَ خالصًا للهِ، صَوابا عَلَى شريعةِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.
"Dan ini dua rukun amalan yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah dan harus benar, sesuai dengan syariat (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan Allah Ta'ala berfirman .:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا
Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)
Berkata Al Fudhail bin 'Iyad rahimahullah:
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُه. قَالُوا : يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ ؟ قَالَ : إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا ، وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا ، لَمْ يُقْبَلْ ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ ، وَالصَّوَابُ : أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ. “مجموع الفتاوى” (1/ 333)
“Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling benar.” Ada yang bertanya, “Wahai Abu Ali apa yang dimaksud paling ikhlas dan paling benar?” Al-Fudhail menjawab, “Jika amalan itu ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas maka juga tidak diterima. Amalan yang diterima adalah yang menggabungkan antara ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal karena Allah dan benar adalah SESUAI SUNNAH.” (Majmu’ Fatawa, 3:124)
Berkata Ibnu Qoyyim rahimahullah :
فالعملُ الصالحُ هوَ الْخالِى مِن الرياءِ المُقَيَّدُ بِالسُّنةِ
Maka amal shaleh itu adalah amal perbuatan yang terlepas dari riya’ dan yang terikat dengan SUNNAH. (Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ 202).
Berkata Syekh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :
"إصابة السنة أفضل من كثرة العمل، ولهذا قال الله تعالى: ( ليبلوكم أيكم أحسن عملاً ) ولم يقل: أكثر. عملا
Mencocoki sunnah lebih utama dari pada banyaknya amalan, oleh karena itu Allah ta'ala berfirman:
ليبلوكم أيكم أحسن عملا
"Supaya Dia menguji kalian, siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk: 2)
Dan (Allah) tidaklah berfirman: yang lebih banyak amalnya. (Shifatush Sholah hal. 169).
[09.38, 11/2/2026] Abu Aish (B Purwantara): Bismillahirrahmanirrahim
Kenapa orang Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy ?
Dulu saya sempat heran kenapa orang-orang yang secara akidah adalah Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy padahal ini disebutkan dalam banyak ayat dalam Al-Qur'an
Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Artinya:
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”
Padahal cara memahaminya sama dengan Allah Ta'ala Maha Mendengar dan Allah Ta'ala Maha Melihat, dengan mengakui keduanya bukan berarti kita mengatakan bahwa Allah Ta'ala punya mata dan telinga seperti makhluk, karena Alah Ta'ala tidak serupa dengan apapun, tentang bagaimana Allah Ta'ala Mendengar dan Melihat kita tidak mengetahui, Allahua'lam, hanya Allah Ta'ala yang Mengetahui hal tersebut sama dengan Allah Ta'ala beeistiwa' diatas Arsy, tentang bagaimana Allah Ta'ala beristiwa' jawabannya sama Allahua'lam, bahkan seperti disebut oleh Imam Maliki menanyakan hal tersebut adalah salah satu ciri Ahlul bid'ah,
Allahua'lam.
Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)
Belakangan setelah banyak baca Kitab/buku saya baru paham ternyata orang-orang Tasawuf menolak karena mereka menyakini Dzat Allah Ta'ala bersatu dengan makhluknya, sehingga ada perkataan "Allah Ta'ala ada di hati" atau yang ekstrem mengatakan "Allah adalah Aku dan Aku adalah Allah,"
Bahkan untuk mendukung aqidahnya yang menyimpangnya ada perkataan yang banyak beredar dikalangan mereka orang Tasawuf yakni "Allah ada tanpa tempat" padahal jelas tidak ada sama sekali dalilnya dari Quran ataupun hadits,
Allahua'lam.
------------
Akidah menyimpang kaum Tasawuf
Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) adalah doktrin tasawuf filosofis yang digagas Ibnu Arabi, menyatakan hanya ada satu wujud hakiki yaitu Allah, sedangkan alam semesta adalah manifestasi atau penampakan (tajalli) dari sifat-sifat-Nya. Konsep ini menekankan bahwa wujud makhluk tidak mandiri dan pada hakikatnya menyatu dengan wujud Tuhan.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai Wahdatul Wujud:
Pencetus dan Tokoh: Dikembangkan oleh Ibnu Arabi (1165-1240 M) dan dipopulerkan oleh muridnya, Sadr al-Din al-Qunawi.
Di Nusantara, pemikiran ini dipopulerkan oleh Hamzah Fansuri.
Inti Ajaran: Segala yang ada di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kandungan atau manifestasi dari Allah Ta'ala Alam semesta bukanlah wujud yang berdiri sendiri, melainkan cermin bagi kesempurnaan Tuhan.
Hubungan Pencipta dan Makhluk: Meskipun sering dianggap panteisme, Wahdatul Wujud menekankan bahwa Tuhan tetap transenden (tertinggi) dan berbeda dari makhluk, namun Dia meliputi seluruh ciptaan-Nya.
Perspektif Sufi & Kontroversi: Sebagian sufi menganggapnya pencapaian tertinggi dalam tauhid. Namun, konsep ini kontroversial dan dikritik oleh sebagian ulama karena dianggap menyamakan Tuhan dengan makhluk (kemusyrikan).
Konsep Terkait: Berkaitan dengan Insan Kamil (manusia sempurna) yang mencerminkan kesatuan dengan Tuhan.
Wahdatul Wujud BUKANLAH bagian dari akidah dasar Islam, melainkan salah satu pandangan dalam tasawuf mengenai hakikat eksistensi.
Sumber referensi berbagai sumber.
AMALAN BID'AH TIDAK AKAN DITERIMA
TUDUHAN KHAWARIJ TERHADAP ULAMA AHLUSSUNNAH
Edisi Bantahan
Betulkah surah Az Zumar ayat 3 digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin? Perhatikan ayat yang di maksud,
Allah Ta'ala berfirman,
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesunggguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az Zumar 3).
Surah Az Zumar ayat 3 ini adalah salah satu hujjah yang dipakai para ulama ahlussunnah untuk membantah praktek kesyirikan dari zaman ke zaman. Tidak ada kelompok Khawarij yang menggunakan ayat ini untuk mengkafirkan kaum muslimin.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
قال قتادة ، والسدي ، ومالك عن زيد بن أسلم ، وابن زيد : { إلا ليقربونا إلى الله زلفى } أي: ليشفعوا لنا ، ويقربونا عنده منزلة .
ولهذا كانوا يقولون في تلبيتهم إذا حجوا في جاهليتهم : " لبيك لا شريك لك ، إلا شريكا هو لك ، تملكه وما ملك " . وهذه الشبهة هي التي اعتمدها المشركون في قديم الدهر وحديثه ، وجاءتهم الرسل صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ، بردها والنهي عنها ، والدعوة إلى إفراد العبادة لله وحده لا شريك له ، وأن هذا شيء اخترعه المشركون من عند أنفسهم ، لم يأذن الله فيه ولا رضي به ، بل أبغضه ونهى عنه
Qatadah, As-Saddi, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) Yaitu agar sembahan-sembahan itu dapat menolong kami dan mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Karena itulah mereka mengatakan dalam talbiyahnya bila melakukan ibadah haji di masa Jahiliah, "labbaika la syarikalaka illa syar'ikan huwa laka tamlikuhu wama malak.” (Kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang kepunyaan-Mu, Engkau memilikinya, sedangkan sekutu-sekutu itu tidak memiliki).
Kekeliruan semacam inilah yang sengaja dilakukan oleh orang-orang MUSYRIK di masa SILAM dan masa SEKARANG. Lalu datanglah kepada mereka para rasul yang menolak keyakinan seperti ini, melarangnya, serta menyeru mereka untuk memurnikan penyebaran hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik dari diri mereka sendiri. Allah tidak mengizinkan hal itu, tidak merestuinya, bahkan murka terhadapnya dan melarangnya. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
وأخبر أن الملائكة التي في السماوات من المقربين وغيرهم ، كلهم عبيد خاضعون لله ، لا يشفعون عنده إلا بإذنه لمن ارتضى ، وليسوا عنده كالأمراء عند ملوكهم ، يشفعون عندهم بغير إذنهم فيما أحبه الملوك وأبوه ، { فلا تضربوا لله الأمثال } [ النحل : 74 ] ، تعالى الله عن ذلك .
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa para malaikat yang ada di langit, yaitu para malaikat yang terdekat dan juga malaikat lainnya, semuanya ialah hamba-hamba Allah yang tunduk patuh kepada-Nya; mereka tidak mau meminta syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya terhadap orang yang direstui-Nya. Para malaikat di sisi-Nya tidaklah seperti keadaan para amir di hadapan raja-raja mereka yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) di sisi raja-raja mereka tanpa restu dari raja-raja mereka; raja mereka setuju ataukah tidak, syafaat tetap dilakukan. Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. (An-Nahl: 74). (Tafsir Ibnu Katsir).
Ayat yang sering digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin adalah ayat 44 dari surah Al Maidah, bukan surah Az-Zumar ayat 3.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [Al-Mâidah : 44].
Makanya Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata tentang orang-orang khawarij,
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ الله عَزَّ وَجَلَّ، وَقَالَ: إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
‘Abdullâh bin ‘Umar Radhiyallahu anhu memandang Khawarij sebagai sejelek-jelek makhluk Allâh Azza wa Jalla dan dia mengatakan, ‘Mereka beranjak menuju ayat-ayat tentang orang-orang kafir, lalu menerapkan pada orang-orang yang beriman “ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari].
Maka tidak secara langsung, ini tuduhan dan fitnahan yang sangat keji kepada ulama-ulama ahlussunnah yang banyak membawakan dalil az zumar ayat 3 tentang perilaku kesyirikan dari zaman dahulu sampai sekarang di kitab-kitab mereka dan di ceramah-ceramah mereka sebagai orang-orang khawarij.
AFM
Copas dari berbagai sumber
TUDUHAN KHAWARIJ TERHADAP ULAMA AHLUSSUNNAH
Edisi Bantahan
Betulkah surah Az Zumar ayat 3 digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin? Perhatikan ayat yang di maksud,
Allah Ta'ala berfirman,
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesunggguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az Zumar 3).
Surah Az Zumar ayat 3 ini adalah salah satu hujjah yang dipakai para ulama ahlussunnah untuk membantah praktek kesyirikan dari zaman ke zaman. Tidak ada kelompok Khawarij yang menggunakan ayat ini untuk mengkafirkan kaum muslimin.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
قال قتادة ، والسدي ، ومالك عن زيد بن أسلم ، وابن زيد : { إلا ليقربونا إلى الله زلفى } أي: ليشفعوا لنا ، ويقربونا عنده منزلة .
ولهذا كانوا يقولون في تلبيتهم إذا حجوا في جاهليتهم : " لبيك لا شريك لك ، إلا شريكا هو لك ، تملكه وما ملك " . وهذه الشبهة هي التي اعتمدها المشركون في قديم الدهر وحديثه ، وجاءتهم الرسل صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ، بردها والنهي عنها ، والدعوة إلى إفراد العبادة لله وحده لا شريك له ، وأن هذا شيء اخترعه المشركون من عند أنفسهم ، لم يأذن الله فيه ولا رضي به ، بل أبغضه ونهى عنه
Qatadah, As-Saddi, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) Yaitu agar sembahan-sembahan itu dapat menolong kami dan mendekatkan kami kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala
Karena itulah mereka mengatakan dalam talbiyahnya bila melakukan ibadah haji di masa Jahiliah, "labbaika la syarikalaka illa syar'ikan huwa laka tamlikuhu wama malak.” (Kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang kepunyaan-Mu, Engkau memilikinya, sedangkan sekutu-sekutu itu tidak memiliki).
Kekeliruan semacam inilah yang sengaja dilakukan oleh orang-orang MUSYRIK di masa SILAM dan masa SEKARANG. Lalu datanglah kepada mereka para rasul yang menolak keyakinan seperti ini, melarangnya, serta menyeru mereka untuk memurnikan penyebaran hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik dari diri mereka sendiri. Allah tidak mengizinkan hal itu, tidak merestuinya, bahkan murka terhadapnya dan melarangnya. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
وأخبر أن الملائكة التي في السماوات من المقربين وغيرهم ، كلهم عبيد خاضعون لله ، لا يشفعون عنده إلا بإذنه لمن ارتضى ، وليسوا عنده كالأمراء عند ملوكهم ، يشفعون عندهم بغير إذنهم فيما أحبه الملوك وأبوه ، { فلا تضربوا لله الأمثال } [ النحل : 74 ] ، تعالى الله عن ذلك .
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa para malaikat yang ada di langit, yaitu para malaikat yang terdekat dan juga malaikat lainnya, semuanya ialah hamba-hamba Allah yang tunduk patuh kepada-Nya; mereka tidak mau meminta syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya terhadap orang yang direstui-Nya. Para malaikat di sisi-Nya tidaklah seperti keadaan para amir di hadapan raja-raja mereka yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) di sisi raja-raja mereka tanpa restu dari raja-raja mereka; raja mereka setuju ataukah tidak, syafaat tetap dilakukan. Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. (An-Nahl: 74). (Tafsir Ibnu Katsir).
Ayat yang sering digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin adalah ayat 44 dari surah Al Maidah, bukan surah Az-Zumar ayat 3.
Allah Ta'ala berfirman,
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [Al-Mâidah : 44].
Makanya Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata tentang orang-orang khawarij,
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ الله عَزَّ وَجَلَّ، وَقَالَ: إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
‘Abdullâh bin ‘Umar Radhiyallahu anhu memandang Khawarij sebagai sejelek-jelek makhluk Allâh Azza wa Jalla dan dia mengatakan, ‘Mereka beranjak menuju ayat-ayat tentang orang-orang kafir, lalu menerapkan pada orang-orang yang beriman “ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari].
Maka tidak secara langsung, ini tuduhan dan fitnahan yang sangat keji kepada ulama-ulama ahlussunnah yang banyak membawakan dalil az zumar ayat 3 tentang perilaku kesyirikan dari zaman dahulu sampai sekarang di kitab-kitab mereka dan di ceramah-ceramah mereka sebagai orang-orang khawarij.
AFM
Copas dari berbagai sumber
SUDAHKAH KITA MEMILIKI BAGIAN DARI AMALAN YANG TERSEMBUNYI?
Ada satu doa yang senantiasa diulang-ulang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Doa yang selalu beliau rutinkan dan beliau baca di waktu-waktu mustajab. Salah satu doa yang selayaknya mendapatkan perhatian khusus dari kita. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يُكثرُ أن يقولَ يا مقلِّبَ القلوبِ ثَبِّتْ قلبِي على دينِك فقلت يا نبيَّ اللهِ آمنَّا بك وبما جئتَ به فهل تخافُ علينا؟ قال نعم إن القلوبَ بينَ إصبعينِ من أصابعِ اللهِ يُقلِّبُها كيفَ يشاءُ
”Rasulullah ﷺ senantiasa memperbanyak doa, ‘Wahai Zat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Lalu, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepadamu dan dengan apa yang engkau bawa, apakah engkau mengkhawatirkan kami?’ Beliau bersabda, ‘Iya, sesungguhnya hati itu ada di antara dua jemari dari jari jemari Allah. Dia membolak-balikkan sebagaimana yang Dia kehendaki.’” (HR. Tirmidzi no. 2140, Ahmad no. 13696 dan Ibnu Majah no. 38334)
Jika Nabi saja mengkhawatirkan kondisi agama para sahabatnya, maka ketakutan dan kekhawatiran kita akan godaan terhadap agama kita tentunya lebih besar. Karena hati ini seperti namanya dalam bahasa Arab “Al-Qalbu” memiliki makna mudah dan cepat berubah. Dari keimanan menuju kekafiran. Dan dari ketaatan menuju kemaksiatan.
Salah satu hal terbesar yang akan membantu kita teguh di atas kebenaran dan keimanan adalah menjaga hal-hal yang bersifat rahasia dari ibadah yang tersembunyi. Karena hal-hal tersebut terbukti akan menguatkan keteguhan kita. Amalan tersembunyi adalah ujian tersendiri yang dihadapkan pada amalan kita di hari kiamat nanti. Allah Ta’ala mengatakan,
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. At-Thariq: 9)
Mengenai ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Muqaatil rahimahullah mengatakan, ‘Yaitu, itu nampak dan muncul…’ Maka, keimanan termasuk dari rahasia. Dan hukum-hukum-Nya termasuk rahasia. Mereka semua akan diuji pada hari itu untuk menampakkan mana saja yang baik dari yang buruk. Siapa saja yang melaksanakannya dari mereka yang menyepelekannya. Dan apa yang diniatkan untuk Allah dari apa yang bukan untuk-Nya.”
Kebaikan yang disembunyikan dan niat yang tulus karena Allah Ta’ala akan menjadikan pahala sebuah amal menjadi besar, meskipun aslinya amalannya tersebut terlihat kecil dan sedikit. Sedangkan niat yang jelek bisa jadi akan membatalkan pahala sebuah amal, meskipun amalannya tersebut terlihat besar.
Perbanyaklah amalan-amalan tersembunyi untuk menggapai rida Allah Ta’ala. Sahabat Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
مَنِ استطاعَ منكم أنْ يكونَ لَهُ خَبْءٌ [خَبِيءٌ] مِنْ عمَلٍ صالِحٍ فلْيَفْعَلْ
”Siapa saja di antara kalian yang mampu untuk memiliki amal saleh yang tersembunyikan, maka lakukanlah!” (Diriwayatkan dan disahihkan oleh Syekh Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6018)
Ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi serta meninggalkan dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan mengangkat derajat seorang hamba, membesarkan nilai pahala, dan menghapuskan dosa-dosa. Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ
“Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka, berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin :11)
Ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi akan menguatkan hubungan kita dengan Allah Ta’ala. Tidaklah ada seseorang yang mengeluhkan lemahnya hubungan dirinya dengan Allah, kecuali pasti sedikit dirinya di dalam berdua-duaan, berkhalwat, dan bermunajat dengan Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kekasih hati kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa bangun di malam hari, bermunajat dengan Tuhan-Nya, beriktikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dengan kualitas salat yang tidak perlu diragukan dan dipertanyakan lagi bagusnya dan lamanya. Allah Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ * قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ * نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ * اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ * اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا * اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (QS. Az-Zamil: 1-6)
Jikalau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu khusus untuk berduaan dengan Rabbnya dan salat di hadapan-Nya, maka beliau tidak akan kuat memikul amanah risalah yang berat ini.
Wahai saudaraku yang sedang menghadapi kesulitan dalam agamanya, sedang menghadapi kesulitan dalam urusan dunianya, mohonlah pertolongan kepada Tuhanmu, berbisiklah kepada-Nya di malam-malam yang sunyi. Karena amal ibadah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi merupakan salah satu sebab terbesar diterimanya doa-doa dan harapanmu. Karena amalan tersebut akan menjagamu dari riya’ dan pengelihatan manusia.
Sebagaimana setan menggoda manusia pada ibadah-ibadah yang nampak dengan riya’, setan juga tidak berputus asa dari amalan-amalan yang tersembunyi. Mereka akan menggoda para pelakunya untuk berlaku ujub, bangga diri dengan amalan tersembunyi yang telah dilakukannya. Terkadang ia jadi meremehkan saudara semuslimnya yang lain. Menganggap bahwa amal ibadah tersembunyi yang dilakukannya menjadikannya lebih baik dari mereka semua. Saat engkau sudah dimampukan untuk melakukan amal ibadah tersembunyi ini, maka berhati-hatilah dari jebakan setan tersebut.
Berhati-hatilah juga wahai saudaraku, setan akan berusaha menggoda mereka yang telah berhasil melakukan amalan secara sembunyi-sembunyi dengan cara membuatnya lalai, membuat lisannya tidak kuat untuk tidak menceritakan hal tersebut kepada manusia lainnya. Amalan yang sudah susah payah dilakukannya secara sembunyi-sembunyi itu dengan cepat berubah menjadi amalan yang nampak hanya dengan satu ucapan dari lisannya. Berusahalah sekuat tenaga wahai saudaraku, untuk tidak menceritakan amalan tersembunyi yang telah kita lakukan.
Ketahuilah bahwa selain amalan-amalan tersembunyi, ada juga amalan-amalan yang Allah Ta’ala ingin untuk ditampakkan. Oleh karenanya, janganlah terlambat dan jangan lupakan bagianmu dari ibadah-ibadah ini, baik itu menghadiri salat berjemaah ataupun menghadiri salat Jumat layaknya berkumpulnya kita di masjid yang mulia ini. Sungguh itu bukanlah termasuk dari riya’ yang diharamkan.
Amalan-amalan tersembunyi adalah penyeimbang bagi amal ibadah kita yang zahir dan nampak tersebut. Oleh karenanya, sangat penting sekali untuk kita rutinkan dan kita jaga. Muslim bin Yasar rahimahullah, salah atau tabiin dan muhaddits terkemuka pernah mengatakan,
ما تلذَّذ المتلذِّذونَ بمثلِ الخَلْوةِ بمناجاةِ اللهِ عز وجل
”Tidak ada kenikmatan yang dapat dirasakan oleh seorang penikmat melebihi nikmatnya yang kesendirian untuk bermunajat dengan Allah Azza Wajalla.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam hal. 36)
Masruq bin Ajda’ rahimahullah juga pernah mengatakan,
إِنَّ الْمَرْءَ لَحَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرَ فِيهَا ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرَ مِنْهَا
“Sesungguhnya wajib bagi seseorang untuk memiliki waktu-waktu di mana dia menyendiri di dalamnya. Waktu-waktu yang ia manfaatkan untuk mengingat dosa-dosanya dan meminta pengampunan untuk itu.” (Mushannaf Al-Hafidz Ibnu Abi Syaibah no. 36017)
Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita untuk bisa menjaga dan merutinkan amal ibadah yang nampak maupun yang tidak nampak dan tersembunyi.
Ya Allah, kuatkanlah kami untuk bisa rutin bangun di sepertiga malam terakhir dan bermunajat kepada-Mu, izinkan hamba-Mu ini untuk memiliki waktu khusus dengan-Mu.
Ya Allah, jauhkan diri kami dari riya’ dan ujub dalam beribadah, karena keduanya pastilah akan merusak kadar keikhlasan kami di dalam beramal.
➡https://muslim.or.id/86235-amalan-yang-tersembunyi.html
Menjadikan Mereka Mengutamakan Qias Daripada Hadits
Salah satu talbis iblis di dalam bidang fiqih. Yaitu iblis menjadikan mereka mengutamakan qias daripada hadits. Ini tipu daya yang dilakukan oleh iblis terhadap manusia, dan ini merupakan salah satu sebab dia tidak melaksanakan perintah Allah dengan argumentasi :👇
“Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”
(📖QS. Al-A’raf[7]: 12)
Iblis merasa unsur penciptaannya (yaitu api) lebih baik daripada tanah. Maka menurut analogi yang dia pakai bahwa tidak layak dirinya untuk sujud kepada Adam. Seharusnya sebaliknya, Adam yang sujud kepada iblis. Maka diapun menolak perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan qiyas yang rusak. Ini yang dibisikkan oleh iblis ke telinga manusia untuk melakukan analogi-analogi yang keliru dan membuat mereka takjub dengan logika yang mereka miliki.
Salah satu di antara perkara yang menjadikan banyak menyimpang dari sunnah adalah penggunaan qiyas yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Yaitu qiyas tapi tidak ada kesamaan antara sesuatu yang diqiyaskan dengan materi qiyasnya. Hingga terjadi kekeliruan di dalam istimbat hukum dan muncullah hal-hal yang berseberangan dan bertolak belakang dengan sunnah atau dengan apa-apa yang dikenal oleh para sahabat.
Tentunya qiyas adalah salah satu thariqul istimbat furu’iyyah yang bisa digunakan, tapi dengan ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan oleh para ulama.
Yaitu: 👇
adanya illat yang menyatukan antara keduanya,
ada kesamaan antara keduanya dan tidak ada perbedaan. Karena inti dari qiyas yang shahih adalah menyatukan perkara-perkara yang sama dalam hal illat dan lainnya dalam satu hukum dan membedakan hal-hal yang tidak sama. Tapi ketika ini digunakan secara serampangan, maka kadang-kadang hal yang tidak sama disamakan, hal yang berbeda disatukan, hingga terjadi kesalahan hukum.
Semua ini tidak lepas dari penggunaan logika yang terlalu luas ataupun tidak pada tempatnya. Melakukan analisis berdasarkan logika yang terlalu berlebih-lebihan.
Ini tentunya satu dorongan yang ditiupkan oleh iblis ke dalam pikiran manusia. Atas dasar itu apabila salah ada salah seorang dari mereka yang berdalil dengan hadits, maka akan dicela dan ditolak dengan argumentasi “Perlu ditimbang dulu dengan logika” apakah hadits itu relevan atau tidak.
Maka terjadilah benturan antara hadits dengan analogi-analogi manusia. Padahal salah satu adab syar’i dalam berdalil adalah mendahulukan hadits atau nash daripada qiyas atau analogi. Maka dari itu fuqaha ahlul hadits yang membagi dalil syar’i menjadi dua bagian besar. Yaitu: 👇
➡1.Sumber hukum asli (Al-Qur’an dan hadits),
➡2.Sumber hukum yang mengikut kepada yang asli (qiyas, ijma’, dll)
Dalam hal ini tentunya kalau ada sumber hukum yang asli itu lebih didahulukan daripada yang taba’i. Talbis iblis dalam masalah ini adalah sebagian orang yang mungkin berkecimpung di dalam istimbath al-ahkam, mereka didorong untuk berlebih-lebihan di dalam menggunakan logika ataupun analogi untuk memutuskan dan menimbang satu hukum. Walaupun konsekuensinya adalah bertabrakan dengan hadits.
rodja.id/38w
Sumber : Rodja TV
KISAH WANITA YANG KEMATIANNYA DISAMBUT BERIBU-RIBU MALAIKAT
Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan. Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang.
Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar,
“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”
Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.
Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..
Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang.
KALAU INGIN ANAK KITA MENJADI KUAT, MAKA KITA HARUS MENJADI IBU YG KUAT TERLEBIH DAHULU.
Semoga bermanfaat 🙏
TULISAN SESEORANG
SEMOGA ALLAH MENJAGA NYA 🤲
SETELAH MANUSIA MASUK SURGA DAN MASUK NERAKA TIDAK ADA LAGI KEMATIAN
🎙️Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Ahlus Sunnah mengimani bahwa setelah manusia masuk Surga atau masuk Neraka tidak ada lagi kematian. Kematian adalah masalah maknawi yang tidak bisa dilihat dengan indera. Namun di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai sesuatu yang berbentuk kambing dan dapat dilihat oleh indera, kemudian disembelih di antara Surga dan Neraka, lalu dikatakan:
…يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلاَ مَوْتَ.
“…Wahai penghuni Surga, kalian kekal (selamanya) dan tidak akan mati. (Demikian pula kepada penghuni Neraka), Wahai penghuni Neraka kalian kekal dan tidak akan mati.”[1]
Rangkaian peristiwa yang terjadi di akhirat, seperti hisab, pemberian pahala, siksaan, Surga, Neraka, dan rincian semua hal itu sudah disebutkan dalam kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah, serta disebutkan dalam riwayat-riwayat yang diwariskan oleh para Nabi, sedangkan yang terkandung dalam Sunnah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini sudah cukup serta memadai. Siapa yang mencarinya (mempelajarinya), ia pasti akan mendapatkannya.[2]
Beriman kepada hari Akhir, yaitu hari dibangkitkannya semua makhluk dan apa yang terjadi padanya akan mengingatkan seorang Mukmin bahwa ia akan kembali kepada Allah, maka ia berusaha untuk melakukan amal yang terbaik dengan ikhlas dan ittiba’ didasari dengan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta menumbuhkan raja’ (harapan) kepada rahmat Allah dan khauf (takut) terhadap siksa Allah, dan selalu bertaubat dari segala dosa.
Baca Juga Apakah Sekarang Sudah Ada Jannah Dan Naar ?
Allah Ta’ala menegaskan penyebutan tentang hari Akhir di dalam Kitab-Nya, mengulang-ulang penyebutannya di setiap tempat, mengingatkan atasnya dalam setiap saat dan menegaskan kejadiannya, banyak menyebutkannya, dan mengaitkan bahwa keimanan kepada hari Akhir berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah Ta’ala.
Dia Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur-an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” [Al-Baqarah/2: 4]
[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
Footnote
[1] HR. Al-Bukhari, Kitaabut Tafsiir (no. 4730), dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu
[2] At-Tanbiihatul Lathiifah (hal. 74) dan Syarhul ‘Aqiidah al-Waasithiyyah (II/182). Bagi yang ingin membaca dengan lengkap silakan baca Shahiihul Bukhari: Kitaabur Riqaaq, Shahiih Muslim: Kitaabul Iimaan dari bab 80, Kitaabul Jannah dengan semua babnya, Sunan Abi Dawud: Kitaabus Sunnah dan Sunan at-Tirmidzi: Kitaab Shifaatil Qiyaamah dengan semua babnya, dan yang lainnya.
Referensi :
Sumber
https://almanhaj.or.id/80665-setelah-manusia-masuk-surga-dan-masuk-neraka-tidak-ada-lagi-kematian.html






