}

AMALAN BID'AH TIDAK AKAN DITERIMA

Unta Mesin Padang Pasir yang ...

Berbagai inovasi, kreatifitas, modifikasi dan perkara baru dalam beragama terus bermunculan dan berkembang biak, padahal agama ini telah sempurna, tidak perlu lagi ditambah atau dikurangi.

Allah Ta'ala berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا}

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku­ridai Islam jadi agama bagi kalian, (QS. Al-Maidah: 3)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس قوله : ( اليوم أكملت لكم دينكم ) وهو الإسلام ، أخبر الله نبيه صلى الله عليه وسلم والمؤمنين أنه أكمل لهم الإيمان ، فلا يحتاجون إلى زيادة أبدا ، وقد أتمه الله فلا ينقصه أبدا ، وقد رضيه الله فلا يسخطه أبدا

Ali ibnu Abu Talhah rahimahullah  meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu sehubungan dengan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (QS. Al-Maidah: 3); Yakni agama Islam. Allah Ta'ala memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam TIDAK MEMERLUKAN TAMBAHAN LAGI SELAMANYA.  Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Dia telah rida kepadanya, maka Dia tidak akan membencinya selama-lamanya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Berkata Imam Malik rahimahullah, 

مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا

"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu BID'AH, dia melihatnya sebagai suatu KEBAIKAN, maka dia telah menuduh Muhammad menghianati risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl). 

Segala sesuatu dari amalan bid'ah, tidak akan diterima amalannya. Sudah berlelah-lelah, bercapek-capek, menghabiskan waktu dan harta, ternyata tidak diterima amalannya. 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka dia akan tertolak.” [Hadits Riwayat Muslim ].

Berkata Imam Nawawi rahimahullah,

فيه دليل على أن العبادت من الغسل والوضوء والصوم والصلاة اذا فعلت خلاف الشرع تكون مردودة على فاعلها.  شرح الأربعين للنووي.
 
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa semua bentuk ibadah baik mandi, wudhu, puasa, dan shalat, apabila dikerjakan tidak sesuai dengan ketetapan syariat (Islam) maka amalan ibadah itu tertolak dari pelakunya. (Syarah Arbain Lin Nawawi). 

Dan berkata Imam Nawawi rahimahullah,

وهذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام ، وهو من جوامع كلمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في رد كل البدع والمخترعات

Hadits ini adalah kaedah yang amat penting dari kaedah Islam dan merupakan kalimat yang singkat namun sarat makna dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Hadits ini tegas mengatakan membantah setiap perbuatan bid'ah yang tidak ada tuntunannnya".
(Syarh Shahih Muslim). 

Berkata Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied rahimahullah :

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين وهو من جوامع الكلِم التي أوتيها المصطفى صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ كل بدعة وكل مخترع. "شرح الأربعين النووية لابن دقيق العيد"
 

Hadits ini merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah Agama, dan merupakan Jawaami’ul Kalim(kalimat yang ringkas dan mudah tapi padat makna) yang diberikan kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits ini pun menunjukkan dengan jelas dalam tertolaknya setiap bid’ah dan perkara-perkara baru (dalam agama). (Syarah Arbain An Nawawiyyah Libni Daqiq Al Aid).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah :

هذا الحديث معدود من أصول الإسلام و قاعدة من قواعده، فإن معناه؛ من اخترعَ من الدين ما لايشهدُ له أصل من أصوله فلا يُلتَفَتُ إليه

“Hadits ini termasuk dari Landasan (inti ajaran) Islam dan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah ajaran Islam, karena maknanya ialah: Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam Agama Islam yang tidak memiliki asal dari Ushuulnya (pokok-pokok Islam) maka hal itu tidak diterima. (Fathul Bari).

Oleh karena itu dikatakan amal shaleh, karena amalan itu dilandasi keikhlasan karena Allah dan mengikuti sunnah, bukan penuh dengan bid'ah. 

Allah Ta’ala berfirman :

{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا }

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya sembahan kalian adalah sembahan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".  (QS. Al Kahfi: 110).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

وَهذانِ ركُنَا العملِ المتقَبَّلِ. لاَ بُدَّ أن يكونَ خالصًا للهِ، صَوابا  عَلَى شريعةِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.

"Dan ini dua rukun amalan yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah dan harus benar, sesuai dengan syariat (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan Allah Ta'ala berfirman .:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)

Berkata Al Fudhail bin 'Iyad rahimahullah:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُه. قَالُوا : يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ ؟  قَالَ : إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا ، وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا ، لَمْ يُقْبَلْ ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ ، وَالصَّوَابُ : أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ. “مجموع الفتاوى” (1/ 333) 

“Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling benar.” Ada yang bertanya, “Wahai Abu Ali apa yang dimaksud paling ikhlas dan paling benar?”  Al-Fudhail menjawab, “Jika amalan itu ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas maka juga tidak diterima. Amalan yang diterima adalah yang menggabungkan antara ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal karena Allah dan benar adalah SESUAI SUNNAH.” (Majmu’ Fatawa, 3:124)

Berkata Ibnu Qoyyim rahimahullah :

فالعملُ الصالحُ هوَ الْخالِى مِن الرياءِ المُقَيَّدُ بِالسُّنةِ

Maka amal shaleh itu adalah amal perbuatan yang terlepas dari riya’ dan yang terikat dengan SUNNAH. (Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’  202).

Berkata Syekh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

"إصابة السنة أفضل من كثرة العمل، ولهذا قال الله تعالى: ( ليبلوكم أيكم أحسن عملاً ) ولم يقل: أكثر. عملا

Mencocoki sunnah lebih utama dari pada banyaknya amalan, oleh karena itu Allah ta'ala berfirman:

ليبلوكم أيكم أحسن عملا

"Supaya Dia menguji kalian, siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk: 2)

Dan (Allah) tidaklah berfirman: yang lebih banyak amalnya. (Shifatush Sholah hal. 169).
[09.38, 11/2/2026] Abu Aish (B Purwantara): Bismillahirrahmanirrahim

Kenapa orang Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy  ? 

Dulu saya sempat heran kenapa orang-orang yang secara akidah adalah Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy padahal ini disebutkan dalam banyak ayat dalam Al-Qur'an

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Padahal cara memahaminya sama dengan Allah Ta'ala Maha Mendengar dan Allah Ta'ala Maha Melihat, dengan mengakui keduanya bukan berarti kita mengatakan bahwa Allah Ta'ala punya mata dan telinga seperti makhluk, karena Alah Ta'ala tidak serupa dengan apapun, tentang bagaimana Allah Ta'ala Mendengar dan Melihat kita tidak mengetahui, Allahua'lam, hanya Allah Ta'ala yang Mengetahui hal tersebut  sama dengan Allah Ta'ala beeistiwa' diatas Arsy, tentang bagaimana Allah Ta'ala beristiwa' jawabannya sama Allahua'lam, bahkan seperti disebut oleh Imam Maliki menanyakan hal tersebut adalah salah satu ciri Ahlul bid'ah, 
Allahua'lam. 

Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Belakangan setelah banyak baca Kitab/buku saya baru paham ternyata orang-orang Tasawuf menolak karena mereka menyakini Dzat Allah Ta'ala bersatu dengan makhluknya, sehingga ada perkataan "Allah Ta'ala ada di hati" atau yang ekstrem mengatakan "Allah adalah Aku dan Aku adalah Allah," 

Bahkan untuk mendukung aqidahnya yang menyimpangnya ada perkataan yang banyak beredar dikalangan mereka orang Tasawuf yakni "Allah ada tanpa tempat"  padahal jelas tidak ada sama sekali dalilnya dari Quran ataupun hadits, 
Allahua'lam. 

------------

Akidah menyimpang kaum Tasawuf

Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) adalah doktrin tasawuf filosofis yang digagas Ibnu Arabi, menyatakan hanya ada satu wujud hakiki yaitu Allah, sedangkan alam semesta adalah manifestasi atau penampakan (tajalli) dari sifat-sifat-Nya. Konsep ini menekankan bahwa wujud makhluk tidak mandiri dan pada hakikatnya menyatu dengan wujud Tuhan. 

Berikut adalah poin-poin penting mengenai Wahdatul Wujud:

Pencetus dan Tokoh: Dikembangkan oleh Ibnu Arabi (1165-1240 M) dan dipopulerkan oleh muridnya, Sadr al-Din al-Qunawi. 

Di Nusantara, pemikiran ini dipopulerkan oleh Hamzah Fansuri.
Inti Ajaran: Segala yang ada di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kandungan atau manifestasi dari Allah Ta'ala Alam semesta bukanlah wujud yang berdiri sendiri, melainkan cermin bagi kesempurnaan Tuhan.

Hubungan Pencipta dan Makhluk: Meskipun sering dianggap panteisme, Wahdatul Wujud menekankan bahwa Tuhan tetap transenden (tertinggi) dan berbeda dari makhluk, namun Dia meliputi seluruh ciptaan-Nya.

Perspektif Sufi & Kontroversi: Sebagian sufi menganggapnya pencapaian tertinggi dalam tauhid. Namun, konsep ini kontroversial dan dikritik oleh sebagian ulama karena dianggap menyamakan Tuhan dengan makhluk (kemusyrikan).

Konsep Terkait: Berkaitan dengan Insan Kamil (manusia sempurna) yang mencerminkan kesatuan dengan Tuhan. 

Wahdatul Wujud BUKANLAH bagian dari akidah dasar Islam, melainkan salah satu pandangan dalam tasawuf mengenai hakikat eksistensi. 

Sumber referensi berbagai sumber.

Share:

Tidak ada komentar:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Arsip Blog

Cari