Edisi Bantahan
Salafi itu punya metode atau istilah orang slogan dalam beragama, "Kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafushshaleh."
Jangan dipotong hanya slogan kembali kepada alquran dan assunnah. Kenapa demikian? Simaklah pembahasan dibawah ini.
PERTAMA, Sebab tersesatnya manusia atau suatu kelompok, dikarenakan mereka tidak mengikuti petunjuk dalil alquran dan assunnah. Apa dalilnya? Perhatikan hadits di bawah ini,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).
Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).
Allah Ta'ala berfirman:
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٰ
Maka jika datang dariku petunjuk kepada kalian, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit ...(QS. Thaha 123).
Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah, tentang ayat,
فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Thaha 123).
"أن كل من اتبع القرآن والسنة، وعمل بما فيهما، فقد سلم من الضلال بلا شك""كتاب صيد الخاطر"
Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti alquran dan assunnah dan beramal dengan apa yang ada pada keduanya, maka sungguh dia telah selamat dari kesesatan tanpa ragu lagi. (Shaidul Khatir).
Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:
وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم
Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.
Berkata As Syaikh Rabi hafidzahullah :
"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥
"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).
KEDUA, banyak diantara manusia atau kelompok (jamaah) yang menyeru dan mendakwahkan untuk kembali kepada alquran dan as sunnah, namun mereka memahami alquran dan as sunnah dengan akal mereka, perasaan mereka, hawa nafsu mereka atau dengan cara cocokologi. Maka mereka tersesat dari jalan yang benar.
Memahami dalil dan mengamalkan dalil, mesti dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh, pemahaman tiga generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabi’in dan tabiuttabi'in) agar tidak tersesat dari jalan yang lurus.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى
Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. QS. (An-Nisa: 115)
Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di belahan yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.
Allah Ta'ala berfirman:
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين
Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. (An-Nisa: 115)
Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nash syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nisa 15).
Berkata Al-Imam Abu 'Amr Al-Auza'i rahimahullah:
" عليك باثار السلف وان رفضك الناس، واياك واراء الرجال وان زخرفوه لك بالقول " (الشريعة : 63 )
"Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan ilmu yang diwariskan oleh para salaf terbaik ummat ini (salafush sholih) meskipun orang-orang menentangmu, dan berhati-hatilah dari pemikiran-pemikiran para tokoh (yang menyimpang) meskipun mereka menghias untukmu dengan kata-kata indah." (Asy-Syari'ah 63).
Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :
أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ}
Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).
Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢
“Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.
“Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556).
Berkata Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah :
أصول الدعوة السلفية قائمة على ثلاث دعائم : القرءان الكريم والسنة الصحيحة وفهمها علي منهج السلف الصالح من الصحابة والتابعين وأتباعهم . وسـبـب ضـَلال الفـرق كـلّـهَا قَـديما وحـَـديثا هُـو عـدم التّـمـسك بالدعـامة الثالثة. مجلة الاصالة العدد ٢٣
"Pokok-pokok dakwah salafiyah tegak di atas tiga pilar :
- ALQURAN ALKARIM,
- SUNNAH YANG SHAHIH
- DAN MEMAHAMI KEDUANYA ATAS MANHAJ SALAFUSHSHALEH DARI SAHABAT, TABI'IN DAN DAN YANG MENGIKUTI MEREKA.
Dan sebab kesesatan dari seluruh kelompok-kelompok yang ada, dahulu dan sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan penyangga yang ketiga.". [majalah al ashalah edisi ke- 23].
Salah satu contoh kasus (terlalu panjang lebar kalau banyak kasus yang mau diangkat), seseorang atau kelompok (jamaah) yang memahami alquran dan as sunnah bukan dengan pemahaman yang benar, misalkan ada sebuah ayat dalam alquran dalam surah Thaha ayat 14:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Sebagian orang-orang shufi dan para pemimpinnya menafsirkan dan memahami ayat ini, bahwa kalau sudah ingat Allah atau istilah jawa sudah ILING, tidak perlu lagi shalat, yang masih shalat itu masih tingkatkan syariat, tingkatan paling rendah menurut mereka.
Nah bagaimana pemahaman dan pengamalan para salafushshaleh tentang ayat ini. Apakah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan para sahabatnya berhenti shalat yang lima waktu maupun yang sunnah karena sudah ingat Allah?
Tentu tidak, mereka tetap melaksanakan shalat yang lima waktu dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, ketika mukim atau perjalanan, ada air atau tidak ada air, bisa tayamum kalau tidak ada sebagai pengganti wudhu.
Inilah perlunya kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh agar tidak tersesat dari jalan yang benar dan jalan yang lurus.
AFM
Copas dari berbagai sumber







Tidak ada komentar:
Posting Komentar