Edisi Bantahan
Mengenai perayaan maulid, tawasul dan tabarruk kepada kuburan sudah banyak dibahas oleh ustadz-ustadz salafi, silahkan merujuk ke tulisan-tulisan mereka di website-website mereka, di medsos atau di ceramah-ceramah mereka yang tersebar di youtube, tv dan radio sunnah dan media lainnya, saya tidak perlu lagi membahasnya.
Yang saya akan bahas adalah poin tentang perkataan, "Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak."
Mengenai sebagian salafi atau pondok-pondok pesantren salafi yang di waktu shalat jumat hanya azan satu kali tidak azan dua kali, karena mereka mengikuti amalan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, dan amalan para sahabat di masa Abu Bakar dan Umar. Apa dalilnya? Perhatikan dalil di bawah ini.
Berkata Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu,
إن الأذان يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام يوم الجمعة على المنبر في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان في خلافة عثمان رضي الله عنه وكثروا أَمَرَ عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فإذا به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك
“Azan pada hari Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di mimbar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika tiba masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dan jumlah jemaah semakin banyak, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga di Zaura’ (sebuah tempat di pasar). Dan sejak saat itu, hal tersebut terus dilakukan.” (HR. Bukhari).
Yang dimaksud azan ketiga, yakni azan dua kali dan sekali iqamat. Karena iqamat juga diartikan adzan.
Berkata Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
"Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau. (HR. Bukhari).
Bagaimana dengan azan dua kali diwaktu shalat jumat, apakah salafi ahlussunnah membid'ahkannya? Tentulah tidak, karena salafi ahlussunnah selalu berlandaskan dalil dalam berpendapat.
Di dalam beragama seseorang diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin. Azan satu kali di hari jumat adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma, sedangkan azan dua kali di shalat jumat adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang diperintahkan oleh Utsman Bin Affan radhiyallahu anhu dan para sahabat sepakat tentang amalan ini.
Oleh karena itu kedua amalan ini (azan satu kali atau azan dua kali di shalat jumat) boleh diamalkan karena itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah khulafaur rasyidin.
Berkata Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu,
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!
Beliau bersabda: ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).
Dan fatwa ulama-ulama salafi ahlussunnah di Saudi juga demikian. Dan praktek azan dua kali di hari jumat diamalkan sampai sekarang di masjidil haram dan masjid Nabawi.
Maka tidak benar, salafi ahlussunnah tidak mengamalkan amalan azan dua kali di shalat jumat, wong di Saudi saja yang dikatakan orang pusatnya salafi (yang mereka katakan pusatnya wahabi) mengamalkan sunnah khulafaur rasyidin ini. Dan Al Lajnah Ad Daimah (MUInya Saudi) dan ulama kibar Saudi telah memfatwakannya.
Al Lajnah Ad Daimah (MUI nya Saudi) ditanya,
هل الأذان الأول يوم الجمعة بدعة؟
Apakah adzan pertama pada hari Jum’at itu bid’ah?”
Mereka menjawab,
ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضو ا عليها بالنواجذ ” . الحديث . والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس ؛ أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الأول – الآن – ، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين .
والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجه وأبو داود واللفظ له عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ، فأذن به على الزوراء ، فثبت الأمر على ذلك . وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً .. وبالله التوفيق .
اللجنة الدائمة
Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Peganglah oleh kalian sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin setelahku yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Al Hadits). Adzan pada hari Jum’at pada awalnya dilakukan ketika imam sudah naik mimbar, ini terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu, ketika masa kekhilafahan Utsman dan penduduk sudah banyak, Utsman memerintahkan adzan pertama pada hari Jumat -hingga sekarang- dan itu bukanlah bid’ah sebab itu merupakan bagian dari perintah mengikuti sunnah al khulafa ar rasyidin. Dasar hal ini adalah riwayat dari Al Bukhari, An Nasa’i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, dan ini lafazh darinya, dari Ibnu Syihab: telah mengabarkan aku As Saib bin Yazid, bahwa pada hari Jumat adzan pertama kali dilakukan saat imam duduk di atas mimbar, ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman manusia semakin banyak, dia memerintahkan adzan ketiga pada hari Jum’at. Maka, dilakukan adzan di Zaura’ dan telah tetaplah perintah itu. Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari, bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat. Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan adzan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti. Wabillahit tawfiq. (Al Lajnah Ad Daimah).
Berkata Syeikh Shalih Fauzan hafidzahullah,
الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان ٣/٣٧."
Adzan pertama adalah sunnah khulafaurrasyidin yang telah diperintahkan oleh Utsman ra di masa kepemimpinannya. Hal itu dilakukan ketika penduduk semakin banyak dan rumah-rumah semakin berjauhan, maka dibutuhkan orang yang mengingatkan bahwa waktu shalat Jumat hampir tiba, hingga menjadi sunnah di masa kita sekarang. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,"Peganglah sunnahku dan sunnah khualfa' rasyidin. Dan Ustman termasuk khulafa' rasyidin, Beliau telah melakukannya dan disetujui oleh semua shahabat saat itu, dari muhajirin dan anshar. Maka jadilah sunnah yang tetap.
والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار
Kami memandang masalah ini luas. Mereka yang adzan satu kali tetap berpegang pada Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan yang adzan dua kali, juga mengikuti Utsman bin Affan dan semua shahabat muhajiriin dan anshar." (Al-Muntaqa min Fatawa al-Shaykh Salih al-Fawzan).
AFM
Copas dari berbagai sumber.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar