Edisi Bantahan
Ada sebuah riwayat yang tertuang dalam tarikh baghdadi tentang Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk pembenaran bolehnya tabarruk ke kuburan orang yang telah mati.
Berkata Imam Syafii rahimahullah,
إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم، يعني زائراً، فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين، وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده، فما تبعد عني حتى تقضى. تاريخ بغداد (1/123)
"Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku datang ke kuburannya SETIAP HARI, maka apabila aku punya hajat aku sholat dua rakaat dan datang ke kuburannya lantas aku minta kepada Allah di sana, tidak lama aku keluar dan terkabul hajat" Tarikh Baghdadi 1/123.
Hikayat ini tidak shahih dan penuh kedustaan menurut banyak ulama, diantaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah,
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,
" والحكاية المنقولة عن الشافعي أنه كان يقصد الدعاء عند قبر أبي حنيفة من الكذب الظاهر " انتهى." إغاثة اللهفان " (1/246)
Hikayat yang dinukil dari Imam Syafii, bahwasanya dia pergi berdoa disisi kubur Imam Abu Hanifah diantara dusta yang jelas. (Ighatsatul Lahfan 1/246).
Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dan ulama lainnya, bahwa riwayat itu tidak shahih, kalau seandainya tabarruk kepada orang mati itu diperbolehkan, maka kubur para sahabat di Mesir tempat tinggal Imam Syafii dan di Baghdad tempat Imam Abu Hanifah itu banyak, itu lebih utama, namun tidak ada riwayat Imam Syafi’i rahimahullah tabarruk ke kuburnya para sahabat.
Dan yang lebih mengherankan lagi, Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah ada di Baghdad, sedangkan Imam Syafii rahimahullah tinggal di Mesir, apa Imam Syafii terbang atau pakai pesawat jet?
Ada lagi yang ngeyel, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad. Boleh jadi ketika tinggal di Baghdad bertabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah.
Betul, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad, bahkan dua kali tinggal disana, namun sibuk belajar dan sibuk mengajar, serta menulis kitab. Tidak sibuk setiap hari mengunjungi kubur Imam Abu Hanifahrahimahullah untuk tabarruk.
Kedatangan pertama (sekitar 184 H), diundang oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan belajar dari Muhammad bin Hasan al-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dan periode kedua (sekitar 195 H) untuk mengajarkan ilmu dan menulis kitab.
AFM
Copas dari berbagai sumber







Tidak ada komentar:
Posting Komentar