}

Macam macan Hati

 Hati Yang Bersih

 Dalam pandangan salaf, hati yang mati adalah hati yang tidak lagi merasakan cahaya iman dan kebaikan. Para ulama salaf menggolongkan hati manusia ke dalam tiga jenis:

1. Qalbun Salim (Hati yang Sehat) – Hati yang penuh keimanan, bersih dari syirik, dan selalu tunduk kepada Allah.

2. Qalbun Maridh (Hati yang Sakit) – Hati yang masih memiliki iman tetapi juga dipenuhi oleh penyakit seperti keraguan, kemunafikan, atau kecintaan berlebihan kepada dunia.

3. Qalbun Mayyit (Hati yang Mati) – Hati yang telah kehilangan keimanan, tidak lagi mengenal Allah, tidak peduli dengan kebaikan, dan terbenam dalam kemaksiatan.

Ciri-Ciri Hati yang Mati Menurut Salaf:

Tidak merasa bersalah saat melakukan dosa.

Tidak memiliki rasa takut kepada Allah dan azab-Nya.

Tidak terpengaruh oleh nasihat agama.

Lebih mencintai dunia daripada akhirat.

Menghindari majelis ilmu dan dzikir.

Tidak merasakan nikmatnya ibadah.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:
"Hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal Tuhannya, tidak beribadah kepada-Nya dengan perintah dan yang diridai-Nya. Ia selalu mengikuti hawa nafsunya, meskipun itu membuat Allah murka." (Al-Fawaid, hlm. 143)

Agar hati yang mati bisa hidup kembali, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak taubat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan bergaul dengan orang-orang saleh.

***

Share:

Shalat tarawih adalah jihad di malam hari

Hadis Shahih - 🛡🛡 DUA JENIS JIHAD DI ... 

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin melakukan dua jihad pada bulan Ramadhan. Jihad pertama adalah jihad pada diri sendiri di siang hari dengan berpuasa. Sedangkan jihad kedua adalah jihad di malam hari dengan shalat malam.
Siapa yang melakukan dua jihad dan menunaikan hak-hak berkaitan dengan keduanya, lalu terus bersabar melakukannya, maka ia akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa batas (tak terhingga).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 306).

Hukum shalat tarawih
Dalam Matan Abu Syuja diterangkan bahwa shalat sunnah muakkad (selain rawatib yang mengiringi shalat wajib) ada tiga, yakni shalat malam, shalat Dhuha, dan shalat tarawih. Lihat Hasyiyah ‘ala Al-Qaul Al-Mukhtar fii Syarh Ghayah Al-Ikhtishar, 1:112.
Kesimpulan, shalat tarawih berarti shalat sunnah muakkad (yang ditekankan).
 
Shalat tarawih itu bisa berjamaah, bisa sendirian
Imam Nawawi Asy-Syafii dalam Al-Majmu’ (3:363) menyatakan, “Shalat tarawih itu dihukumi sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Shalat tarawih itu dua puluh rakaat dalam madzhab kami. Shalat tersebut bisa dilakukan sendirian (munfarid) atau berjamaah.”

Menurut madzhab Syafii, shalat tarawih itu lebih afdal berjamaah. Inilah pendapat yang sahih (ash-shahih). Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa shalat tarawih itu lebih afdal seorang diri (munfarid). Lihat Al-Majmu’ (3:363).

Semoga bermanfaat

Share:

YANG PALING BESAR PAHALA PUASANYA ADALAH YANG PALING BANYAK DZIKIRNYA

Doa Nabi Yunus, Manfaat, Keutamaan dan ... 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu’adz bin Anas

Ada seseorang bertanya, “Siapakah mujahid yang paling besar pahalanya wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Ia berkata, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Lalu ia menyebut sholat, zakat, hajji dan sedekah. Semua itu dijawab oleh Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Abu Bakar berkata kepada ‘Umar, “Orang yang banyak berdzikir telah pergi membawa segala kebaikan..” Maka Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Benar..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

(( أن أفضل أهل كلِّ عملٍ أكثرهم فيه ذكراً لله عز وجل ؛ فأفضلُ الصوَّام أكثرهم ذكراً لله عز وجل في صومهم ، وأفضل المتصدقين أكثرهم ذكراً لله عز وجل ، وأفضل الحجاج أكثرهم ذكراً لله عز وجل، وهكذا سائر الأعمال))

“Sesungguhnya :
● orang yang paling utama dari orang yang beramal adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla padanya..
● orang yang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla saat puasanya..
● orang yang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla..
● demikian pula orang yang berhajji dan semua amal sholeh..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Share:

Niat Adalah Syarat Sahnya Amal

 Sebuah Pembahasan tentang Niat – Ikmal ...

Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadits tentang niat ini sepertiga Islam.

Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia.

Niat secara istilah adalah keinginan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tempatnya di hati bukan di lisan.

Niat tempatnya di hati, melafazkannya adalah hal yang bid’ah.

Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.

Niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat.

Tidak dibenarkan melafazkan niat, seperti ketika hendak shalat, hendak wudhu, hendak mandi, dsb.

Menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

⏩ Pertama, hadits “innamal a’malu binniyat” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

⏩ Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).

⏩ Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

💗 Seseorang wajib berhati-hati terhadap pembatal amalan seperti riya’, sum’ah, beramal karena tujuan duniawi, dan ’ujub (bangga diri).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

أَنَّ الْفَضْلَ بِنَفْسِ الْعَمَلِ وَجَوْدَتِهِ لَا بِقَدْرِهِ وَكَثْرَتِهِ

“Sesungguhnya keutamaan suatu amalan terletak pada kualitas amalan itu sendiri, bukan hanya kadar dan jumlahnya (banyaknya).” (Majmu’ al-Fatawa 4/378).

❇️ ️Syarat Diterimanya Amal Seorang Muslim:

Ikhlas dan Mutaba’ah (Mencocoki Tuntunan Rasulullah).

🔹️Syarat Pertama: Ikhlas

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

“Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan peribadahan dalam beragama hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (QS. Ghafir : 14)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَاْبتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan, kecuali (amalan) yang ikhlas dan mengharapkan wajah Allah semata.” (HR. an-Nasai no. 3140 dari sahabat Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu anhu. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasai no. 3140).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلًاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ

“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, agar Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk : 2).

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas,

أَيْ: أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

“Yang dimaksud ‘siapa di antara kalian yang terbaik amalnya (ahsanu ‘amalan)’ adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar.

Yusuf bin al-Husain rahimahullah mengatakan,

أَعَزُّ شَيْءٍ فِي الدُّنْيَا الْإِخْلَاصُ، وَكَمْ أَجْتَهِدُ فِي إِسْقَاطِ الرِّيَاءِ عَنْ قَلْبِي وَكَأَنَّهُ يَنْبُتُ فِيهِ عَلَى لَوْنٍ آخَرَ

“Perkara yang paling berat di dunia adalah ikhlas. Sungguh, betapa sering aku bersusah payah mengobati riya yang ada di dalam kalbuku, tiba-tiba riya itu muncul lagi dalam bentuk yang lain.” (Diriwayatkan oleh Abdul Karim al-Qusyairiy dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah hlm. 362).

🔹️ Syarat Kedua: Mutaba’ah (Mencocoki Sunnah dan Tuntunan Rasulullah).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (yakni Nabi Muhammad); niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-ngada sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami, padahal kami tidak memerintahkannya, maka hal itu tertolak.” (HR. al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718 dari sahabiyah ‘Aisyah radhiallahu anha. Lafaz hadits di atas adalah lafaz Imam Muslim).

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan,
أَمْرُ النِّيَّةِ شَدِيدٌ

“Perkara niat ini sungguhlah berat.” (Disebutkan oleh Ibnu Muflih dalam al-Furu’ 2/339).

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي، لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidaklah aku mengobati sesuatu pun yang lebih berat kurasakan daripada mengobati niatku. Sebab, niat itu berbolak-balik atasku.” (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Jami’ Li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’ no. 697).

Wallahu a’lam bisshawab.
Barakallahu fiikum.

Share:

ADZAB YANG KERAS BAGI MEREKA YANG TIDAK BERPUASA TANPA UDZUR

 Siksa Neraka yang Paling Ringan ...

Dari Abu umamah Al-Bahili radhiyallahu anhu, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :

"Ketika saya sedang tidur, dalam mimpi ada dua orang yang  mendatangiku. Lalu keduanya mengambil lenganku, keduanya membawaku ke sebuah gunung yang terjal.
Keduanya berkata : "Naiklah !"
Aku katakan : "Saya tidak mampu."
Keduanya mengatakan : "Kami akan memudahkan kamu."

Maka aku pun naik. Sampai saya berada di tengah gunung, tiba-tiba saya mendengar suara yang sangat keras.
Saya berkata: "Suara apa ini?"
Mereka menjawab : "Ini teriakannya penduduk neraka."

Kemudian saya dibawa lagi, tiba-tiba saya melihat suatu kaum yang digantung dengan urat-urat kakinya, sudut mulut-mulut mereka sobek dan darah mengalir dari sudut mulutnya.

Kemudian aku berkata, "Siapa mereka ini?"

Berkata : "Mereka adalah orang yang berbuka sebelum waktunya untuk berbuka."

HR. Nasa'i dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 3951

#berbuka #sebelumwaktu


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Share:

Bergembira Menyambut Ramadhan, Salah Satu Wujud Keimanan

 24 Pantun Ramadhan yang Penuh Makna dan ...

Salah satu tanda keimanan adalah seorang muslim bergembira menyambut Ramadhan. Ibarat akan menyambut tamu agung yang ia nanti-nantikan, maka ia persiapkan segalanya dan tentu hati menjadi sangat senang tamu Ramadhan akan datang. Tentu lebih senang lagi jika ia menjumpai Ramadhan.

Hendaknya seorang muslim khawatir akan dirinya jika tidak ada perasaan gembira akan datangnya Ramadhan. Ia merasa biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa. Bisa jadi ia terluput dari kebaikan yang banyak. Karena ini adalah karunia dari Allah dan seorang muslim harus bergembira.

Allah berfirman,

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

Lihat bagaimana para ulama dan orang shalih sangat merindukan dan berbahagia jika Ramadhan akan datang. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.” (Latha’if Al-Ma’arif hal. 232)

Kenapa Harus Bergembira Menyambut Ramadhan?
Kegembiraan tersebut adalah karena banyaknya kemuliaan, berkah, dan keutamaan pada bulan Ramadhan. Beribadah semakin nikmat dan lezatnya bermunajat kepada Allah

Kabar gembira mengenai datangnya Ramadhan sebagaimana dalam hadits berikut.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991))

Ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kita harus bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan,

ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﺸﺎﺭﺓ ﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﺑﻘﺪﻭﻡ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﺧﺒﺮ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﻘﺪﻭﻣﻪ ، ﻭﻟﻴﺲ ﻫﺬﺍ ﺇﺧﺒﺎﺭﺍً ﻣﺠﺮﺩﺍً ، ﺑﻞ ﻣﻌﻨﺎﻩ : ﺑﺸﺎﺭﺗﻬﻢ ﺑﻤﻮﺳﻢ ﻋﻈﻴﻢ

‏( ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ .. ﻟﻠﻔﻮﺯﺍﻥ ﺹ 13 ‏)

ﺃﺗﻰ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻔﺘﺢ ﻓﻴﻪ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺔ ، ﻭ

“Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yanh shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabatnya radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung.” (Ahaditsus Shiyam hal. 13)

Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan,

ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺑﻔﺘﺢ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻤﺬﻧﺐ ﺑﻐﻠﻖ ﺃﺑﻮﺍﺏ ﺍﻟﻨﻴﺮﺍﻥ ﻛﻴﻒ ﻻ ﻳﺒﺸﺮ ﺍﻟﻌﺎﻗﻞ ﺑﻮﻗﺖ ﻳﻐﻞ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺎﻃﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻳﻦ ﻳﺸﺒﻪ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺯﻣﺎﻥ

“Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). (Latha’if Al-Ma’arif hlm. 148)

Catatan: Hadits Dhaif Terkait Kegembiraan Menyambut Ramadhan
Ada hadits yang menyebutkan tentang bergembira menyambut Ramadhan, akan tetapi haditsnya oleh sebagian ulama dinilai dhaif bahkan maudhu’ (palsu)

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Setelah dimulai dengan perasaan gembira menyambut Ramadhan, tahap selanjutnya adalah persiapan menyambut Ramadhan agar Ramadhan yang kita jalankan bisa maksimal.

Demikian semoga bermanfaat

—

@Yogyakarta Tercinta

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/29974-muslim-harus-bergembira-menyambut-ramadhan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id

Share:

BEKAL PERJALANAN AKHIRAT

 Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢
Bekal Perjalanan Menuju Negeri Akhirat

Oleh: Ustadz Isa

*Sudah menjadi kepastian bahwa setiap manusia membutuhkan bekal dalam menjalankan segala aktivitas dalam kehidupannya.* Apapun bentuk aktivitas itu; seperti mengadakan perjalanan, menjalankan sebuah bisnis, ataupun menempuh pendidikan. Contoh yang paling sederhana adalah ketika seseoarang akan melakukan perjalanan panjang, maka dia membutuhkan bekal, baik berupa makanan dan minuman untuk mengisi kebutuhan perutnya, kendaraan untuk transportasi atau uang untuk membeli kebutuhan selama perjalanan dan lain sebagainya.

*Allah Ta’ala memerintahkan manusia agar mereka mempersiapkan bekal sebaik-baiknya sebelum masuk ke kehidupan abadi di alam akhirat.* Bekal yang mengantarkan manusia pada jalan keselamatan di akhirat kelak, bekal yang membawa manusia pada kesuksesan abadi.

Bagi seorang muslim, siapapun dia, baik laki-laki atau perempuan, pedagang atau pekerja, manajer atau karyawan bahkan pembantu sekalipun, membutuhkan bekal yang sangat sakral dan pokok. Hal ini dikarenakan hidup di dunia ini, bagi seorang muslim, hanyalah tempat singgah sejenak untuk menuju perjalanan ke akhirat yang kekal dan abadi.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Ibnu Umar radiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah shalallahu alahi wasallam memegang pundakku, lalu bersabda: Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara. Lalu Ibnu Umar radiyallahu’anhu berkata: Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati." (HR Bukhari no: 6416)

Bekal tersebut bukanlah makanan atau minuman. Bukan juga pakaian yang mereka gunakan atau yang lainnya. Akan tetapi, bekal yang dimaksud adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala, Yakni bekal menuju kehidupan abadi di alam akhirat nanti. Bekal yang mengantarkan manusia pada jalan keselamatan di akhirat kelak.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُوْلِي اْلأَلْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqoroh: 197)

Ayat di atas menjelaskan bahwa taqwa adalah bekal bagi setiap muslim. Taqwa juga merupakan wasiat atau anjuran yang langsung disampaikan oleh Allah Ta’ala kepada setiap muslim.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah." (QS. An-Nisa: 131)

Tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan akhirat, taqwa juga dapat menyelamatkan setiap muslim dalam kehidupan dunianya. Taqwa tak ubahnya rambu-rambu yang menjaga dan menuntun kita dalam menjalani kehidupan agar sesuai dengan yang dikehendaki Allah Ta’ala .

Akan tetapi, taqwa bukanlah perkara yang ringan. Diperlukan usaha yang keras untuk tetap istiqomah menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala serta berjuang melawan keinginan syahwatnya yang tidak jarang menyalahi tuntunan agama Islam.

Selain itu, agar seseorang mudah dan termotivasi untuk tetap istiqomah dalam melakukan ketaqwaan, maka hendaknya ia mengetahui fadhilah (keutamaan) dan fasilitas-fasilitas yang Allah Ta’ala akan berikan kepada orang-orang yang istiqomah dalam bertaqwa.

Dalam pandangan Allah Ta’ala, orang bertaqwa memiliki kedudukan yang sangat mulia. Oleh karena itu, siapapun yang ingin meraih kemuliaan tertinggi disisi-Nya, hendaknya ia tidak bersandar kepada harta, kemewahan, ataupun keturunan yang banyak. Akan tetapi terus-menerus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala dan memupuknya sampai akhir hayat.

Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

*Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.* Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurôt: 13)

Demikian pula jawaban Rasulullah shalallahu alahi wasallam ketika seseorang bertanya kepadanya,

يا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ ؟ قَالَ: أَتْقَاهُمْ

Wahai Rasulullah, Siapakah manusia termulia? Beliau menjawab: Yang paling bertaqwa." (HR. Bukhori dan Muslim)

*Diantara fadhilah taqwa adalah terbebas dari segala problematika kehidupan.* Artinya Allah Ta’ala menjamin kepada orang yang bertaqwa, jalan keluar atau solusi dari masalah yang sedang ia hadapi. Selain itu, Allah Ta’ala juga menjamin rejeki untuknya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(QS. At-Tholâq: 2-3)

Fadilah dari ketaqwaan lainnya adalah akan dimudahkan dalam segala urusannya. Artinya Allah Ta’ala menjamin kepada orang yang bertaqwa kemudahan dalam setiap perkara yang ia hadapi dan ia lalui, baik yang bersifat materi ataupun imateri." (bukan benda).

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Tholâq: 4)

Selain itu Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosanya dan dilipatgandakan pahala amal ibadahnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. At-Tholâq: 5)

Masih banyak lagi keistimewaan orang-orang bertaqwa di hadapan Allah Ta’ala. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang Allah berikan kemudahan hidup di dunia dan kenikmatan di akhirat kelak dengan sebab taqwa. Amin.

*▪︎Sumber*: Majalah Lentera Qolbu tahun ke-4 edisi ke-8

Sumber :
https://kuncikebaikan.com/bekal-perjalanan-akhirat/

Dipublikasikan ulang oleh
𝑨𝒅𝒎𝒊𝒏
Ⓜ️𝐞𝐝𝐢𝐚 𝐒𝐮𝐧𝐧𝐚𝐡 𝐍𝐚𝐛𝐢

📕...............................✍🏻

Share:

SYI4H RAFIDHAH TIDAK MENGKAFIRKAN KAUM MUSLIMIN SECARA VULGAR?

 Ketahui Heat Wave atau Gelombang Panas ...

Muhammad Nuruddin berkata, "Orang Syi'ah tidak suka mengafir-ngafirkan atau menyesat-nyesatkan pihak lain dengan cara-cara yang vulgar.. "

Perkataan Ahlul filsafat yang satu ini apakah didasari kebodohan tentang syi'4h atau menutupi kerusakan syi4h?

Ketahuilah, kelompok Syi4h Rafidhah, dzikir hariannya adalah mencela dan melaknat sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, Aisyah dan Muawiyah radhiyallahu anhum, lihat di shalat-shalat mereka yang tersebar luas di media, bagaimana dalam shalat mereka, tidak luput dari celaan dan laknat kepada sahabat di atas.

Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang untuk mencela para sahabat radhiyallahu anhum.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Bukhari).

Bahkan mereka orang-orang syi4h rafidhah, bukan hanya melaknat dan mencela sahabat, namun mereka mengkafirkan mayoritas sahabat.

Dalam kitab Al Kafi, kitab rujukan orang-orang syiah rafidhah, mereka mengkafirkan mayoritas sahabat.

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الأسود وأبو ذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم

“Dari Abi Ja’far Alaihissalam, dia berkata: Orang-orang telah murtad setelah wafatnya nabi shallallahu alaihi wa sallam kecuali 3 orang saja. Maka aku berkata: Siapakah 3 orang itu ? Abu Ja’far berkata: Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi rahmat dan berkah Allah untuk mereka” (Al-Kafi 8/245)

عن أبي جعفر (عليه السلام) قال: ارتد الناس كلهم بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا أربعة سلمان وأبو ذر والمقداد وعمار وهذا مما لا إشكال فيه

“Dari Abi Ja’far Alihissalam, dia berkata:“Orang-orang telah murtad sepeninggal nabi shallallahu alaihi wa sallam kecuali 4 orang saja, Salman, Abu Dzar, Miqdad,  dan ‘Ammar. Dan ini apa yang tidak ada permasalahan di dalamnya” (Al-Anwar An-Nu’maniyyah 1/64).

Maka sungguh sangat mengherankan dari perkataan MN, tentang syi4h, wong sahabat radhiyallahu anhum saja mereka kafirkan secara vulgar di kitab-kitab mereka, apalagi kaum muslimin kebanyakan.

Padahal sahabat radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang diridhoi Allah Ta'ala, tetapi syi4h rafidhah mencela dan mengkafirkan para sahabat.

Allah Ta'ala berfirman:

{وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah : 100).

Memang MN bukan syiah menurut pengakuannya, namun dengan memuji syi4h, itu menunjukkan corong duat mereka. Memuji Ahlul bid'ah saja tidak boleh, apalagi memuji syi4ah rafidhah yang dikafirkan para ulama.

Syekh Abdul Aziz Bin Bawa rahimahullah ditanya,

الَّذي يثني على أهل البدع ويمدحهم هل يأخذ حكمهم فقال :

Orang yang memuji AHLUL BID'AH dan menyanjung mereka, apakah dihukum sama seperti mereka?

Beliau menjawab,

نعم، ما فيه شكّ ، من أثنى عليهم ومدحهم هو داعٍ لهم ، يدعو لهم ، هذا مِن دعاتهم، نسأل الله العافية ".اهـ. ‏(شرح كتاب ، فضل الإسلام )  .

Iya, tidak ada keraguan padanya. Orang yang memuji mereka dan menyanjungnya, dia da'i bagi mereka dan berdakwah untuk mereka. Ini diantara du'at mereka. Kita meminta kepada Allah keselamatan. (Syarh Kitab Fadhl Islam).

AFM

Copas dari berbagai sumber

----
Perhatikan kata-kata dalam spanduk yang dibawa oleh jamaah syi4h rafidhah di dalam foto distatus ini yang secara vulgar mengkafirkan dua sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang terbaik, Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma

Share:

Hikmah dari Kisah Taubat Al-Razi

 Cara Shalat Hajat Lengkap dengan Niat ...

Imam Fakhruddin al-Razi (1149–1209 M) adalah salah satu ulama besar dalam sejarah Islam, terutama dalam bidang tafsir, filsafat, dan teologi. Beliau terkenal dengan karya-karyanya, seperti Tafsir al-Kabir (Mafatih al-Ghayb), yang merupakan salah satu kitab tafsir terbesar dalam Islam. Namun, terkait kisah taubatnya, terdapat beberapa riwayat menarik yang sering dikaitkan dengan perjalanan intelektual dan spiritualnya.

Kisah Taubat Al-Razi

Al-Razi dikenal sebagai seorang ulama yang sangat cerdas dan ahli dalam ilmu kalam, filsafat, serta logika. Namun, di masa-masa akhir hidupnya, Al-Razi dikisahkan mengalami penyesalan mendalam terhadap kecenderungannya kepada filsafat dan pendekatan rasional yang terlalu dominan dalam kajiannya. Ia menyadari bahwa akal manusia memiliki keterbatasan dalam memahami hakikat Allah dan agama secara mendalam.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Al-Razi berkata:

> “Aku telah menghabiskan hidupku dalam berbagai ilmu rasional dan filsafat. Namun, pada akhirnya, aku menyadari bahwa jalan selamat adalah jalan orang-orang awam yang hanya bergantung kepada Allah dengan iman yang murni.”

Ia pun menyatakan bahwa ilmu yang benar-benar bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan seseorang kepada Allah dan menjauhkan dari kesombongan intelektual. Pada akhirnya, Al-Razi dikisahkan kembali kepada pendekatan yang lebih sederhana dalam beragama, fokus pada ilmu-ilmu Al-Qur'an dan sunnah, serta memperbanyak ibadah.

Hikmah dari Kisah Taubat Al-Razi

1. Keterbatasan Akal: Al-Razi mengajarkan bahwa meskipun akal adalah anugerah yang besar, ia tidak mampu menjangkau segala sesuatu, terutama hal-hal yang bersifat ghaib.

2. Keikhlasan dalam Ilmu: Ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengantarkan seseorang kepada Allah, bukan sekadar untuk kebanggaan intelektual.

3. Kembali ke Jalan Allah: Sebesar apa pun pencapaian seseorang, taubat dan penyesalan adalah jalan yang mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kisah taubat Al-Razi ini menjadi pengingat bahwa ilmu dan akal harus selalu disertai dengan keimanan, kerendahan hati, dan pengakuan akan keterbatasan manusia di hadapan Allah.

***


Share:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Cari