}

IMAM SYAFI’I TABARRUK KE KUBURNYA IMAM ABU HANIFAH SETIAP HARI?

 Edisi Bantahan 

Kereta padang pasir — Mimbar Rakyat

Ada sebuah riwayat yang tertuang dalam tarikh baghdadi tentang Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah yang dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk pembenaran bolehnya tabarruk ke kuburan orang yang telah mati. 

Berkata Imam Syafii rahimahullah, 

 إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم، يعني زائراً، فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين، وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده، فما تبعد عني حتى تقضى. تاريخ بغداد  (1/123)

"Sesungguhnya aku bertabarruk dengan Abu Hanifah dan aku datang ke kuburannya SETIAP HARI, maka apabila aku punya hajat aku sholat dua rakaat dan datang ke kuburannya lantas aku minta kepada Allah di sana, tidak lama aku keluar dan terkabul hajat" Tarikh Baghdadi 1/123. 

Hikayat ini tidak shahih dan penuh kedustaan menurut banyak ulama, diantaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, 

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah, 

" والحكاية المنقولة عن الشافعي أنه كان يقصد الدعاء عند قبر أبي حنيفة من الكذب الظاهر " انتهى." إغاثة اللهفان " (1/246)

Hikayat yang dinukil dari Imam Syafii, bahwasanya dia pergi berdoa disisi kubur Imam Abu Hanifah diantara dusta yang jelas. (Ighatsatul Lahfan 1/246). 

Benar apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah dan ulama lainnya, bahwa riwayat itu tidak shahih, kalau seandainya tabarruk kepada orang mati itu diperbolehkan, maka kubur para sahabat di Mesir tempat tinggal Imam Syafii dan di Baghdad tempat Imam Abu Hanifah itu banyak, itu lebih utama, namun tidak ada riwayat Imam Syafi’i rahimahullah tabarruk ke kuburnya para sahabat. 

Dan yang lebih mengherankan lagi, Imam Syafii rahimahullah setiap hari tabarruk ke kuburnya Abu Hanifah rahimahullah, sedangkan kuburnya Imam Abu Hanifah rahimahullah ada di Baghdad, sedangkan Imam Syafii rahimahullah tinggal di Mesir, apa Imam Syafii terbang atau pakai pesawat jet? 

Ada lagi yang ngeyel, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad. Boleh jadi ketika tinggal di Baghdad bertabarruk ke kuburnya Imam Abu Hanifah. 

Betul, Imam Syafii rahimahullah pernah tinggal di Baghdad, bahkan dua kali tinggal disana, namun sibuk belajar dan sibuk mengajar, serta menulis kitab. Tidak sibuk setiap hari mengunjungi kubur Imam Abu Hanifahrahimahullah untuk tabarruk.

Kedatangan pertama (sekitar 184 H), diundang oleh Khalifah Harun al-Rasyid dan belajar dari Muhammad bin Hasan al-Syaibani, murid Imam Abu Hanifah dan periode kedua (sekitar 195 H) untuk mengajarkan ilmu dan menulis kitab.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

RIWAYAT TANPA SANAD CACAT

 Edisi Bantahan

Misteri Batu Al Naslaa: Keajaiban ...

Riwayat Ibnu Hibban yang bertabarruk ke kuburnya Ali Ridho memang tidak ada sanadnya, sebagaimana diakui sendiri oleh orang yang saya Screenshot.

Sebelum membahas pentingnya sanad, terlebih dahulu dibahas, apa itu sanad.

Sanad dari segi bahasa, 

المعتمد، وسمي كذلك؛ لأن الحديث يستند إليه، ويعتمد عليه.

Al Mu'tamad, dinamakan demikian karena sesungguhnya hadits itu disandarkan kepadanya dan bergantung padanya. 

Sedangkan dari segi istilah sanad itu,

سلسلة الرجال الموصلة للمتن. 
كتاب تيسير مصطلح الحديث
[محمود الطحان]"

Silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadits) yang menyampaikannya pada matan (hadits). (Kitab Taisir Mustalah al-Hadits adalah kitab karya Dr. Mahmud Ath-Thahhan). Sumber : https://shamela.ws/book/8681/15

Mempelajari dan mengetahui sanad sangatlah penting, karena sanad itu bagian dari agama. Dan riwayat tanpa sanad adalah cacat.

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء

Sesungguhnya sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim].

Berkata Al-Hakim al-Naisaburi rahimahumullah,

فلو لا الإسناد وطلب هذه الطائفة له وكثرة مواظبهم على حفظه,لدرس منار الإسلام ولتمكن الإلحاد والبدع منه.وبوضع الأحاديث وقلب الأسانيد.فإن الأخبار إذا تعرت عن وجود الأسانيد فيها,كانت بترا

Kalaulah sanad ini tidak ada dan usaha sebagian ummat untuk mencarinya serta konsistensi mereka dalam menghafalnya, niscaya akan hilang petunjuk Islam, dan membuka peluang bagi orang-orang mulhid dan pelaku bid’ah untuk memalsukan hadis serta mengubah sanadnya, karena riwayat tanpa sanad adalah riwayat yang cacat (terputus)." (Ma’rifatu ‘Ulumil Hadis).

Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah,

مثل الذي يطلب أمر دينه بلا إسناد كمثل الذي يرتقي السطح بلا سلم

Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Fathul Mughits].
 
Dan berkata Abdullah bin Mubarak rahimahumullah 

بيننا وبين القوم القوائم (يعني الاسناد).

Yang membedakan antara kita dengan kaum lain (ahlul bid'ah dan yang menyerupai mereka) adalah sanad.(Muqaddimah Shahih Muslim). Sumber : https://shamela.ws/book/8754/8

Dalam Syarah Shahih Muslim,  Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, 

أَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ 

Sanad itu bagian dari agama. Dan kalau lah tidak ada (ilmu) Isnad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia kehendaki. (Syarah Shahih Muslim).

Dahulu sebelum terjadi fitnah, para ulama tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah timbul berbagai fitnah dengan maraknya pemahaman menyimpang dan berbagai bid’ah, maka mereka menanyakan tentang sanad. 

Berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah,

لم يكونوا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم فينظر إلى أهل السنة فيؤخذ حديثهم وينظر إلى أهل البدع فلا يؤخذ حديثم

Dahulu mereka tidak pernah menanyakan tentang sanad, namun setelah terjadinya fitnah, mereka mengatakan, ‘Sebutkanlah kepada kami perawi-perawi kalian’, maka dilihatlah riwayat ahlussunnah dan diterimalah hadis mereka, lalu dilihat riwayat ahlu bid’ah dan ditolaklah hadis mereka. (Muqaddimah Shahih Muslim).

Sekali lagi, sanad sangatlah penting, dan ini merupakan senjatanya orang-orang mukmin. Riwayat tanpa sanad, itu tertolak dan cacat, sebagaimana riwayat yang dibawakan oleh kang Kuncoro dan sekawanannya. 

Berkata Sofyan Ats-Tsauri rahimahumullah,

الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل

“Sanad adalah senjatanya orang-orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, lalu dengan apa mereka berperang?” [Jami Al-Ushul hal 109]"

AFM 

Share:

AZAN DUA KALI DI SHALAT JUM’AT

 Edisi Bantahan 
 
Kisah Dua Sahabat di Padang Gurun ...

Mengenai perayaan maulid, tawasul dan tabarruk kepada kuburan sudah banyak dibahas oleh ustadz-ustadz salafi, silahkan merujuk ke tulisan-tulisan mereka di website-website mereka, di medsos atau di ceramah-ceramah mereka yang tersebar di youtube, tv dan radio sunnah dan media lainnya, saya tidak perlu lagi membahasnya. 

Yang saya akan bahas adalah poin tentang perkataan, "Di masa Sahabat -biasanya mereka mengklaim mengikuti Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman Sahabat- jelas-jelas ada Adzan dua kali sebelum Jumat. Riwayat al-Bukhari lagi. Apa mereka mengamalkan? Tidak."

Mengenai sebagian salafi atau pondok-pondok pesantren salafi yang di waktu shalat jumat hanya azan satu kali tidak azan dua kali, karena mereka mengikuti amalan Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, dan amalan para sahabat di masa Abu Bakar dan Umar. Apa dalilnya? Perhatikan dalil di bawah ini.

Berkata Saib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu,

إن الأذان يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام يوم الجمعة على المنبر في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما، فلما كان في خلافة عثمان رضي الله عنه وكثروا أَمَرَ عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث، فإذا به على الزوراء، فثبت الأمر على ذلك

“Azan pada hari Jumat pada awalnya dilakukan ketika imam duduk di mimbar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika tiba masa Utsman radhiyallahu ‘anhu dan jumlah jemaah semakin banyak, Utsman memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga di Zaura’ (sebuah tempat di pasar). Dan sejak saat itu, hal tersebut terus dilakukan.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud azan ketiga, yakni azan dua kali dan sekali iqamat. Karena iqamat juga diartikan adzan.

Berkata Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

"Di antara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)." Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau. (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan azan dua kali diwaktu shalat jumat, apakah salafi ahlussunnah membid'ahkannya? Tentulah tidak, karena salafi ahlussunnah selalu berlandaskan dalil dalam berpendapat. 

Di dalam beragama seseorang diperintahkan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sunnah khulafaur rasyidin. Azan satu kali di hari jumat adalah sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan  Umar radhiyallahu anhuma, sedangkan azan dua kali di shalat jumat adalah sunnah khulafaur rasyidin, yang diperintahkan oleh Utsman Bin Affan radhiyallahu anhu dan para sahabat sepakat tentang amalan ini.

Oleh karena itu kedua amalan ini (azan satu kali atau azan dua kali di shalat jumat) boleh diamalkan karena itu merupakan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sunnah khulafaur rasyidin. 

Berkata Irbadl bin Sariyah radhiyallahu anhu, 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بِنْ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُبُ, وَذَرَفَتْ مِنْهِا الْعُيُونُ, فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ, كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ, فَأَوْصِنَا, قَالَ:” أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ, وَالسَّمْعِ وَالطَّاعةِ, وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ, عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةً ضَلاَلَةٌ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, وَقَالَ:حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan nasehat kepada kami dengan sebuah nasehat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!

Beliau bersabda: ”Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak Habasyi. Dan sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid`ah adalah sesat.” ( HR. Tirmidzi dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Dan fatwa ulama-ulama salafi ahlussunnah di Saudi juga demikian. Dan praktek azan dua kali di hari jumat diamalkan sampai sekarang di masjidil haram dan masjid Nabawi. 

Maka tidak benar, salafi ahlussunnah tidak mengamalkan amalan azan dua kali di shalat jumat, wong di Saudi saja yang dikatakan orang pusatnya salafi (yang mereka katakan pusatnya wahabi) mengamalkan sunnah khulafaur rasyidin ini. Dan Al Lajnah Ad Daimah (MUInya Saudi) dan ulama kibar Saudi telah memfatwakannya.

Al Lajnah Ad Daimah (MUI nya Saudi) ditanya,

هل الأذان الأول يوم الجمعة بدعة؟

Apakah adzan pertama pada hari Jum’at itu bid’ah?”

Mereka menjawab,

ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال ” عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ، تمسكوا بها وعضو ا عليها بالنواجذ ” . الحديث . والنداء يوم الجمعة كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر في عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كانت خلافة عثمان وكثر الناس ؛ أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الأول – الآن – ، وليس ببدعة لما سبق من الأمر باتباع سنة الخلفاء الراشدين .
والأصل في ذلك ما رواه البخاري والنسائي والترمذي وابن ماجه وأبو داود واللفظ له عن ابن شهاب أخبرني السائب بن يزيد أن الأذان كان أوله حين يجلس الإمام على المنبر يوم الجمعة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، فلما كان خلافة عثمان وكثر الناس أمر عثمان يوم الجمعة بالأذان الثالث ، فأذن به على الزوراء ، فثبت الأمر على ذلك . وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً .. وبالله التوفيق .
اللجنة الدائمة
Telah shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa dia bersabda: “Peganglah oleh kalian sunnahku dan sunnah al khulafa ar rasyidin setelahku yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Al Hadits). Adzan pada hari Jum’at pada awalnya dilakukan ketika imam sudah naik mimbar, ini terjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu, ketika masa kekhilafahan Utsman dan penduduk sudah banyak, Utsman memerintahkan adzan pertama pada hari Jumat -hingga sekarang- dan itu bukanlah bid’ah sebab itu merupakan bagian dari perintah mengikuti sunnah al khulafa ar rasyidin. Dasar hal ini adalah riwayat dari Al Bukhari, An Nasa’i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud, dan ini lafazh darinya, dari Ibnu Syihab: telah mengabarkan aku As Saib bin Yazid, bahwa pada hari Jumat adzan pertama kali dilakukan saat imam duduk di atas mimbar, ini terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman manusia semakin banyak, dia memerintahkan adzan ketiga pada hari Jum’at. Maka, dilakukan adzan di Zaura’ dan telah tetaplah perintah itu. Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari, bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat. Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan adzan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti. Wabillahit tawfiq. (Al Lajnah Ad Daimah).

Berkata Syeikh Shalih Fauzan hafidzahullah, 

الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. المنتقى من فتاوى الشيخ صالح الفوزان ٣/٣٧."

Adzan pertama adalah sunnah khulafaurrasyidin yang telah diperintahkan oleh Utsman ra di masa kepemimpinannya. Hal itu dilakukan ketika penduduk semakin banyak dan rumah-rumah semakin berjauhan, maka dibutuhkan orang yang mengingatkan bahwa waktu shalat Jumat hampir tiba, hingga menjadi sunnah di masa kita sekarang. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,"Peganglah sunnahku dan sunnah khualfa' rasyidin. Dan Ustman termasuk khulafa' rasyidin, Beliau telah melakukannya dan disetujui oleh semua shahabat saat itu, dari muhajirin dan anshar. Maka jadilah sunnah yang tetap.

والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار

Kami memandang masalah ini luas. Mereka yang adzan satu kali tetap berpegang pada Nabi, Abu Bakar dan Umar. Dan yang adzan dua kali, juga mengikuti Utsman bin Affan dan semua shahabat muhajiriin dan anshar." (Al-Muntaqa min Fatawa al-Shaykh Salih al-Fawzan).

AFM

Copas dari berbagai sumber.

Share:

DUA SEBAB KESESATAN

 Edisi Bantahan
 
Cerita Padang Pasir | Sutrisno W. Ibrahim

Salafi itu punya metode atau istilah orang slogan dalam beragama, "Kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman salafushshaleh."

Jangan dipotong hanya slogan kembali kepada alquran dan assunnah. Kenapa demikian? Simaklah pembahasan dibawah ini.

PERTAMA, Sebab tersesatnya manusia atau suatu kelompok, dikarenakan mereka tidak mengikuti petunjuk dalil alquran dan assunnah. Apa dalilnya? Perhatikan hadits di bawah ini,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى.  وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ ٰ

Maka jika datang dariku petunjuk kepada kalian,  maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit ...(QS. Thaha 123).

Berkata Ibnu al-Jauzi rahimahullah, tentang ayat,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka (Thaha 123).

"أن كل من اتبع القرآن والسنة، وعمل بما فيهما، فقد سلم من الضلال بلا شك""كتاب صيد الخاطر"

Sesungguhnya setiap orang yang mengikuti alquran dan assunnah dan beramal dengan apa yang ada pada keduanya, maka sungguh dia telah selamat dari kesesatan tanpa ragu lagi. (Shaidul Khatir).

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:

وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم 

Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.

Berkata As Syaikh Rabi hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

KEDUA, banyak diantara manusia atau kelompok (jamaah) yang menyeru dan mendakwahkan untuk kembali kepada alquran dan as sunnah, namun mereka memahami alquran dan as sunnah dengan akal mereka, perasaan mereka, hawa nafsu mereka atau dengan cara cocokologi. Maka mereka tersesat dari jalan yang benar.

Memahami dalil dan mengamalkan dalil, mesti dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh, pemahaman tiga generasi terbaik dalam islam (sahabat, tabi’in dan tabiuttabi'in) agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. 

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدى

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. QS. (An-Nisa: 115)

Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di belahan yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِين

Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. (An-Nisa: 115)

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nash syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nisa 15).

Berkata Al-Imam Abu 'Amr Al-Auza'i rahimahullah: 

" عليك باثار السلف وان رفضك الناس، واياك واراء الرجال وان زخرفوه لك بالقول " (الشريعة : 63 )

"Wajib bagimu untuk berpegang teguh dengan ilmu yang diwariskan oleh para salaf terbaik ummat ini (salafush sholih) meskipun orang-orang menentangmu, dan berhati-hatilah dari pemikiran-pemikiran para tokoh (yang menyimpang) meskipun mereka menghias untukmu dengan kata-kata indah."  (Asy-Syari'ah  63).

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :

أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ} 

Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢

“Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.

“Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556).

Berkata Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah :

أصول الدعوة السلفية قائمة على ثلاث دعائم : القرءان الكريم والسنة الصحيحة وفهمها علي منهج السلف الصالح من الصحابة والتابعين وأتباعهم . وسـبـب ضـَلال الفـرق كـلّـهَا قَـديما وحـَـديثا هُـو عـدم التّـمـسك بالدعـامة الثالثة. مجلة الاصالة العدد ٢٣

"Pokok-pokok dakwah salafiyah tegak di atas tiga pilar :

- ALQURAN ALKARIM, 
- SUNNAH YANG SHAHIH 
- DAN MEMAHAMI KEDUANYA ATAS MANHAJ SALAFUSHSHALEH DARI SAHABAT, TABI'IN DAN DAN YANG MENGIKUTI MEREKA.

Dan sebab kesesatan dari seluruh kelompok-kelompok yang ada, dahulu dan sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan penyangga yang ketiga.". [majalah al ashalah edisi ke- 23].

Salah satu contoh kasus (terlalu panjang lebar kalau banyak kasus yang mau diangkat), seseorang atau kelompok (jamaah) yang memahami alquran dan as sunnah bukan dengan pemahaman yang benar, misalkan ada sebuah ayat dalam alquran dalam surah Thaha ayat 14:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Sebagian orang-orang shufi dan para pemimpinnya menafsirkan dan memahami ayat ini, bahwa kalau sudah ingat Allah atau istilah jawa sudah ILING, tidak perlu lagi shalat, yang masih shalat itu masih tingkatkan syariat, tingkatan paling rendah menurut mereka.

Nah bagaimana pemahaman dan pengamalan para salafushshaleh tentang ayat ini. Apakah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam dan para sahabatnya berhenti shalat yang lima waktu maupun yang sunnah karena sudah ingat Allah? 

Tentu tidak, mereka tetap melaksanakan shalat yang lima waktu dalam keadaan apapun. Dalam keadaan sehat atau sakit, ketika mukim atau perjalanan, ada air atau tidak ada air, bisa tayamum kalau tidak ada sebagai pengganti wudhu.

Inilah perlunya kembali kepada alquran dan assunnah dengan pemahaman yang benar, pemahaman para salafushshaleh agar tidak tersesat dari jalan yang benar dan jalan yang lurus.

AFM 

Copas dari berbagai sumber

Share:

SUMBER FITNAH DAN TANDUK SYETAN DARI NAJD SAUDI ARABIA ?

Padang Pasir, Arab Saudi ...

Fitnah terhadap dakwah Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah dari zaman awal Syekh berdakwah, sampai sekarang ini terus dihembuskan dan dilestarikan oleh orang-orang yang benci dan memusuhi dakwahnya. Dimana inti dakwahnya, Syaikh mengajak kepada tauhid dan sunnah dan menjauhi kesyirikan dan bid’ah. 

Diantaranya tuduhan dan fitnahannya, bahwa akan timbul fitnah dan tanduk setan dari Najd Arab Saudi, tempat kelahiran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah. Mereka pun mengutip dalil hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا وفِي يَمَنِنَا . قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَأْمِنَا وفِي يَمَنِنَا ، قَالُوا : وَفِي نَجْدِنَا ؟ قَالَ : هُنَاكَ الزَّلاَزِلُ وَالْفِتَنُ ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.

“Ya Allah berkahilah kepada kami negara Syam dan Yaman kami. Mereka mengatakan, di NAJD kami? Nabi Mangatakan, “Ya Allah berkahi kepada kami negara Syam dan Yaman kami. Mereka mengatakan, “Di negara Najd kami? Beliau mengatakan, “Disana ada gempa dan fitnah. Dari sana akan keluar tanduk setan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata;

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ إِلَى المَشْرِقِ فَقَالَ: هاَ إِنَّ الفِتْنَةَ هَا هُنَا ، إِنَّ الفِتْنَةَ هَا هُنَا ، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ 

“Saya melihat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menunjuk ke arah timur dan mengatakan, sesungguhnya fitnah dari arah sini, sesungguhnya fitnah dari sini. Yaitu saat muncul tanduk setan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Padahal yang dimaksud Najd di dalil di atas, bukan Najd Arab Saudi, tetapi wilayah yang ada di pedalaman Irak. Dan Irak ini termasuk wilayah masyrik, kawasan bagian timur dunia Arab yang secara harafiah berarti "tempat matahari terbit", mencakup negara-negara seperti Irak, Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina, dan Semenanjung Arab.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah :

نجد من جهة المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامةِ

Najd Itu berada disebelah timur. Siapapun yang berada di Madinah, maka najdnya adalah pedalaman IRAK dan sekitarnya. Itulah sebelah timur Madinah. Asal kata Najd adalah tanah yang meninggi, berbeda dengar ghaur yang berarti tanah yang rendah. Seluruh Tihamah merupakah Ghaur dan Mekkah termasuk bagian Tihamah. (Fathul Bari).

Berkata Ibnu Taimiyyah rahimahullah:

ولا ريب أن من هؤلاء ظهرت الردة وغيرها من الكفر، من جهة مسيلمة الكذاب وأتباعه وطليحة الأسدي وأتباعه، وسجاح وأتباعها، حتى قاتلهم أبو بكر الصديق ومن معه من المؤمنين، حتى قتل من قتل، وعاد إلى الإسلام من عاد مؤمنا أو منافقا

Tidak diragukan lagi bahwa disana muncul kemurtadan dan hal-hal lain yang termasuk kekufuran, diantaranya Musailamah al Kadzab dan para pengikutnya, Thalihah al Asadiy dan para pengikutnya, Sujah dan para pengikutnya hingga mereka diperangi oleh abu Bakar as Shiddiq dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Ada yang terbunuh dan ada yang kembali sebagai mukmin maupun Munafiq. (Bayan Talbis Jahmiyah 1/17-24).

Perkataan ulama di atas, sesuai  dengan dalil-dalil yang jelas, yang menunjukkan bahwa fitnah akan datang dari arah timur itu adalah dari wilayah Irak.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 اللهم بارك لنا في شامنا، اللهم بارك في يمننا، فقالها مراراً، فلما كان في الثالثة أو الرابعة، قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا؟ قال: إنّ بها الزلازل والفتن، وبها يطلع قرن الشيطان

“Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dan juga IRAK kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].

Berkata Ibnu Umar radhiyallahu anhuma :

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يشير بيده يؤم العراق ها إن الفتنة ههنا إن الفتنة ههنا ثلاث مرات من حيث يطلع قرن الشيطان

Aku pernah melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan tangannya menunjuk ke arah IRAK. (Beliau bersabda) : “Di sinilah, fitnah akan muncul, fitnah akan muncul dari sini”. Beliau mengatakannya tiga kali. “Yaitu, tempat munculnya tanduk setan" [HR. Ahmad, 2/143]. Shahih sesuai syarat Al-Bukhaariy dan Muslim.

Yusair bin ‘Amru rahimahullah, ia berkata : Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu :

هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا؟، قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ: " يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ "

“Apakah engkau pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang Khawaarij ?”. Sahl berkata : “Aku pernah mendengar beliau bersabda sambil mengarahkan tangannya ke ‘IRAK : “Akan keluar darinya satu kaum yang membaca Al-Qur’aan namun tidak melebihi/melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya” [HR. Al-Bukhaariy].

Berkata Al-Khaththaabiy rahimahullah :

نجد: ناحية المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، وهي مشرق أهلها، وأصل النجد: ما ارتفع من الأرض، والغور: ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور، ومنها مكة، والفتنة تبدو من المشرق، ومن ناحيتها يخرج يأجوج ومأجوج والدجال، في أكثر ما يروى من الأخبار

“Najd adalah arah timur. Dan bagi Madinah, najd-nya sahara/gurun IRAK dan sekelilingnya. Itulah arah timur bagi penduduk Madinah. Asal makna dari najd adalah : setiap tanah yang tinggi; sedangkan ghaur adalah setiap tanah yang rendah. Seluruh wilayah Tihaamah adalah ghaur, termasuk juga Makkah. Fitnah muncul dari arah timur; dan dari arah itu pula akan keluar Ya’juuj, Ma’juuj, dan Dajjaal sebagaimana terdapat dalam kebanyakan riwayat” [I’laamus-Sunan, 2/1274].

Dalil-dalil dan penjelasan ulama di atas sangatlah jelas, bahwa fitnah akan muncul dari arah timur yang di Najd pedalaman Irak. 

Masih percayakah dengan tuduhan dan fitnahan bahwa najd itu di Arab Saudi, tempat kelahiran Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah, setelah jelas dalil dan perkataan ulama? 

Hanya pengikut hawa nafsu yang tidak menerima dalil yang sahih, yang sangat jelas dan terang benderang. 

Saking tidak terima dalil dan perkataan ulama, mereka sodorkan dalil gambar peta dengan panah-panah, kota Madinah ke Najd. Emangnya gambar peta dalil agama? Wis sekarepmu bae lah. Sing penting hujjah telah disampaikan. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

ALLAH ADA DI MANA MANA ?

 4 Padang Pasir di Indonesia yang Mirip ...

* Pertanyaan “Di mana Allah?” lalu dijawab dengan 
* “Sesungguhnya Allah sangat dekat” 
* perlu dijelaskan secara rinci dan lurus sesuai Al Qur'an dan Sunnah 
* agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam akidah.

1️⃣ Akidah Ahlus Sunnah: 
* Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy
* Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa Allah ﷻ berada di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupai makhluk.
📖 Dalil Al-Qur’an


﴿الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
Artinya:
* “(Allah) Yang Maha Pengasih, beristiwa’ di atas ‘Arsy.”
(QS. Thaha: 5)
﴿أَأَمِنتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ﴾
Artinya:
* “Apakah kalian merasa aman terhadap Dzat yang di atas langit…?”
(QS. Al-Mulk: 16)

📖 Dalil Hadits
* Rasulullah ﷺ bertanya kepada seorang budak wanita:
«أَيْنَ اللَّهُ؟»
Ia menjawab: «فِي السَّمَاءِ»
Beliau bersabda: «أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ»
Artinya:
* Rasulullah ﷺ bertanya: “Di mana Allah?”
* Dia menjawab: “Di atas langit.”
* Beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena ia seorang mukmin.”
(HR. Muslim no. 537)
➡️ Ini dalil sangat jelas bahwa pertanyaan “di mana Allah?” adalah pertanyaan yang benar, dan jawabannya adalah Allah di atas langit.

2️⃣ Lalu Apa Makna “Allah Maha Dekat”?
* Kedekatan Allah bukan berarti Allah menyatu, berada di mana-mana, atau turun zat-Nya ke makhluk.
* Ini adalah kedekatan ilmu, pengawasan, pertolongan, dan pengabulan doa.
📖 Dalil “Allah Maha Dekat”
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ﴾
Artinya:
* “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
﴿وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ﴾
Artinya:
* “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)

3️⃣ Penjelasan Ulama Ahlus Sunnah
🔹 Imam Ahmad رحمه الله
الله فوق السماء السابعة على عرشه، وعلمه في كل مكان
Artinya:
* “Allah di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya, dan ilmu-Nya ada di setiap tempat.”
🔹 Imam Ibn Katsir رحمه الله
Dalam tafsir QS. Al-Baqarah: 186:
أي قريب بعلمه من داعيه، سامع لدعائه
Artinya:
* “Maksud ‘dekat’ adalah Allah dekat dengan ilmu-Nya kepada orang yang berdoa, mendengar doa mereka.”
🔹 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله
قرب الله لا ينافي علوه، فهو قريب حقيقة، عالٍ حقيقة
Artinya:
* “Kedekatan Allah tidak menafikan ketinggian-Nya.
Allah dekat secara hakiki dan tinggi secara hakiki.”
🔹 Syaikh Ibn ‘Utsaimin رحمه الله
القرب قرب إجابة، وقرب علم، لا قرب مكان
Artinya:
* “Kedekatan Allah adalah kedekatan dalam mengabulkan dan dalam ilmu, bukan kedekatan tempat.”

4️⃣ Kesimpulan Aqidah yang Lurus
✔️ Allah tinggi di atas ‘Arsy-Nya
✔️ Allah tidak menyatu dengan makhluk
✔️ Allah dekat dengan ilmu, pendengaran, penglihatan, dan pertolongan-Nya
✔️ Mengatakan “Allah di mana-mana” adalah keliru dan menyelisihi manhaj salaf

📌 Ringkasannya:
* Allah di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya
* Namun Allah dekat dengan hamba-Nya dengan ilmu dan pengabulan doa

Wallahu a'lam

Share:

AMALAN BID'AH TIDAK AKAN DITERIMA

Unta Mesin Padang Pasir yang ...

Berbagai inovasi, kreatifitas, modifikasi dan perkara baru dalam beragama terus bermunculan dan berkembang biak, padahal agama ini telah sempurna, tidak perlu lagi ditambah atau dikurangi.

Allah Ta'ala berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا}

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku­ridai Islam jadi agama bagi kalian, (QS. Al-Maidah: 3)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

قال علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس قوله : ( اليوم أكملت لكم دينكم ) وهو الإسلام ، أخبر الله نبيه صلى الله عليه وسلم والمؤمنين أنه أكمل لهم الإيمان ، فلا يحتاجون إلى زيادة أبدا ، وقد أتمه الله فلا ينقصه أبدا ، وقد رضيه الله فلا يسخطه أبدا

Ali ibnu Abu Talhah rahimahullah  meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu sehubungan dengan firman-Nya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian. (QS. Al-Maidah: 3); Yakni agama Islam. Allah Ta'ala memberitahukan kepada Nabi-Nya dan orang-orang mukmin bahwa Dia telah menyempurnakan Islam untuk mereka, karena itu Islam TIDAK MEMERLUKAN TAMBAHAN LAGI SELAMANYA.  Allah telah mencukupkannya dan tidak akan menguranginya untuk selamanya. Dia telah rida kepadanya, maka Dia tidak akan membencinya selama-lamanya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Berkata Imam Malik rahimahullah, 

مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا

"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu BID'AH, dia melihatnya sebagai suatu KEBAIKAN, maka dia telah menuduh Muhammad menghianati risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl). 

Segala sesuatu dari amalan bid'ah, tidak akan diterima amalannya. Sudah berlelah-lelah, bercapek-capek, menghabiskan waktu dan harta, ternyata tidak diterima amalannya. 

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka dia akan tertolak.” [Hadits Riwayat Muslim ].

Berkata Imam Nawawi rahimahullah,

فيه دليل على أن العبادت من الغسل والوضوء والصوم والصلاة اذا فعلت خلاف الشرع تكون مردودة على فاعلها.  شرح الأربعين للنووي.
 
Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa semua bentuk ibadah baik mandi, wudhu, puasa, dan shalat, apabila dikerjakan tidak sesuai dengan ketetapan syariat (Islam) maka amalan ibadah itu tertolak dari pelakunya. (Syarah Arbain Lin Nawawi). 

Dan berkata Imam Nawawi rahimahullah,

وهذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الإسلام ، وهو من جوامع كلمه صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في رد كل البدع والمخترعات

Hadits ini adalah kaedah yang amat penting dari kaedah Islam dan merupakan kalimat yang singkat namun sarat makna dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Hadits ini tegas mengatakan membantah setiap perbuatan bid'ah yang tidak ada tuntunannnya".
(Syarh Shahih Muslim). 

Berkata Imam Ibnu Daqiiqil ‘Ied rahimahullah :

هذا الحديث قاعدة عظيمة من قواعد الدين وهو من جوامع الكلِم التي أوتيها المصطفى صلى الله عليه وسلم فإنه صريح في ردّ كل بدعة وكل مخترع. "شرح الأربعين النووية لابن دقيق العيد"
 

Hadits ini merupakan kaidah yang agung di antara kaidah-kaidah Agama, dan merupakan Jawaami’ul Kalim(kalimat yang ringkas dan mudah tapi padat makna) yang diberikan kepada al-Musthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hadits ini pun menunjukkan dengan jelas dalam tertolaknya setiap bid’ah dan perkara-perkara baru (dalam agama). (Syarah Arbain An Nawawiyyah Libni Daqiq Al Aid).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah :

هذا الحديث معدود من أصول الإسلام و قاعدة من قواعده، فإن معناه؛ من اخترعَ من الدين ما لايشهدُ له أصل من أصوله فلا يُلتَفَتُ إليه

“Hadits ini termasuk dari Landasan (inti ajaran) Islam dan salah satu kaidah dari kaidah-kaidah ajaran Islam, karena maknanya ialah: Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam Agama Islam yang tidak memiliki asal dari Ushuulnya (pokok-pokok Islam) maka hal itu tidak diterima. (Fathul Bari).

Oleh karena itu dikatakan amal shaleh, karena amalan itu dilandasi keikhlasan karena Allah dan mengikuti sunnah, bukan penuh dengan bid'ah. 

Allah Ta’ala berfirman :

{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا }

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya sembahan kalian adalah sembahan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya".  (QS. Al Kahfi: 110).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

وَهذانِ ركُنَا العملِ المتقَبَّلِ. لاَ بُدَّ أن يكونَ خالصًا للهِ، صَوابا  عَلَى شريعةِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.

"Dan ini dua rukun amalan yang diterima, yaitu harus ikhlas karena Allah dan harus benar, sesuai dengan syariat (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan Allah Ta'ala berfirman .:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk: 2)

Berkata Al Fudhail bin 'Iyad rahimahullah:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُه. قَالُوا : يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ ؟  قَالَ : إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ خَالِصًا ، وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا ، لَمْ يُقْبَلْ ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ ، وَالصَّوَابُ : أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ. “مجموع الفتاوى” (1/ 333) 

“Yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling benar.” Ada yang bertanya, “Wahai Abu Ali apa yang dimaksud paling ikhlas dan paling benar?”  Al-Fudhail menjawab, “Jika amalan itu ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas maka juga tidak diterima. Amalan yang diterima adalah yang menggabungkan antara ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal karena Allah dan benar adalah SESUAI SUNNAH.” (Majmu’ Fatawa, 3:124)

Berkata Ibnu Qoyyim rahimahullah :

فالعملُ الصالحُ هوَ الْخالِى مِن الرياءِ المُقَيَّدُ بِالسُّنةِ

Maka amal shaleh itu adalah amal perbuatan yang terlepas dari riya’ dan yang terikat dengan SUNNAH. (Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’  202).

Berkata Syekh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

"إصابة السنة أفضل من كثرة العمل، ولهذا قال الله تعالى: ( ليبلوكم أيكم أحسن عملاً ) ولم يقل: أكثر. عملا

Mencocoki sunnah lebih utama dari pada banyaknya amalan, oleh karena itu Allah ta'ala berfirman:

ليبلوكم أيكم أحسن عملا

"Supaya Dia menguji kalian, siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya” (QS. Al Mulk: 2)

Dan (Allah) tidaklah berfirman: yang lebih banyak amalnya. (Shifatush Sholah hal. 169).
[09.38, 11/2/2026] Abu Aish (B Purwantara): Bismillahirrahmanirrahim

Kenapa orang Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy  ? 

Dulu saya sempat heran kenapa orang-orang yang secara akidah adalah Tasawuf menolak Allah Ta'ala beristiwa' diatas Arsy padahal ini disebutkan dalam banyak ayat dalam Al-Qur'an

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Padahal cara memahaminya sama dengan Allah Ta'ala Maha Mendengar dan Allah Ta'ala Maha Melihat, dengan mengakui keduanya bukan berarti kita mengatakan bahwa Allah Ta'ala punya mata dan telinga seperti makhluk, karena Alah Ta'ala tidak serupa dengan apapun, tentang bagaimana Allah Ta'ala Mendengar dan Melihat kita tidak mengetahui, Allahua'lam, hanya Allah Ta'ala yang Mengetahui hal tersebut  sama dengan Allah Ta'ala beeistiwa' diatas Arsy, tentang bagaimana Allah Ta'ala beristiwa' jawabannya sama Allahua'lam, bahkan seperti disebut oleh Imam Maliki menanyakan hal tersebut adalah salah satu ciri Ahlul bid'ah, 
Allahua'lam. 

Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)

Belakangan setelah banyak baca Kitab/buku saya baru paham ternyata orang-orang Tasawuf menolak karena mereka menyakini Dzat Allah Ta'ala bersatu dengan makhluknya, sehingga ada perkataan "Allah Ta'ala ada di hati" atau yang ekstrem mengatakan "Allah adalah Aku dan Aku adalah Allah," 

Bahkan untuk mendukung aqidahnya yang menyimpangnya ada perkataan yang banyak beredar dikalangan mereka orang Tasawuf yakni "Allah ada tanpa tempat"  padahal jelas tidak ada sama sekali dalilnya dari Quran ataupun hadits, 
Allahua'lam. 

------------

Akidah menyimpang kaum Tasawuf

Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud) adalah doktrin tasawuf filosofis yang digagas Ibnu Arabi, menyatakan hanya ada satu wujud hakiki yaitu Allah, sedangkan alam semesta adalah manifestasi atau penampakan (tajalli) dari sifat-sifat-Nya. Konsep ini menekankan bahwa wujud makhluk tidak mandiri dan pada hakikatnya menyatu dengan wujud Tuhan. 

Berikut adalah poin-poin penting mengenai Wahdatul Wujud:

Pencetus dan Tokoh: Dikembangkan oleh Ibnu Arabi (1165-1240 M) dan dipopulerkan oleh muridnya, Sadr al-Din al-Qunawi. 

Di Nusantara, pemikiran ini dipopulerkan oleh Hamzah Fansuri.
Inti Ajaran: Segala yang ada di alam semesta ini pada hakikatnya adalah kandungan atau manifestasi dari Allah Ta'ala Alam semesta bukanlah wujud yang berdiri sendiri, melainkan cermin bagi kesempurnaan Tuhan.

Hubungan Pencipta dan Makhluk: Meskipun sering dianggap panteisme, Wahdatul Wujud menekankan bahwa Tuhan tetap transenden (tertinggi) dan berbeda dari makhluk, namun Dia meliputi seluruh ciptaan-Nya.

Perspektif Sufi & Kontroversi: Sebagian sufi menganggapnya pencapaian tertinggi dalam tauhid. Namun, konsep ini kontroversial dan dikritik oleh sebagian ulama karena dianggap menyamakan Tuhan dengan makhluk (kemusyrikan).

Konsep Terkait: Berkaitan dengan Insan Kamil (manusia sempurna) yang mencerminkan kesatuan dengan Tuhan. 

Wahdatul Wujud BUKANLAH bagian dari akidah dasar Islam, melainkan salah satu pandangan dalam tasawuf mengenai hakikat eksistensi. 

Sumber referensi berbagai sumber.

Share:

TUDUHAN KHAWARIJ TERHADAP ULAMA AHLUSSUNNAH

 Edisi Bantahan 

Air Laut Pasang, Ombak Besar dan Hampir ...

Betulkah surah Az Zumar ayat 3 digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin? Perhatikan ayat yang di maksud, 

Allah Ta'ala berfirman, 

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesunggguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.  (Az Zumar 3).

Surah Az Zumar ayat 3 ini adalah salah satu hujjah yang dipakai para ulama ahlussunnah untuk membantah praktek kesyirikan dari zaman ke zaman. Tidak ada kelompok Khawarij yang menggunakan ayat ini untuk mengkafirkan kaum muslimin. 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

قال قتادة ، والسدي ، ومالك عن زيد بن أسلم ، وابن زيد : { إلا ليقربونا إلى الله زلفى } أي: ليشفعوا لنا ، ويقربونا عنده منزلة .
ولهذا كانوا يقولون في تلبيتهم إذا حجوا في جاهليتهم : " لبيك لا شريك لك ، إلا شريكا هو لك ، تملكه وما ملك " . وهذه الشبهة هي التي اعتمدها المشركون في قديم الدهر وحديثه ، وجاءتهم الرسل صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ، بردها والنهي عنها ، والدعوة إلى إفراد العبادة لله وحده لا شريك له ، وأن هذا شيء اخترعه المشركون من عند أنفسهم ، لم يأذن الله فيه ولا رضي به ، بل أبغضه ونهى عنه

Qatadah, As-Saddi, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) Yaitu agar sembahan-sembahan itu dapat menolong kami dan mendekat­kan kami kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Karena itulah mereka mengatakan dalam talbiyahnya bila melakukan ibadah haji di masa Jahiliah, "labbaika la syarikalaka illa syar'ikan huwa laka tamlikuhu wama malak.” (Kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang kepunyaan-Mu, Engkau memilikinya, sedangkan sekutu-sekutu itu tidak memiliki).

Kekeliruan semacam inilah yang sengaja dilakukan oleh orang-orang MUSYRIK di masa SILAM dan masa SEKARANG. Lalu datanglah kepada mereka para rasul yang menolak keyakinan seperti ini, melarangnya, serta menyeru mereka untuk memurnikan penyebaran hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik dari diri mereka sendiri. Allah tidak mengizinkan hal itu, tidak merestuinya, bahkan murka terhadapnya dan melarangnya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

وأخبر أن الملائكة التي في السماوات من المقربين وغيرهم ، كلهم عبيد خاضعون لله ، لا يشفعون عنده إلا بإذنه لمن ارتضى ، وليسوا عنده كالأمراء عند ملوكهم ، يشفعون عندهم بغير إذنهم فيما أحبه الملوك وأبوه ، { فلا تضربوا لله الأمثال } [ النحل : 74 ] ، تعالى الله عن ذلك .

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa para malaikat yang ada di langit, yaitu para malaikat yang terdekat dan juga malaikat lainnya, semuanya ialah hamba-hamba Allah yang tunduk patuh kepada-Nya; mereka tidak mau meminta syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya terhadap orang yang direstui-Nya. Para malaikat di sisi-Nya tidaklah seperti keadaan para amir di hadapan raja-raja mereka yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) di sisi raja-raja mereka tanpa restu dari raja-raja mereka; raja mereka setuju ataukah tidak, syafaat tetap dilakukan. Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. (An-Nahl: 74).  (Tafsir Ibnu Katsir).

Ayat yang sering digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin adalah ayat 44 dari surah Al Maidah, bukan surah Az-Zumar ayat 3.

Allah Ta'ala berfirman, 

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.  [Al-Mâidah : 44].

Makanya Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata tentang orang-orang khawarij,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ الله عَزَّ وَجَلَّ، وَقَالَ: إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

‘Abdullâh bin ‘Umar  Radhiyallahu anhu memandang Khawarij sebagai sejelek-jelek makhluk Allâh Azza wa Jalla dan dia mengatakan, ‘Mereka beranjak menuju ayat-ayat tentang orang-orang kafir, lalu menerapkan pada orang-orang yang beriman “ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari].

Maka tidak secara langsung, ini tuduhan dan fitnahan yang sangat keji kepada ulama-ulama ahlussunnah yang banyak membawakan dalil az zumar ayat 3 tentang perilaku kesyirikan dari zaman dahulu sampai sekarang di kitab-kitab mereka dan di ceramah-ceramah mereka sebagai orang-orang khawarij.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

TUDUHAN KHAWARIJ TERHADAP ULAMA AHLUSSUNNAH

 Edisi Bantahan 

10.000+ Foto Ombak Laut Terbaik · Unduh ...

Betulkah surah Az Zumar ayat 3 digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin? Perhatikan ayat yang di maksud, 

Allah Ta'ala berfirman, 

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesunggguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.  (Az Zumar 3).

Surah Az Zumar ayat 3 ini adalah salah satu hujjah yang dipakai para ulama ahlussunnah untuk membantah praktek kesyirikan dari zaman ke zaman. Tidak ada kelompok Khawarij yang menggunakan ayat ini untuk mengkafirkan kaum muslimin. 

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

قال قتادة ، والسدي ، ومالك عن زيد بن أسلم ، وابن زيد : { إلا ليقربونا إلى الله زلفى } أي: ليشفعوا لنا ، ويقربونا عنده منزلة .
ولهذا كانوا يقولون في تلبيتهم إذا حجوا في جاهليتهم : " لبيك لا شريك لك ، إلا شريكا هو لك ، تملكه وما ملك " . وهذه الشبهة هي التي اعتمدها المشركون في قديم الدهر وحديثه ، وجاءتهم الرسل صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين ، بردها والنهي عنها ، والدعوة إلى إفراد العبادة لله وحده لا شريك له ، وأن هذا شيء اخترعه المشركون من عند أنفسهم ، لم يأذن الله فيه ولا رضي به ، بل أبغضه ونهى عنه

Qatadah, As-Saddi, dan Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya: melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) Yaitu agar sembahan-sembahan itu dapat menolong kami dan mendekat­kan kami kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Karena itulah mereka mengatakan dalam talbiyahnya bila melakukan ibadah haji di masa Jahiliah, "labbaika la syarikalaka illa syar'ikan huwa laka tamlikuhu wama malak.” (Kupenuhi seruan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu yang kepunyaan-Mu, Engkau memilikinya, sedangkan sekutu-sekutu itu tidak memiliki).

Kekeliruan semacam inilah yang sengaja dilakukan oleh orang-orang MUSYRIK di masa SILAM dan masa SEKARANG. Lalu datanglah kepada mereka para rasul yang menolak keyakinan seperti ini, melarangnya, serta menyeru mereka untuk memurnikan penyebaran hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik dari diri mereka sendiri. Allah tidak mengizinkan hal itu, tidak merestuinya, bahkan murka terhadapnya dan melarangnya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Dan berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

وأخبر أن الملائكة التي في السماوات من المقربين وغيرهم ، كلهم عبيد خاضعون لله ، لا يشفعون عنده إلا بإذنه لمن ارتضى ، وليسوا عنده كالأمراء عند ملوكهم ، يشفعون عندهم بغير إذنهم فيما أحبه الملوك وأبوه ، { فلا تضربوا لله الأمثال } [ النحل : 74 ] ، تعالى الله عن ذلك .

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa para malaikat yang ada di langit, yaitu para malaikat yang terdekat dan juga malaikat lainnya, semuanya ialah hamba-hamba Allah yang tunduk patuh kepada-Nya; mereka tidak mau meminta syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya terhadap orang yang direstui-Nya. Para malaikat di sisi-Nya tidaklah seperti keadaan para amir di hadapan raja-raja mereka yang dapat memberikan syafaat (pertolongan) di sisi raja-raja mereka tanpa restu dari raja-raja mereka; raja mereka setuju ataukah tidak, syafaat tetap dilakukan. Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah. (An-Nahl: 74).  (Tafsir Ibnu Katsir).

Ayat yang sering digunakan oleh orang-orang Khawarij untuk mengkafirkan kaum muslimin adalah ayat 44 dari surah Al Maidah, bukan surah Az-Zumar ayat 3.

Allah Ta'ala berfirman, 

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.  [Al-Mâidah : 44].

Makanya Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata tentang orang-orang khawarij,

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ الله عَزَّ وَجَلَّ، وَقَالَ: إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

‘Abdullâh bin ‘Umar  Radhiyallahu anhu memandang Khawarij sebagai sejelek-jelek makhluk Allâh Azza wa Jalla dan dia mengatakan, ‘Mereka beranjak menuju ayat-ayat tentang orang-orang kafir, lalu menerapkan pada orang-orang yang beriman “ [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari].

Maka tidak secara langsung, ini tuduhan dan fitnahan yang sangat keji kepada ulama-ulama ahlussunnah yang banyak membawakan dalil az zumar ayat 3 tentang perilaku kesyirikan dari zaman dahulu sampai sekarang di kitab-kitab mereka dan di ceramah-ceramah mereka sebagai orang-orang khawarij.

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

CLICK TV DAN RADIO DAKWAH

Murottal Al-Qur'an

Listen to Quran

Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Translate

INSAN TV

POPULAR

Arsip Blog

Cari